• ANGGREK BAMBU

    by  • 02/11/2026 • Uncategory • 0 Comments

    Di Batu, Jawa Timur saya berniat membeli anggrek bambu. Bunganya bagus, kata si penjual merawatnya juga gampang. Tetapi anak saya melarang: “Jangan Ma, itu anggrek dataran tinggi. Di Surabaya pasti mati.” (Laura, Surabaya).

    Sdri Laura, Anak Anda itu benar. Anggrek bambu, Bamboo Orchid, Arundina graminifolia, merupakan anggrek dataran tinggi, yang hanya bisa hidup di elevasi 1000 meter dpl, atau lebih. Di Surabaya dengan elevasi 3 – 6 meter dpl, anggrek bambu kemungkinan besar akan segera mati merana. Para pedagang memang biasa mengatakan bahwa anggrek ini bisa hidup di dataran rendah. Karena nanti kalau pun mati, hampir tidak mungkin si pembeli akan datang lagi untuk komplain kepada si pedagang.

    Andaikan ada komplain demikian, si pedagang akan punya banyak alasan untuk membela diri. Bisa karena di lokasi baru kurang air, karena kena penyakit dll. Tanaman hias dataran tinggi yang setelah dibeli dan dibawa pulang ke rumah di dataran rendah mati, bukan hanya anggrek. Mawar juga seperti itu. Sampai sekarang pun masih ada pedagang dengan pikulan atau gerobak dorong membawa tanaman mawar dengan bunganya yang bagus-bagus berkeliling masuk gang-gang sempit di Jabodetabek.

    Pedagang ini akan mengatakan bahwa mawar yang dibawanya cocok hidup di dataran rendah di Jakarta. Kenyataannya, seminggu setelah berada di Jakarta, bunga mawar itu rontok, lalu tanamannya merana dan mati. Banyak tanaman hias dataran tinggi yang memang tidak mungkin hidup di dataran rendah, termasuk anggrek bambu. Paling rendah apabila mau dipaksakan, anggrek bambu hanya bisa hidup di elevasi 700 meter dpl. Itu pun kondisinya tak akan sebaik yang tumbuh di elevasi 1000 meter dpl.

    Kata si pedagang bahwa merawat anggrek bambu gampang memang benar. Bahkan bisa dikatakan anggrek bambu tidak memerlukan perawatan apa pun. Di dataran tinggi, terutama di tempat terbuka yang banyak ditumbuhi rumput tinggi, seperti gelagah, kemungkinan besar terdapat anggrek bambu yang tumbuh liar. Di lokasi wisata di dataran tinggi, misalnya di kawasan Puncak, Lembang, Ciwidey, Bandungan, Tawangmangu, Batu dan Bedugul, sering bisa dijumpai anggrek bambu tumbuh di antara tanaman hias lain.

    Dalam CITES (Convention on International Trade in Endangered Species), anggrek bambu masuk Appendix II, hingga bukan termasuk jenis anggrek langka. Anggrek bambu berhabitat dataran tinggi, sedangkan hobiis anggrek umumnya tinggal di kota besar di dataran rendah. Karenanya peminat anggrek ini juga relatif sedikit. Terlebih lagi anggrek bambu bukan jenis tanaman hias yang bisa menimbulkan prestise (wah), bagi pemiliknya. Saat ini benih anggrek bambu bisa diperoleh dengan harga antara Rp10.000 sampai dengan Rp25.000 per polybag. Sedangkan anggrek dewasa yang sudah ada kenopnya (bakal bunga), berharga Rp100.000 sampai Rp200.000 per tanaman.

    Anggrek bambu termasuk jenis anggrek tanah (terestrial). Yang dimaksud dengan anggrek tanah, bukan berarti punya akar yang akan menembus tanah seperti pohon. Akar anggrek terestrial sebenarnya hanya menempel dan menjalar di permukaan tanah. Jadi sebenarnya anggrek terestrial sama dengan anggrek epifit yang hanya mengandalkan nutrisi dari humus di permukaan tanah. Anggrek bambu tumbuh secara monopodial, yakni lurus ke atas dan bunga akan keluar dari ujung batang utama.

    Ada dua subspesies Arundina graminifolia. Pertama Arundina graminifolia subsp. Caespitosa yang berhabitat asli Asam (India), Sri Lanka, Indochina, Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Kedua Arundina graminifolia subsp. Graminifolia, dengan habitat asli tersebar lebih luas yakni mulai dari India, Nepal, Tibet, Sri Lanka, Bangladesh, Myanmar, Thailand, Kamboja, Vietnam, Laos, China, Taiwan, Filipina, Semenanjung Malaya, Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi sampai ke Maluku.

    Ukuran tanaman, daun dan bunga Arundina graminifolia subsp. Caespitosa lebih kecil dan lebih pendek serta tumbuh merumpun. Sedangkan Arundina graminifolia subsp. Caespitosa tumbuh soliter dengan ukuran batang, daun serta bunga lebih besar dan lebih panjang. Selain lebih kecil, bunga subsp. Caespitosa juga berwarna lebih terang dibanding bunga subsp. Graminifolia. Genus Arundina, suku Anggrek-anggrekan, Orchidaceae; hanya terdiri dari satu spesies tunggal yakni Arundina graminifolia.

    Nama botani Arundina berasal dari kata arundo, Bahasa Yunani yang berarti buluh yang beruas. Ini merujuk pada batang tanaman berupa buluh dengan ruas-ruasnya yang mirip bambu. Itulah sebabnya spesies ini disebut anggrek bambu. Nama epithet graminifolia merupakan gabungan kata gramineus yang berarti rumput dan folium yang berarti daun. Artinya daun spesies anggrek ini tumbuh memanjang dan runcing seperti daun rumput. Anggrek bambu yang tumbuh di antara rumput memang tidak segera kelihatan, kecuali pas ada bunganya. # # #

    Artikel pernah dimuat di Kontan Pagi
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *