PELUANG BERKEBUN DURIAN
by indrihr • 29/07/2013 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Puncak musim durian di sekitar DKI Jakarta, akan berlangsung pada bulan Januari 2013. Diduga, impor durian dari Thailand dan Malaysia akan menurun. Sebab di dua negara tersebut, bulan Januari merupakan “paceklik durian”.
Meskipun musim durian di Thailand dan Malaysia berlangsung antara bulan Mei dan Juni, namun dua negeri tersebut telah mampu menyimpan durian mereka dalam cold storage, untuk jangka waktu sampai satu tahun, tanpa kerusakan yang berarti. Kebun durian di dua negeri ini juga tetap ada yang berbuah di luar musimnya. Jadi, meskipun Indonesia sedang panen raya, tetap saja durian impor akan masuk ke negeri kita. Januari dan Februari 2012, adalah panen raya durian di sekitar DKI Jakarta. namun impor durian kita dari Thailand mencapai 206,7 ton, dengan nilai 282.228 dollar AS (Rp 2,5 milyar). Impor durian kita dari dua negeri tersebut, dari Januari – September 2012, menurut Badan Pusat Statistik (BPS) mencapai 18.955 ton, dengan nilai 27.680.685 dollar AS. Kalau dikurs dengan rupiah (1 dollar AS Rp 9.000), nilai impor durian kita selama sembilan bulan, mencapai Rp 249.126.165.000 (Rp 249 milyar).
Ketika menerima kunjungan para petani Indonesia, petani durian di Thailand pasti memberi nasihat begini: “Indonesia harusnya tidak perlu impor durian dari Thailand, sebab kalau Anda menanam durian dari Aceh sampai NTT, Anda akan panen durian sepanjang tahun.” Tampaknya mereka tahu, bahwa musim durian di Aceh dan Sumut pada bulan Mei – Juni, terus berlanjut ke selatan, dan akan berakhir di NTB dan NTT pada bulan Maret – April. Namun demikian, sampai saat ini Indonesia belum punya kebun durian berskala besar. Kebun-kebun durian yang ada baru berskala di bawah 100 hektar, dan jumlahnya kurang dari 10 kebun. Durian yang beredar di pasar Indonesia, berasal dari pohon yang tumbuh di kebun rakyat, bahkan juga dari halaman rumah penduduk.
# # #
Total produksi durian nasional kita pada tahun 2011, menurut BPS mencapai 883.969 ton. Hingga impor dari Januari – September 2012 yang mencapai 18.955 ton, sebenarnya relatif kecil, karena hanya 2,1% dari total produksi durian kita pada tahun 2011. Namun demikian, durian impor, terutama jenis Monthong dari Thailand, selalu tampak mencolok di pasar-pasar swalayan besar, dengan harga yang jauh lebih tinggi dari durian lokal kita. Durian Monthong eks Thailand, pada bulan Mei – Juni mencapai Rp 60.000 –
Rp 80.000 per kg (berikut kulit). Apabila tanpa kulit, harganya Rp 60.000 – Rp 80.000 per juring. Rata-rata durian Monthong eks Thailand berbobot 3 – 4 kg per butir. Durian lokal kita, saat ini bisa dibeli di kakilima dengan harga rata-rata Rp 25.000 per butir. Durian-durian varietas unggul, misalnya durian Matahari, dalam volume sangat terbatas, berharga antara Rp 40.000 – 80.000 per butir.
Rata-rata, durian unggul umur produktif, akan menghasilkan 20 butir buah per pohon. Populasi tanaman per hektar mencapai 100 pohon. Hingga tiap hektar kebun durian umur produktif, akan mampu menghasilkan 2.000 butir buah per tahun. Dengan bobot rata-rata 3 kg, maka volume hasil kebun durian per hektar per tahun mencapai 6 ton. Selama sembilan bulan, volume impor durian kita mencapai 18.955 ton, atau per tahun sekitar 25.000 ton. Volume impor itu baru akan bisa tertutup, apabila Indonesia membuka kebun durian seluas paling sedikit 4.000 hektar. Andaikan bulan Januari 2013 Indonesia benar mampu menanam durian seluas 4.000 hektar, maka baru pada tahun 2018 nanti akan mulai berbuah. Kalau satu keluarga mampu mengelola kebun seluas 10 hektar, maka dari peluang menutup impor durian ini, sebanyak 400 kk, akan bisa menumpang hidup dari komoditas durian.
Meskipun peluang berkebun durian demikian nyata, tetap tidak ada investor yang tertarik mengebunkannya secara luas. Penyebabnya, informasi tentang peluang ini memang tidak pernah sampai ke para investor tersebut. Selain itu pihak bank tidak pernah mau ambil resiko, dengan mendanai investasi kebun buah, termasuk durian. Kemudian sistem agribisnis dan agroindustri buah-buahan, belum tercipta di Indonesia. Jangankan buah-buahan, sebab sistem agribisnis padi pun kita belum punya. Sistem agribisnis, ditandai dengan menguatnya lembaga petani, lembaga permodalan, jalur pasar, serta agroindustri pengolahan. Di Thailand, tidak semua durian dipasarkan segar. Durian-durian muda mereka petik dalam rangka penjarangan, dan hasilnya mereka olah menjadi asinan (pickle). Buah tua yang bentuk serta ukurannya di luar standar, mereka jadikan keripik durian. Buah yang sudah terlanjur masak, mereka olah menjadi lempok.
# # #
Permintaan Thailand agar Indonesia mau mengebunkan durian, bukan sekadar basa-basi. Meskipun merupakan pengekspor durian utama dunia, Thailand tetap masih belum mampu melayani permintaan pasar. Thailandlah satu-satunya negara penghasil durian, yang mampu meyakinkan Dunia Barat, bahwa buah ini tidak “berbau busuk”. Maka Thailand pun mengajarkan kepada orang Eropa dan AS, bagaimana cara makan durian. Di Thailand, durian dikonsumsi dalam keadaan mengkal, sebelum daging buahnya lunak. Jadi daging buah durian kualitas terbaik di Thailand, harus masih renyah seperti kol mentah, tetapi sudah cukup tua. Daging buah durian itu memang sudah manis, tetapi aroma duriannya belum ada. Dengan strategi ini, Thailand berhasil memasarkan durian mereka ke Eropa dan AS, untuk masyarakat setempat. Strategi ini diperlukan, sebab selama ini buah durian sudah terlanjur menjadi “barang haram” bagi pesawat terbang dan hotel bintang, karena faktor aromanya.
Apabila Indonesia mau menanam durian dengan panen raya sekitar bulan Desember – Februari, Thailand akan merasa sangat senang. Apabila volume panen durian kita benar-benar melimpah, mereka akan mampu memenuhi permintaan pasar dunia dari durian Indonesia. Hingga petani durian kita tak perlu mencemaskan daya serap pasar. Namun demikian, itu semua masih merupakan mimpi. Pertama, tidak akan ada perubahan pola pikir yang demikian drastis dalam dunia agribisnis di Indonesia. Hingga durian tetap dianggap sebagai komoditas yang lebih banyak rewelnya dari pada untungnya. Kedua, andaikata benar ada yang mau investasi menanam durian seluas 5.000 hektar, lima tahun ke depan hanya sekadar akan mampu membendung impor durian dari Thailand dan Malaysia. Ekspor durian dengan volume berarti, baru akan terjadi kalau ada pembukaan kebun durian minimal seluas 10.000 hektar, dan terus diperluas secara rutin paling sedikit 500 hektar per tahun. # # #
Artikel pernah dimuat di : Kiat Agribisnis Mingguan Kontan, 1-6 Januari 2013




