• PELUANG BUDI DAYA ILES-ILES

    by  • 02/09/2014 • Pangan, PERTANIAN • 0 Comments

    Maraknya restoran Jepang di Indonesia, telah memperbesar peluang budi daya umbi iles-iles sebagai bahan konyaku dan shirataki. Selain untuk makanan Jepang, iles-iles juga merupakan sumber glukomanan juga diperlukan bagi dunia industri.

    Di Jepang, Korea, RRC, dan Taiwan, glukomanan untuk bahan konyaku, shirataki, dan berbagai keperluan industri, diproduksi dari umbi konjak (devil’s tongue, voodoo lily, Amorphophallus konjac). Umbi konjak merupakan genus Amorphophallus yang hanya tumbuh di kawasan sub tropis. Di Indonesia ada tiga genus Amorphophallus yang bisa dikonsumsi. Pertama suweg (elephant foot yam, Amorphophallus paeoniifolius); kedua walur atau acung (Amorphophalus variabilis); dan ketiga porang (Amorphophalus muelleri). Suweg berumbi paling besar, dengan daging umbi berwarna kuning.

    iles-iles-a

    Umbi suweg biasa dikonsumsi dengan dikukus. Kandungan glukomanan pada umbi suweg paling kecil, yakni kurang dari 5%. Walur berumbi  putih, hingga sering disebut sebagai iles-iles putih. Kadar glukomanan walur 30%. Umbi porang berwarna jingga (oranye), dan umbi inilah yang dikenal sebagai iles-iles. Meski warna umbinya jingga, kadang-kadang para pedagang menyebutnya sebagai iles-iles kuning. Kadar glukomanan umbi porang paling tinggi, yakni lebih dari 50%. Selama ini komoditas iles-iles porang sudah dibudidayakan di bawah tegakan hutan jati, atau secara tumpangsari dengan komoditas lain terutama jagung.

    Sentra budi daya iles-iles terkonsentrasi di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, terus ke timur sampai ke Kabupaten Blitar di Jawa Timur. Selain dibudidayakan, iles-iles juga tumbuh liar di hutan, atau kebun di bawah tegakan pohon dan di antara rumpun bambu. Sebagian dari umbi iles-iles yang dipasarkan, berasal dari tumbuhan liar ini. Meskipun ada varietas walur berkadar glukomanan sampai lebih dari 40%, sampai sekarang belum ada petani yang bersedia membudidayakannya. Para petani lebih senang membudidayakan iles-iles porang, karena harganya lebih tinggi, dan ukuran umbi lebih besar.

    # # #

    Umbi porang juga punya kelebihan karena menghasilkan umbi kecil di tangkai daunnya. Umbi dari daun ini bisa dijadikan benih. Semua genus Amorphophalus bisa dikembangbiakkan secara vegetatif melalui tunas umbi, maupun secara generatif dengan biji. Iles-iles merupakan tanaman semusim yang tumbuh pada awal musim penghujan, kemudian dorman (masa istirahat) pada awal musim kemarau. Pada saat dorman inilah umbi dipanen. Yang disebut sebagai “batang” iles-iles sebenarnya pelepah daun. Pada umumnya genus Amorphophalus berdaun tiga tangkai yang tumbuh langsung dari pelepah daun. “Batang” genus Amorphophalus berada dalam tanah berupa umbi.

    Dalam masa dorman, daun tanaman akan layu, dan mengering. Itulah tanda bahwa kadar pati pada umbi suweg, dan glukomanan pada porang sudah benar-benar optimal. Apabila umbi tidak dipanen, padahal ukuran sudah optimal, maka pada musim kemarau itu akan keluar bunga. Umbi suweg jarang mengeluarkan bunga, karena biasanya umbi yang sudah tumbuh optimal selalu dipanen. Porang dan walur sangat sering berbunga, dan menghasilkan buah yang menggerombol berwarna hijau di ujung tangkai. Buah akan berubah menjadi kuning dan kemudian merah setelah masak. Buah ini disenangi burung dan juga musang, yang membantu penyebaran spesies ini.

    Salah satu genus Amorphophalus yakni Amorphophalus titanum merupakan tumbuhan dengan rekor bunga paling tinggi, meskipun kalah lebar dari bunga Rafflesia arnoldi. Dua bunga endemik Bengkulu dan Sumatera Barat ini juga sama-sama disebut bunga bangkai, karena saat mekar mengeluarkan aroma busuk untuk menarik perhatian serangga penyerbuk, terutama lalat. Para petani iles-iles pasti biasanya menjual komoditas mereka ke pedagang pengumpul. Oleh pedagang, umbi iles-iles dipasarkan ke produsen keripik iles-iles. Di sini umbi iles-iles dicuci, diiris, dan dijemur sampai kering. Indonesia selama ini masih mengekspor keripik iles-iles ke Singapura, Hongkong, Taiwan, Korea dan Jepang.

    Paling banter kita mengekspor tepung iles-iles kasar, yang belum diekstrak glukomanannya. Di negara-negara pengimpor inilah keripik iles-iles kita diproses lebih lanjut menjadi glukomanan berkadar 90%. Selain untuk bahan konyaku dan shirataki, glukomanan juga merupakan bahan pembantu dalam industri film, kertas, mi instan, dan lem. Dalam industri mi instan, glukomanan membantu meningkatkan kekenyalan adonan, terlebih ketika bahan baku bukan 100% terigu hingga kadar glutennya turun. Para petani biasanya menjual umbi utuh, seharga Rp 2.000 sampai Rp 2.500 per kg. Petani menjual umbi berikut kulit dan tunas utama. Padahal kulit porang selalu penuh tunas, selain tunas utama.

    # # #

    Di perusahaan pengolahan iles-iles, kulit serta tunas utama ini akan terbuang sebagai sampah. Padahal, kulit serta tunas utama akan menghasilkan anakan, serta tanaman baru, yang tahun depan bisa kembali dipanen. Tunas utama malahan bisa diiris berbentuk kerucut, lalu ditanam terbalik (tunas menghadap ke bawah), dan tahun berikutnya tunas ini akan menghasilkan umbi dengan ukuran sama besar dengan umbi sebelumnya. Hingga idealnya, petani mengupas, dan mengambil tunas utama itu langsung di lahan, untuk ditanam kembali di lubang galian.

    Penjualan umbi porang berikut kulit dan tunas utama, merupakan kendala utama produktivitas budi daya iles-iles. Dengan tunas kulit, dan umbi utama daun, diperlukan waktu dua sampai tiga tahun sampai umbi porang berukuran konsumsi (bobot 0,5 – 1 kg). Dengan benih dari biji, diperlukan waktu antara tiga sampai empat tahun untuk menghasilkan umbi konsumsi. Namun dengan benih tunas utama, dalam satu tahun akan bisa dipanen umbi dengan bobot sama. Resikonya, bobot keripik akan sedikit turun, sebab sebagian umbi akan disertakan dalam mengiris tunas utama. Kerugian akibat susutnya bobot keripik, akan diimbangi dengan volume panen yang lebih tinggi pada tahun berikutnya.

    Salah satu kelebihan iles-iles, mampu tumbuh baik di bawah tegakan tanaman lain. Maka selama ini Perum Perhutani membuat program bersama kelompok petani binaan, untuk membudidayakan iles-iles di bawah tegakan tanaman hutan, terutama hutan jati. Bahkan BUMN ini telah merencanakan untuk membangun pabrik glukomanan di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Dengan adanya pabrik glukomanan di Blora, iles-iles yang selama ini diekspor hanya dalam bentuk keripik, bisa diproses lebih lanjut di pabrik ini. Impor glukomanan dari RRC, Jepang, dan Taiwan untuk keperluan industri, juga bisa dihemat, karena menggunakan produk dalam negeri. # # #

    Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan

     

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *