BERKAH KAYU JARAN BAGI PETANI ANGGUR DI BALI
by indrihr • 26/10/2026 • Uncategory • 0 Comments
Dua perusahaan produsen minuman anggur (wine) di Bali mengandalkan produk mereka dari Kecamatan Seririt dan Gerokgak, Kabupaten Buleleng. Di sini para petani menggunakan kayu pohon kuda (kayu jaran) sebagai tiang pancang untuk rambatan anggur.
Sejak 1930 sampai sekarang, Kecamatan Seririt dan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali; merupakan sentra anggur terbesar dan terbaik di Indonesia. Dulu para pedagang memasarkan anggur bali Alphonso Lavalle dan anggur kediri kuning, Moscato Giallo sebagai anggur buah dan tidak laku. Pertama, anggur bali dan kediri kuning dari Buleleng kalah dari anggur impor. Kedua, sebenarnya anggur bali dan kediri kuning, keduanya spesies Vitis vinifera, merupakan tipe anggur wine (anggur untuk dibuat minuman beralkohol), bukan tipe anggur buah (table grapes). Selain dua tipe itu ada lagi tipe anggur untuk dikeringkan menjadi kismis.
Bali Utara memang sangat cocok untuk anggur, terutama anggur bali dan kediri kuning. Kawasan itu berudara kering (kelembapan udara rendah), panas, tetapi air tanah dangkal. Nutrisi berupa bahan organik dari Pegunungan Taman Nasional Bali Barat melimpah. Angin laut yang di Probolinggo terhalang Pulau Madura, di Bali Utara bisa lepas bebas menerpa daratan. Kondisi ini membuat agroklimat Seririt dan Garokgak sangat cocok bagi anggur. Kondisi agroklimat ini diketahui oleh Belanda, hingga 1930 mereka mendatangkan berbagai kultivar anggur ke Buleleng untuk ditanam para petani.
Tahun 1950 ketahuan bahwa dari berbagai kultivar yang didatangkan Belanda tersebut, Alphonso Lavalle paling cocok dengan agroklimat setempat hingga bisa bertahan hidup dan cukup produktif. Dekade 1980, para petani mulai membudidayakan Alphonso Lavalle. Melalui SK Menteri Pertanian RI Nomor 857/Kpts/TP.240/12/1985, Pemerintah Indonesia resmi melepas (release) Alphonso Lavalle sebagai kultivar unggul nasional dengan nama anggur bali. Selain anggur bali, di Buleleng juga berkembang anggur kediri kuning, yang dilepas Menteri Pertanian RI melalui surat keputusan (SK) No. 361/Kpts/LB.240/6/2004, tanggal 2 Juni 2004.

Beda dengan Alphonso Lavalle yang jelas asal-usulnya, kediri kuning hanya disebut sebagai BS 88 atau anggur belgia, tanpa menyebut kultivar aslinya. Nama kediri kuning disematkan ke kultivar ini karena ketika diintroduksi pada dekade 1980, banyak dibudidayakan di halaman rumah di kota Kediri, Jawa Timur. Tahun 2010, Sababay Winerry mengirim daun anggur kediri kuning untuk dites DNA di Italia. Hasilnya, kediri kuning identik dengan muskat kuning, Yellow Muscat, Muscato Giallo; yang masih spesies Vitis vinifera. Dua kultivar inilah sekarang yang banyak dibudidayakan petani Buleleng.
Dua Jenis Kayu Jaran
Perkebunan anggur di Eropa dulu menggunakan tiang pancang berupa kayu keras (kayu mati) seperti oak, pinus dan akasia karena kuat dan tahan lapuk. Sekarang lebih banyak digunakan pipa besi atau tiang beton. Beruntunglah para petani anggur di Buleleng, Bali; karena di kawasan ini banyak tumbuh pohon kuda, kayu jaran, kayu jawa, geurundông pageue, santen, reo, Indian Ash Tree, Lannea coromandelica. Kayu jaran banyak tumbuh di kawasan pantai yang kering dan gersang. Ciri khasnya pada musim kemarau merontokkan semua daunnya. Pohon kuda dikenal bandel dan bisa ditanam dari biji maupun setek.
Para petani anggur di Buleleng menggunakan stek kayu jaran hingga biaya tiang pancang menjadi sangat murah. Sebab pohon ini banyak tumbuh di Seririt dan Gerokgak, dua kecamatan sentra anggur di Bali. Selain bisa diperoleh dengan biaya sangat murah, kayu jaran juga awet sebab akan terus hidup bersama tanaman anggur. Yang diperlukan hanya pemangkasan apabila pada musim penghujan tajuknya menjadi terlalu rimbun. Hasil pangkasan bisa menjadi pupuk hijau bagi tanaman anggur. Sebagai rambatan tanaman anggur, di bagian atas direntangkan bambu atau kawat tahan karat berukuran besar.
Tiang pancang merupakan komponen biaya investasi terbesar dalam budidaya anggur. Di Santorini, pulau Vulkanis di lepas pantai Yunani, para petani anggur tidak menggunakan tiang pancang, melainkan melilitkan sulur anggur melingkar hingga berbentuk mirip keranjang. Teknik ini mereka gunakan untuk menghemat biaya tiang pancang dan meredam angin. Di Kepulauan Kanaria, lepas pantai Spanyol para petani anggur menggali lubang dan memagarinya dengan batu agar tanaman anggur aman dari terpaan angin. Di Buleleng angin laut justru menjadi berkah karena mematikan jamur dan bakteri penyebab penyakit anggur.
Selain kayu jaran Indian Ash Tree, ada lagi kayu jaran Mangrove Trumpet Tree, Dolichandrone spathacea. Nama lokalnya: kajeng kapal, kayu pelok, kayu pelumping, kati-kati, ki jaran, pohon tuwi, taring buaya, daun tuwai. Kayu jaran yang ini merupakan tumbuhan mangrove dan tidak ditanam sebagai pohon peneduh tepi jalan. Kalau bunga kayu jaran Indian Ash Tree berbunga kecil-kecil berbentuk dompolan, kayu jaran Mangrove Trumpet Tree berbunga besar berbentuk terompet warna putih. Di Thailand, kayu jaran Mangrove Trumpet Tree dibudidayakan untuk dipanen bunganya sebagai sayuran.
Meskipun sama-sama disebut kayu jaran dalam Bahasa Jawa dan Madura, dalam Bahasa Indonesia kayu jaran Indian Ash Tree disebut pohon kuda. Sedang kayu jaran Mangrove Trumpet Tree disebut kayu kuda. Dua tumbuhan ini bukan hanya beda spesies dan genus, melainkan juga beda suku (famili, keluarga). Pohon kuda suku mangga-manggaan, Anacardiaceae; sedangkan kayu kuda suku sulur terompet, Bignoniaceae. Berkat pohon kuda, para petani anggur di dua kecamatan di Kabupaten Buleleng bisa mendapatkan berkah. Terlebih sejak 1994 ada Hatten dan sejak 2010 ada Sababay penyerap anggur produk petani Buleleng. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
