• SALAK GULA PASIR

    by  • 29/07/2013 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Harga salak gula pasir, paling tinggi di antara semua jenis salak di Indonesia, termasuk salak pondoh. Sebab sampai sekarang salak ini belum bisa dibudidayakan secara massal, seperti halnya salak pondoh. Padahal upaya pembenihannya sebenarnya sangat mudah.

    Salak pondoh yang manis tanpa rasa sepet itu, baru dikenal masyarakat pada pertengahan tahun 1980an. Sebelumnya salak ini hanya sebatas dikenal oleh elite masyarakat di Yogyakarta. Bahkan ada yang berpendapat, bahwa salak pondoh dari Kabupaten Sleman ini merupakan hidangan eksklusif Keraton Yogyakarta. Sebab biji salak pondoh, apabila ditanam, akan kembali menjadi salak biasa. Pada pertengahan tahun 1985, seorang petani mencoba “mencangkok” salak pondoh miliknya. Yang disebut mencangkok, sebenarnya hanyalah membersihkan seludang di sekitar tunas yang tumbuh pada batang utama salak pondoh, kemudian menaruh wadah dan media tanam, hingga pada pangkal anakan itu tumbuh akar. Ketika anakan dipisah dari pohon induk, bisa hidup karena pada pangkal batangnya sudah tumbuh akar.

    salak1

    Teknik mencangkok salak pondoh ini berkembang, hingga perbanyakan massal segera bisa dilakukan. Tahun 1990an, salak pondoh berkembang di Banjarnegara, Jawa Tengah. Banjarnegara sebelumnya memang dikenal sebagai penghasil salak banjar, yang berukuran besar-besar, namun rasanya sepet. Di Banjarnegara, salak pondoh menjadi massal, dan berbuah besar-besar seperti halnya salak banjar lama. Kelemahan salak pondoh banjar adalah buahnya cepat rusak. Beda dengan salak pondoh sleman, meskipun berukuran lebih kecil, namun relatif lebih tahan ketika diangkut dan dipasarkan. Maka harga

    salak2

    salak pondoh banjar, selalu lebih rendah dibanding salak pondoh sleman. Sekarang salak pondoh sudah menasional, tetapi sentra salak pondoh terbesar, tetap Kabupaten Sleman DIY, dan Kabupaten Banjarnegara, Jateng.

    # # #

    Kelemahan salak pondoh adalah, agar bisa berbuah harus dipolinasi (diserbukkan) secara manual.

    Bunga betina salak pondoh, harus diberi polen dari bunga jantan salak biasa. Maka, budi daya salak pondoh juga harus menyisipkan salak biasa di antaranya. Tanpa penyerbukan secara manual, salak pondoh tidak akan mau berbuah. Andaikan berbuah, buahnya tidak akan lebat. Sifat salak pondoh ini disebut chasmogamy (penyerbukan terbuka). Beda dengan salak bali, yang bersifat cleistogamy (penyerbukan tertutup, penyerbukan sendiri). Salak pondoh (salak jawa, Salacca zalacca var. zalacca),

    salak3

    memang beda dengan salak bali (Salacca zalacca var. amboinensis), dan juga beda dengan salak padang sidempuan (salak sumatera, Salacca zalacca var. sumatrana). Salak gula pasir adalah salah satu kultivar (klon), salak bali, hingga dalam budi daya, tidak memerlukan penyerbukan buatan seperti halnya salak pondoh.

    Kelemahan salak gula pasir adalah, anakan di sekitar batang utama, tidak sebanyak salak pondoh. Bahkan, batang salak gula pasir, sama seperti halnya salak bali, hampir tidak mengeluarkan tunas. Itulah sebabnya perkembangan salak gula pasir saat ini sangat lamban, tidak secepat salak pondoh. Pikiran petani selama ini adalah, kalau salak gula pasir ditanam dari biji buah salak gula pasir, akan berubah seperti halnya salak pondoh. Selain itu, budi daya salak dari biji juga perlu waktu lebih lama dibanding budi daya dari benih “cangkokan”. Maka pembenihan salak gula pasir selama ini, selalu menggunakan teknik cangkokan seperti halnya salak pondoh. Padahal, dengan sifat tanaman yang cleistogamy, pembenihan dari biji, dijamin tetap akan menghasilkan individu seperti induknya. Meskipun demikian, bunga salak gula pasir yang akan dibuahkan untuk benih, perlu dikerudungi plastik, agar tidak tercemar oleh polen salak lain. Terlebih apabila di kebun salak kita, ditanam berbagai jenis salak.
    salak4

    Pengetahuan seperti ini, tampaknya tidak disampaikan oleh para ahli salak kita ke pembenih salak gula pasir. Hingga sampai sekarang upaya pembenihan jenis salak ini masih tetap memakai teknik cangkok tunas batang. Sebenarnya, sedikitnya tunas pada batang salak gula pasir, bisa diatasi dengan teknologi tetes oli pada pucuk yang dimatikan. Dalam 1st International Symposium on Tropical and Subtropical Fruits, di Kualalumpur, Malaysia 15 – 19 Juli 1996, ada salah satu makalah berisi penelitian perbanyakan salak dari Malaysia. Penelitian ini mencoba mengatasi permasalahan sedikitnya anakan salak. Caranya, kuncup daun salak dicabut, kemudian pada titik tumbuh itu diteteskan oli (oli baru) sebanyak dua tetes. Setelah itu, titik tumbuh akan mati, dan dari batang utama akan bertumbuhan banyak tunas. Dalam penelitian dicoba titik tumbuh salak yang dicabut kuncupnya, ditetesi urea, pestisida, bensin, minyak tanah, dan oli dengan berbagai dosis. Yang paling baik adalah ditetesi oli sebanyak dua tetes.

    # # #

    Dalam Simposium Buah Tropis/Suntropis pertama itu, Indonesia tidak mengirimkan wakilnya. Waktu itu buah-buahan masih ditangani oleh Sub Direktorat Buah, di bawah Direktorat Hortikultura, yang berada di bawah Ditjen Tanaman Pangan. Tetapi dari Indonesia hadir Moh. Reza Tirtawinata selaku pribadi, dan dia membawa pulang hasil penelitian tentang perbanyakan salak ini. Dinas Pertanian Provinsi Bali, pernah diajak ngomong tentang prospek salak gula pasir dan peluang perbanyakan benih dengan teknologi tetes oli ini, akan tetapi sampai sekarang tidak pernah ada realisasi di lapangan. Indikatornya, sampai sekarang salak gula pasir tak bisa berkembang seperti halnya salak pondoh. Moh. Reza sendiri, tidak menekuni tanaman salak, melainkan manggis, bahkan sekarang lebih banyak mengurus pembenihan sawit. Hingga sampai sekarang benih salak gula pasir tetap sulit untuk diperoleh di pasaran.

    Dibanding dengan salak pondoh, salak gula pasir punya beberapa kelebihan. Pertama, daging buah salak gula pasit lebih manis dan lebih kering dibanding salak pondoh, dan salak jawa pada umumnya. Biji salak gula pasir yang merupakan klon salak bali, juga terpisah dari daging buah, hingga mengonsumsinya lebih mudah. Dan yang paling penting, biaya produksi salak gula pasir bisa lebih murah dari salak pondoh, karena tidak memerlukan tenaga kerja polinator. Dilihat dari kelebihan-kelebihan tersebut, diharapkan ke depan para petani akan lebih banyak membudidayakan salak gula pasir dibanding salak pondoh. Kendala saat ini hanyalah faktor benih. Apabila benih salak gula pasir bisa diproduksi massal, melalui teknik tetes oli, maupun dari biji, maka petani salak akan punya peluang baru, mengembangkan salak gula pasir, disamping salak pondoh yang sudah menasional. # # #

    Artikel pernah dimuat di : Kiat Agribisnis Mingguan Kontan, 28 Januari-3 Februari 2013

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *