PERKUTUT LIAR SEMAKIN BANYAK
by indrihr • 05/10/2026 • Uncategory • 0 Comments
Dekade 2000 melihat ada perkutut liar di pepohonan merupakan keberuntungan. Mendengar suaranya pun sangat jarang. Saat merebak wabah flu burung 2005, perkutut ternak di farm dilepas ke alam hingga menjadi liar dan berkembangbiak.
Minat masyarakat untuk memelihara perkutut juga menurun, hingga penangkapan perkutut liar dari alam juga reda. Pada era 2010 yang banyak ditangkap dari alam burung ocehan seperti anis, prenjak dan cinenen karena harga jualnya di atas Rp100.000 per ekor. Masyarakat strata bawah lebih banyak memelihara love bird impor yang murah meriah. Sejak merebaknya flu burung, kontes-kontes perkutut dan burung ocehan juga terhenti. Ketika masyarakat kembali berani memelihara burung, kemeriahan kontes, termasuk kontes perkutut tidak bisa kembali sama seperti sebelum adanya wabah flu burung.
Falsafah Jawa mensyaratkan adanya lima hal untuk bisa dipenuhi seorang berstrata menengah dan atas: “garwa, wisma, turangga, curiga dan kukila” (pasangan hidup, rumah, kuda, keris dan perkutut). Falsafah inilah yang menyebabkan nyaris punahnya perkutut liar di pulau Jawa. Masuknya perkutut impor dari Thailand (perkutut bangkok) pada dekade 1980 telah sedikit meredam penangkapan perkutut liar dari alam. Selain karena populasi perkutut di alam liar juga semakin kecil bahkan nyaris punah. Meskipun disebut perkutut jawa, habitat aslinya tidak hanya sebatas Pulau Jawa.

Habitat asli perkutut jawa, zebra dove, Geopelia striata; tersebar di Pulau Jawa, Bali, Lombok, Sumatera, Semenanjung Malaya, Thailand dan Filipina. Tahun 1922 perkutut Jawa diintroduksi ke Hawaii dan sekarang berkembangbiak sebagai burung liar di kepulauan tersebut. Thailandlah yang pertamakali mengembangbiakkan perkutut jawa hingga harga burung ini turun drastis. Dekade 1990 para penangkar burung di Indonesia yang sebelumnya beternak tekukur dan puter, mulai ikut membudidayakan perkutut. Dampaknya harga perkutut semakin menurun dan penangkapan di alam menjadi terkendali.
Menangkap burung liar dari alam, termasuk perkutut, dilakukan dengan berbagai cara. Pertama menggunakan sangkar yang terbagi dua. Bagian pertama tertutup dan diisi burung betina. Bagian kedua terbuka dengan pintu yang akan otomatis menutup apabila palang di dalam sangkar terinjak kaki burung. Cara lainnya dengan menggunakan jerat dari serabut yang diambil dari pelepah daun aren. Jerat ini dipasang di tanah terbuka dan di tengahnya ditaburkan pakan. Ada lagi yang menangkapnya dengan getah tanaman benda yang sangat lengket hingga kaki perkutut tidak bisa lepas dari getah yang diinjaknya.
Suku Merpati-merpatian
Perkutut termasuk suku merpati-merpatian, Columbidae yang terdiri dari 52 genus dengan 353 spesies. Merpati, punai, tekukur merupakan anggota suku merpati-merpatian. Perkutut, genus Geopelia, terdiri dari lima spesies: perkutut intan, diamond dove, Geopelia cuneata; perkutut jawa, zebra dove, Geopelia striata; perkutut papua, peaceful dove, Geopelia placida; perkutut loreng, barred dove, Geopelia maugeus; dan perkutut australia, bar-shouldered dove, Geopelia humeralis. Dari lima spesies itu, perkutut jawa paling luas sebaran dan populasinya di alam liar. Sekarang bahkan sudah ada di Kalimantan dan Sulawesi.
Perkutut termasuk pemakan biji-bijian, terutama biji rumput. Karenanya perkutut memilih bersarang di tempat yang lapang dan banyak rumputnya, mulai dari 0 meter sampai 1.000 meter dpl. Dalam setahun perkutut akan bertelur, mengeram dan mengasuh anaknya sebanyak enam sampai delapan kali. Sekali bertelur sebanyak dua butir dan biasanya berkelamin jantan serta betina. Masa mengeram 15 hari dan mengasuh anak selama satu bulan. Karena cepatnya perkembangbiakan, dalam rentang waktu 10 tahun sejak perkutut di penangkaran dilepasliarkan, populasi di alam tumbuh dengan sangat cepat.
Sama dengan kutilang dan tekukur, perkutut juga mampu beradaptasi di alam perkotaan. Dari semula makan biji-bijian, di perkotaan perkutut menjadi pemakan sisa-sisa makanan yang tercecer di aspal, semen dan rumput taman. Makanan apa pun akan disantapnya. Tempat bersarang di perkotaan juga tersedia berupa pohon peneduh di tepi jalan dan taman-taman serta bangunan perkantoran. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Yogya dan Surabaya, perkutut liar mudah sekali ditemukan. Kadang sosok burungnya tidak terlihat tetapi suaranya terdengar bersahut-sahutan.
Tak sampai satu dekade sejak wabah flu burung merebak, hobiis perkutut kembali bangkit. Meskipun sudah bisa dibudidayakan secara massal, harga perkutut jantan dewasa tetap di atas Rp100.000 per ekor. Jenis-jenis langka bisa mencapai harga di atas Rp500.000 per ekor tanpa sangkar. Hingga bisnis burung, termasuk perkutut tidak hanya dinikmati para penangkar, melainkan juga perajin sangkar dan asesorisnya berupa tempat pakan/minum. Pakan berupa aneka jenis beras, sorgum dan jewawut juga menjadi bisnis tersendiri. Kontes perkutut juga kembali diselenggarakan di tingkat nasional maupun daerah.
Falsafah “garwa, wisma, turangga, curiga dan kukila” merupakan salah satu petunjuk betapa rumit kultur Jawa. Menikmati suara burung, mestinya tidak perlu dengan cara mengurungnya dalam sangkar sendirian seumur hidup. Idealnya memelihara pasangan perkutut jantan betina dalam kandang yang diletakkan di tanah, hingga bisa berkembangbiak. Lebih ideal lagi membiarkan burung-burung itu hidup di alam bebas. Kalau ingin menikmati suara dan kehadirannya, sediakan pakan di sekitar rumah. Apabila masih tersedia halaman tanamlah pohon buah dan rumput hingga burung akan berdatangan. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
