JALAK LAWU
by indrihr • 21/09/2026 • Uncategory • 0 Comments
Saya pernah mendaki beberapa gunung tetapi ke Lawu baru kali ini. Yang paling menarik saat kami diikuti Jalak Lawu. Kata teman saya, juga para pendaki lain, Jalak Lawu memang biasa menuntun pendaki yang tersesat. Benarkan informasi tersebut? (Elissa, Yogyakarta).
Sdri. Elissa, sebutan jalak lawu sebenarnya salah kaprah. Sebab burung ini bukan famili (suku, keluarga) jalak (Sturnidae), melainkan famili Anis (Turdidae). Jadi jalak lawu masih satu famili dengan burung piaraan anis merah, Geokichla citrina; dan anis kembang, Zoothera interpres. Sedangkan dengan jalak suren, Sturnus contra dan jalak bali, Leucopsar rothschildi malah beda famili dengan jalak lawu. Tidak jelas mengapa burung famili Anis ini disebut sebagai jalak. Nama daerah bahkan nama nasional memang tidak bisa dijadikan acuan secara global. Itulah sebabnya diperlukan nama latin dengan klasifikasinya.
Karena burung keluarga Anis ini hanya terdapat di gunung disebutlah sebagai anis gunung, the Island Thrush. Nama latinnya Turdus poliocephalus. Spesies anis gunung terdiri dari 51 subspesies dengan sebaran di seluruh Kepulauan Indonesia, Malaysia, Filipina, Taiwan, Papua Nugini dan Australia. Salah satu subspesies anis gunung itu bernama latin Turdus poliocephalus stresemanni, yang hanya terdapat di Gunung Lawu, hingga disebut dengan nama salah kaprah “jalak lawu; kadang “jalak gading”. Tidak jelas dari mana asal-usul sebutan jalak lawu dan jalak gading bagi burung ini.

Memang benar jalak lawu sering mengikuti pendaki tetapi bukan berarti mengawal agar para pendaki itu tidak tersesat seperti yang selalu diceritakan secara lisan dari generasi ke generasi. Menurut cerita lisan tersebut, jalak lawu merupakan penjelmaan Wongso Menggolo, pengawal pribadi Prabu Brawijaya V, raja terakhir Kerajaan Majapahit versi dongeng, yang menghilang (moksa) di Hargo Dalem, Gunung Lawu. Disebut versi dongeng, sebab dalam ilmu sejarah raja terakhir Majapahit itu Dyah Raṇawijaya dengan nama lengkap Paduka Sri Maharaja Sri Wilwatiktapura-Janggala-Kaḍiri Girindhrawardhana Ranawijaya.
Sampai sekarang tempat menghilangnya Brawijaya V yang disebut Hargo Dalem ramai didatangi peziarah dari berbagai tempat. Terlebih tiap tanggal 1 Suro Hargo Dalem akan menjadi tujuan para peziarah termasuk pemilik perusahaan rokok terkenal yang datang pakai helikopter. Para peziarah percaya bahwa di dalam Cungkup Hargo Dalem itulah Brawijaya V dimakamkan. Apabila Hargo Dalem menjadi tujuan para peziarah, Hargo Dumilah yang merupakan puncak tertinggi gunung Lawu, 3.265 meter dpl. menjadi tujuan utama para pendaki pelajar dan mahasiswa.
Para peziarah dan pendaki Gunung Lawu tidak perlu kesulitan logistik sebab sejak 1980an Mbok Yem membuka Warung dekat Hargo Dalem. Warung ini fenomenal karena buka non stop 24 jam sepanjang tahun dan hanya libur saat lebaran sampai Mbok Yem meninggal pada 23 April 2025. Meskipun berada di puncak gunung harga minuman dan makanan berupa nasi pecel dan telur ceplok di warung Mbok Yem tetap sama dengan harga di warung bawah. Keberadaan warung Mbok Yem dimungkinkan karena tak jauh dari lokasi tersebut terdapat Sendang Drajat yang saat kemarau panjang sekalipun tidak pernah kering.
Konon, para peziarah dan pendaki Gunung Lawu jarang ada yang tersesat sampai meninggal karena selalu dituntun oleh burung jalak lawu yang sebenarnya jelmaan Wongso Menggolo. Meski sudah berubah menjadi burung, sebagai pengawal Brawijaya V Wongso Menggolo tetap merasa bertanggungjawab terhadap keselamatan para pendaki yang akan berziarah ke tempat junjungannya moksa. Padahal sebenarnya burung itu mengikuti pendaki untuk mendapatkan sisa makanan yang terbuang. Anis gunung merupakan burung pemakan segala (omnifora) yang mengonsumsi serangga, dan buah-buahan, dan juga sisa-sisa makanan para pendaki.
Di semua gunung, spesies Turdus poliocephalus selalu berperilaku menampakkan diri ke para pendaki. Tujuannya bukan untuk membimbing agar pendaki tidak tersesat melainkan ingin mendapatkan remah-remah makanan bekal para pendaki. Anis gunung di Jawa Barat Turdus poliocephalus fumidus juga selalu menguntit pendaki Gunung Gede Pangrango dan Ciremai. Di Jawa Tengah Turdus poliocephalus javanicus, selalu membuntuti pendaki Gunung Slamet, Sindoro, Sumbing, Merbabu dan Merapi. Di Jawa Timur Turdus poliocephalus whiteheadi akan unjuk diri ke para pendaki Arjuna Welirang dan Semeru.
Tetapi yang paling sering menampakkan diri ke para pendaki memang hanya jalak lawu. Pertama karena dibanding gunung lain, Lawu paling banyak didaki terutama pada tanggal 1 Suro. Kedua hutan di gunung Lawu yang didominasi cemara gunung, Mountain Ru, Casuarina junghuhniana mudah sekali terbakar karena seluruh bagian tanaman mengandung terpentin. Dampaknya, jalur pendakian lewat Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu lebih banyak yang terbuka hingga anis gunung lebih sering dan lebih lama terlihat. Di jalur pendakian Gunung Gede Pangrango yang berhutan rapat anis gunung sulit terlihat. # # #
Artikel pernah dimuat di Kontan Pagi
Foto F, Rahardi.
.
