• BUAH FICUS PUNCTATA

    by  • 12/10/2026 • Uncategory • 0 Comments

    Beberapa tahun silam saya membeli tanaman hias Ficus punctata dan saya tanam dirambatkan ke tembok. Ternyata tanaman rambat ini berbuah cukup besar dengan warna merah yang menarik. Apakah buah Ficus ini bisa dimakan? (Zohrah, Jakarta).

    Sdri. Zohrah, Ficus punctata memang tanaman hias populer tetapi populernya justru di luar Indonesia. Padahal Ficus punctata tumbuhan asli Indonesia yang masih mudah dijumpai di hutan-hutan. Waktu saya tracking naik Gunung Payung dari Pos Cibunar, pantai selatan Taman Nasional Ujung Kulon, ketemu Ficus punctata dengan buahnya yang cukup mencolok tumbuh di ketinggian tajuk pohon yang dirambatinya. Untunglah saya membawa kamera dengan zoom sampai 1.400 mm, hingga bisa memotretnya dengan cukup jelas.

    Orang-orang Eropa, Amerika dan Jepang senang Ficus punctata karena bentuk daunnya unik. Selain itu juga mudah tumbuh dan bandel. Daya adaptasinya terhadap suhu, kelembapan udara dan intensitas sinar matahari juga tinggi. Ficus punctata bisa hidup di dataran rendah sampai 1.700 meter dpl. Sebab habitat aslinya mulai dari dataran rendah kawasan tropis yang panas dan lembap, sampai ke Taipei (Taiwan, koordinat 25º LU) dan Thakurgaon (Bangladesh, koordinat 26º LU). Jadi wajarlah Ficus punctata bisa hidup di Eropa, Amerika dan Jepang.

    Dalam Bahasa Inggris Ficus punctata disebut Climbing Fig, Dotted Climbing Fig, the Mandarin Orange Fig. Di Indonesia Ficus punctata disebut ki batara. Ficus punctata memang tumbuhan asli Asia Tenggara termasuk Indonesia kecuali Papua; sampai ke Bangladesh dan Taiwan. Meskipun tumbuhan asli Indonesia, Ficus punctata tak sepopuler dolar rambat, daun dolar, creeping fig, climbing fig, Ficus pumila yang justru berasal dari China, Korea dan Jepang. Tembok-tembok pagar halaman di kota-kota besar di Indonesia banyak tertutup oleh dolar rambat.

    Fenomena ini seperti sebuah pepatah: Nabi tidak dipercaya di negeri sendiri. Ficus punctata yang tumbuh di hutan-hutan Pulau Jawa disukai penggemar tanaman hias di Eropa, Amerika dan Jepang. Sebaliknya orang-orang Jakarta justru lebih suka menghias tembok halaman rumahnya dengan Ficus pumila yang justru berasal dari China, Korea dan Jepang. Sdri. Zohrah, dalam hal ini Anda termasuk kekecualian karena menanam Ficus punctata di tembok halaman rumahnya dan bisa berbuah yang tampak mencolok dibanding buah Ficus pumila.

    Buah Ficus punctata hanya edible untuk primata seperti orangutan, wau-wau, musang, dan burung terutama enggang. Manusia tak pernah diketahui mengonsumsinya karena bagian dalam buah berbiji banyak dan kelat (sepet). Meskipun tampak dari luar penampilan buah Ficus punctata sangat menarik, dengan kulit buahnya berwarna kemerahan. Manusia yang sedang berada di hutan akan memilih buah-buahan yang lebih enak seperti burahol, nangka, dan bendo. Saat sedang musim, tiga jenis buah ini jarang bisa bertahan sampai masak dan selalu habis dimakan primata.

    Selain Ficus punctata, buah beringin pencekik, Strangler fig, Ficus annulata; karet kebo, Indian rubber fig, Ficus elastica; kiara gambir, brown-woolly fig, Ficus drupacea; juga disukai burung, primata dan musang. Meski ada bijinya, daging buah tiga jenis ficus ini juga cukup tebal, dan rasanya relatif manis. Terlebih buah kiara gambir atau karet bulu yang berukuran cukup besar meskipun tidak sebesar buah Ficus punctata; sangat disukai burung, primata dan musang. Satwa liar inilah yang membantu penyebaran spesies Ficus ini.

    Semua buah budidaya berasal dari hutan. Apabila buah hutan itu enak, pasti akan segera ditanam di desa-desa di sekitar hutan sebagai tanaman buah, kemudian menyebar ke kawasan pemukiman lain hingga tanaman buah yang awalnya liar itu berubah menjadi tanaman budidaya. Perubahan dari tanaman liar menjadi tanaman budidaya ini disebut sebagai domestikasi. Kalau ada buah hutan yang tidak dibudidayakan manusia, berarti buahnya tidak disukai manusia. Termasuk ki batara, Ficus punctata ini.

    Buah ara, tin, Ficus carica; banyak tumbuh liar di Israel dan disebut-sebut dalam Kitab Suci Agama Yahudi. Buah ini justru termasuk tumbuhan yang pertama dibudidayakan di Timur Tengah sekitar 11.400 tahun yang lalu. Budidaya buah ara/tin justru lebih awal dibanding gandum, jelai dan kacang-kacangan. Sama dengan Ficus punctata dan Ficus pumila; Ficus carica juga disukai bukan di negeri asal-usulnya. Dalam Injil Matius 21:19 bahkan disebutkan Yesus mengutuk pohon ara.

    Sebaliknya di Jazirah Arab yang bukan habitat asli Ficus carica; buah ini dibudidayakan bahkan dimuliakan karena disebut dalam Al-Qur’an pada Surah At-Tin ayat 1. Sebagai buah kawasan gurun, buah tin mengandung gula 16 gram per 100 gram buah segar, setara dengan 74 kalori. Sinar matahari gurun dengan kalori sangat tinggi (860 kcal per jam) membuat buah tin sangat manis. Ketika ditanam di Indonesia dengan intensitas sinar matahari 1/1000 sinar matahari gurun, buah tin menjadi kecil-kecil dan hambar. # # #

    Artikel pernah dimuat di Kontan Pagi
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *