TEMPE ALTERNATIF BUKAN KEDELAI
by indrihr • 17/07/2013 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Akibat kekeringan di AS, harga kedelai dunia melambung. Maklum, AS adalah negeri penghasil kedelai terbesar di dunia. Dampaknya, para perajin tempe kita kelimpungan. Sebab sekitar 60% kebutuhan kedelai nasional kita, masih diimpor terutama dari AS.
Lima negeri penghasil utama kedelai dunia adalah 1. AS 90.609.800 (ton), 2. Brasil
68.518.700, 3. Argentina 15.083.204, 4. RRC 15.083.204, dan 5. India 9.810.000. Ini data FAO tahun 2010. Indonesia sebenarnya masih masuk 10 besar penghasil kedelai dunia, dengan produksi sebesar 908.111 ton, dan berada pada ranking 10. Di atas Indonesia ada 9 Bolivia 1.637.000, 8 Uruguay 1.816.800 , 7 Kanada 4.345.300, dan 6 Paraguay 7.460.440.
Dari angka-angka tadi, tampak betapa besar pengaruh gagal panen kedelai di AS, terhadap harga kedelai dunia, yang dampaknya sampai ke parajin tempe di Indonesia. Dalam hal ini perajin tahu tidak terlalu terkena dampak, sebab mereka lebih banyak menyerap kedelai lokal.
Selama ini perajin tempe skala besar lebih senang kedelai impor, sebab volumenya yang besar, tidak akan susut ketika ditumbuhi kapang tempe. Sebaliknya untuk digiling menjadi tahu, kedelai impor akan menghasilkan protein lebih kecil, dengan volume ampas lebih besar, dibanding kedelai lokal. Maka, perajin tahu kita umumnya lebih senang menyerap kedelai lokal, meskipun dengan harga sedikit lebih tinggi. Saat ini, kebutuhan kedelai menurut data Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), sekitar 2,4 juta ton. Dengan produksi nasional tahun 2010 hanya 908.111 ton, maka diperlukan impor sebesar 1.491.889. Prakteknya, data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor kedelai selama 2011 mencapai 2.080.000 ton dengan nilai 1,24 miliar dollar AS (Rp 11,160 triliun).
Protein Nabati Alternatif
Indonesia sebenarnya tidak hanya bergantung pada impor biji kedelai, melainkan juga bungkil, yang sebagian besar berasal dari biji kedelai. Satu-satunya solusi untuk mengatasi hal ini adalah, produksi kedelai nasional harus ditingkatkan. Kendala utamanya ada dua, yakni agroklimat Indonesia yang tropis, tidak memungkinkan untuk menyamai AS, Brasil, Argentina, RRC, dan India yang punya kawasan sub tropis. Kedelai baru akan bisa berproduksi optimal, apabila mendapat sinar matahari selama 17 jam sehari. Di Indonesia, panjang hari terlama hanya sebatas 12 jam. Namun demikian, kualitas kedelai tropis sebagai bahan tahu, dan kecap, jauh lebih baik dibanding kedelai sub tropis. Terlebih dengan kedelai transgenik, yang hanya bersosok besar, namun dengan kandungan protein nabati rendah.
Selama ini, yang dimaksud dengan tempe kedelai adalah biji kedelai kering yang direndam air, digiling hingga kulit biji mengelupas, dan biji terpecah dua. Material ini selanjutnya dikukus sampai masak, didinginkan, dan diberi ragi (kapang, jamur Rhizopus oligosporus, Rhizopus oryzae, Rhizopus stolonifer, dan Rhizopus arrhizus. Kapang Rhizopus menghasilkan miselium berwarna putih, dan kemudian menjadi abu-abu kehitaman. Beda dengan kapang Neurospora sitophila, dan Neurospora intermedia, yang menghasilkan miselium oranye pada oncom. Kedelai pecah berikut kulit biji yang telah diberi ragi, harus dibungkus daun, atau plastik, dan dibiarkan terfermentasi menjadi tempe. Teknologi membuat tempe, merupakan warisan nenek moyang kita, karena sudah disebut-sebut dalam Kitab Centhini yang berlatar belakang kehidupan di Jawa abad 16.
Masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, sebenarnya punya banyak alternatif bahan tempe bukan kedelai. Yang selama ini ada di pasar adalah tempe gembus dan oncom. Namun tempe gembus tetap berbahan baku kedelai (ampas tahu), sementara oncom berbahan baku bungkil kacang tanah. Tempe bukan kedelai yang paling terkenal adalah tempe koro benguk (Mucuna pruriens), yang masih dibuat dan diproduksi di Jawa Tengah dan DIY. Kemudian ada tempe lamtoro (mlanding, petai china, Leucaena leucocephala), tempe gude (Cajanus cajan), tempe kecipir (Psophocarpus tetragonolobus), tempe kara (koro) wedhus, keratok, kratok (Phaseolus lunatus), tempe kara uceng (Lablab purpureus), tempe kacang merah (Phaseolus vulgaris). Selain itu biji trembesi (ki hujan, Albizia saman), saga pohon (Adenanthera pavonina), turi (Sesbania grandiflora), juga sering diolah menjadi tempe oleh sebagian masyarakat di Jawa. Bahkan biji karet (Hevea braziliensis), juga berpotensi diolah menjadi tempe.
Kendala Budi daya
Kendala utama produksi tempe alternatif bukan kedelai, tidak terletak pada faktor penerimaan masyarakat, melainkan ketiadaan bahan baku. Tempe benguk, tempe lamtoro, tempe kecipir, tempe koro, digemari masyarakat, dan hampir tak ada masalah dalam pemasarannya. Produsen tempe tidak berani rutin memroduksi, sebab tak pernah ada pasokan bahan baku secara kontinu, dengan volume yang jelas. Kara, baik kara wedhus maupun kara uceng, dan kecipir, sebenarnya potensial dibudidayakan secara massal, sebab selain bisa dipanen polong tuanya, polong mudanya juga merupakan bahan sayuran. Namun sampai sekarang tidak pernah ada disain agroindustri dari pihak pemerintah, untuk melembagakan agroindutri tempe non kedelai. Disain agropindustri ini sangat penting, sebab para petani memerlukan jaminan pasar, sementara industri tempe juga memerlukan jaminan pasokan bahan baku.
Mimpi swasembada kedelai, hampir tidak mungkin bisa kita realisasikan, bukan sekadar karena faktor agroklimat. Selama korupsi masih menjadi permasalahan utama di negeri ini, maka peluang untuk swasembada kedelai menjadi hampir mustahil. Para importir kedelai yang mengendalikan omset Rp 11,160 triliun, pasti tidak rela kehilangan bisnis mereka. Maka yang mereka lakukan adalah mencegah aparat pemerintah, untuk mewujudkan swasembada kedelai. Pada zaman Orde Baru, sudah ada Insus (Intensifikasi Khusus) Kedelai, kemudian ada Supra Insus. Belakangan dimunculkan program Operasi Khusus (Opsus), dan Program Gema Palagung (Gerakan Mandiri Padi Kedelai Jagung). Namun semua ini dilakukan dengan setengah hati oleh aparat kita, karena importir kedelai tak mau kehilangan rezeki. Padahal lahan sawah nganggur pada musim kemarau terbilang jutaan hektar. Dana CSR yang nganggur banyak, dan petani siap menerima modal itu demi swasembada kedelai. Tapi itu semua tak dijalankan aparat pemerintah, demi amplop dari importir kedelai. # # #
(Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan)

