• MOBILISASI DANA MUDIK LEBARAN

    by  • 22/07/2013 • Lain-Lain • 0 Comments

    Menteri Perhubungan Jusman Safeii Djamal, memperkirakan lebaran tahun 2009 ini, sekitar 27 juta orang akan mudik. Kalau tiap orang akan membelanjakan sekitar Rp 2 juta di kampung halaman mereka, maka akan ada mobilisasi dana sekitar Rp 54 milyar dari kota menuju paydayadvanceusca.com/ desa. Ini merupakan salah satu bentuk pemerataan ekonomi.

    payday loans no bank account

    Pengertian “mudik” secara umum diartikan sebagai kepergian masyarakat kota ke kampung halaman. Hingga yang dimaksud dengan mudik lebaran, tidak harus dari Jakarta ke Jawa Tengah dan Timur, melainkan juga dari Surabaya ke Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Dari Jawa ke Sumatera, tetapi juga dari Sumatera ke Jawa. Sejak dua dekade belakangan ini, mudik juga diwarnai oleh kedatangan para TKI dari luar negeri ke kampung halaman mereka di Jawa, Flores, dan Toraja. Secara nominal, uang yang dibawa oleh para TKI jauh lebih besar dibanding yang dibawa oleh para pemudik lokal dari Jakarta dan kota-kota besar lain di Indonesia.

    Pemudik juga didominasi oleh para pekerja sektor informal. Tukang, kuli bangunan, sopir, pedagang kaki lima, Pekerja Seks Komersial (PSK), project payday scam dan tentu saja para Pembantu Rumah Tangga (PRT). Selain dominan dalam jumlah, para pekerja sektor informal ini juga terkenal membawa uang jauh lebih besar dibanding dengan para karyawan swasta, terlebih para pegawai negeri. Yang dimaksud dengan uang yang mereka bawa, tidak termasuk uang yang dialokasikan sebagai biaya transpor, makan, rekreasi, dan “bagi-bagi” rejeki kepada sanak famili. Uang “khusus” ini biasanya merupakan tabungan, yang sengaja mereka sisihkan untuk dibawa pulang kampung.

    # # #

    Ketika terjadi krisis ekonomi tahun 1998 sampai dengan tahun 2000, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS mencapai Rp 16.000 per 1 dollar AS. Industri otomotif terpuruk. Ketika itulah PT Astra Honda Motor online payday loans melihat fenomena yang menarik. Pasar sepeda motor untuk kawasan tertentu, misalnya Cianjur, Tasikmalaya, dan Indramayu, justru naik dengan cukup tajam. Setelah diadakan survei, ternyata naiknya pasar sepeda motor di kawasan tersebut disebabkan oleh uang para TKI yang dikirim dari luar negeri. Uang para TKI ini tentu tidak hanya dialokasikan untuk membeli sepeda motor, melainkan juga untuk membangun rumah, dan juga untuk modal usaha.

    Meskipun populasi para pemudik TKI, lebih kecil dibanding dengan pemudik “lokal”, namun nilai nominal uang yang mereka bawa jauh lebih banyak. Sebelum mekanisme transfer uang melalui bank, dan teknologi komunikasi sebaik payday loan lenders sekarang ini, surat dan wesel pos menjadi sarana komunikasi dan pengiriman uang apabila seseorang berhalangan untuk mudik lebaran. Sekarang, sarana komunikasi itu demikian murah dan mudah, melalui SMS, bahkan di kecamatan-kecamatan di Gunung Kidul (DIY), dan Wonogiri (Jateng), sudah banyak blogger, hingga komunikasi melalui e-mail, dan chating juga castle payday bisa dilakukan antara “si parantau” dengan “penghuni kampung halaman”.

    Dalam hitungan detik, pengiriman uang juga bisa dilakukan melalui ATM, hingga mobilisasi dana di sekitar Hari Raya Lebaran, bernilai jauh lebih besar dibanding dengan perkiraan berdasarkan populasi para pemudik itu sendiri. Uang yang terkirim melalui transfer, sebab project payday review si perantau tidak bisa mudik, nilainya akan jauh lebih besar dibanding apabila si perantau itu sekalian mudik. Maka di sekitar Hari Raya Lebaran, terjadilah arus pemerataan uang beredar, dari kota-kota besar, ke pedesaan di Indonesia. Desa-desa di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Flores yang sehari-hari sepi, tiba-tiba menjadi ramai di sekitar Lebaran.

    # # #

    Sayangnya, “dendam” kemiskinan justru menjerumuskan para pemudik, dan mereka yang tinggal di kampung halaman itu, untuk berpesta secara berlebihan. Makanan menjadi berlimpah di mana-mana, dan umumnya payday candy bar seragam: ketupat, dan opor ayam, serta aneka biskuit, dan sirup. Makan enak dan banyak, menjadi suatu keharusan bagi para pemudik, dan mereka yang kedatangan pemudik. Mereka yang anggota keluarganya merantau, maupun para pemudik itu sendiri, tidak sekadar ace payday loans berlebihan dalam menyediakan makanan, melainkan juga dalam beberapa hal. Selain pakaian baru, peralatan elektronik (tivi, hp), otomotif (sepeda motor, mobil), dan rumah (dinding tembok, lantai keramik), juga menjadi simbol status.

    Padahal, dana yang akumulasi jumlahnya sangat besar itu bisa payday advance dialokasikan untuk modal usaha yang bisa memajukan kampung halaman http://paydayadvanceusca.com/apply.html mereka. Andaikan para TKI dan perantau asal Flores, NTT, menggalang dana, membentuk koperasi, lalu membuka kebun kopi dan kakao di kampung halaman mereka, maka pelan-pelan populasi TKI akan mengecil. Sebab sebagian di antara mereka bisa bekerja di perkebunan kakao, di kampung halaman mereka sendiri. Ini semua memerlukan manajemen yang tidak sederhana. Hingga sebagian besar dana yang terkumpul selama arus mudik lebaran, akan dihabiskan hanya di sekitar Hari Raya Lebaran itu.

    Dan kemudian terjadilah ironi. Kabupaten Tasikmalaya, yang baru-baru ini terkena bencana gempa bumi, sebagian besar anak mudanya merantau menjadi tukang kredit (mendring), dan perajin kerupuk. Mereka pasti bisa memobilisasi dana untuk mengembangkan kampung halaman mereka payday 2 masks sendiri. Di Kabupaten Tasikmalaya, project payday reviews juga banyak industri kerajinan. Antara lain anyaman daun pandan, mendong, dan bambu, serta bordir. Hasil kerajinan Tasikmalaya ini sebagian besar diekspor. Namun pemodal asinglah yang berperan di sini. Sementara “dana para perantau” tidak pernah bisa mengambilalih para pemodal asing tersebut. (R) # # #

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *