PELUANG BISNIS AROMATERAPI
by indrihr • 22/10/2018 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Di situs penjualan online, berbagai produk lilin aromaterapi, ditawarkan dengan variasi harga mulai dari Rp 10.000, Rp 100.000 sampai Rp 360.000 (per lilin). Lilin aromaterapi bukan dinyalakan untuk penerangan, melainkan untuk mengharumkan ruangan.
Ke dalam lilin aromaterapi, dimasukkan berbagai produk aromatik, yang akan terpancar keluar dan memenuhi ruangan, apabila lilin itu dinyalakan. Variasi harga lilin aromaterapi dari Rp 10.000 sampai dengan Rp 360.000 per lililn, disebabkan oleh bahan lilin, dan jenis aroma yang dimasukkan ke dalamnya. Lilin murah terbuat dari parafin (minyak bumi), sedangkan lilin mahal terbuat dari bahan nabati. Zat aromatik murah terbuat dari bahan sintetis. Meskipun bahan aromatik sintetis, juga berasal dari minyak asiri (bahan nabati). Zat aromatik mahal berupa minyak asiri asli dari bunga, buah, daun, kulit, kayu, dan akar tumbuhan.
Bahan aromatik murah kebanyakan terbuat dari terpentin limbah pulp pinus subtropis. Bahan aromatik dari terpentin murah ini, umumnya digunakan untuk aroma pembersih lantai, cat tembok, dan pengharum ruangan yang disemprotkan ke aliran udara AC secara periodik. Bahan aromatik mahal misalnya minyak mawar, minyak melati, minyak cendana, minyak gaharu, dan minyak safron. Bahan aromatik mahal, biasanya hanya digunakan untuk parfum dengan nilai tinggi. Bahan aromatik ini bernilai tinggi, karena bahan bakunya hanya tersedia dalam volume terbatas, misalnya cendana, gaharu dan safron.
Bisa juga bahan bakunya melimpah, tetapi rendemennya sangat rendah. Rendemen minyak mawar dan minyak melati, hanya sekitar dua permil. Dari satu ton bahan baku, hanya dihasilkan dua kilogram minyak. Lilin aromaterapi seharga Rp 10.000 per batang; terbuat dari bahan parafin, dengan zat aromatik sintetis, biasanya terbuat dari minyak daun cengkih, atau sereh wangi. Dua minyak asiri ini diproduksi massal dengan harga murah, untuk diubah rantai karbonnya hingga tercipta berbagai aroma sintetis. Mulai dari vanilla, mawar, melati, sampai cendana.
# # #
Zat aromatik sintetis pun bisa terbuat dari bahan baku yang sudah bernilai cukup tinggi. Misalnya dari minyak bunga cengkih, lavender, atau kulit jeruk. Lilin aromatik dengan harga Rp 100.000 per batang, bisa berisi zat aromatik sintetis, atau aromatik asli tetapi dari bahan yang sudah diproduksi massal. Lilin aromatik berharga Rp 360.000 per batang, berasal dari lilin nabati, dan berisi zat aromatik asli yang memang sudah berharga tinggi. Yang disebut aromaterapi, adalah upaya penyembuhan penyakit, atau pengembalian kesehatan, melalui pemberian zat aromatik tertentu dalam jangka waktu tertentu.
Upaya ini cukup sulit dilakukan, karena masing-masing individu punya kecenderungan berbeda-beda terhadap zat aromatik yang sama. Meskipun tetap ada zat aromatik tertentu, yang akan berdampak relatif universal dan abadi. Misalnya, aroma melati akan cenderung menenangkan, sementara aroma mawar cenderung membangkitkan semangat/gairah hidup. Zat aromatik ini kemudian dimasukkan ke dalam lilin, karena faktor kemudahan untuk menyebarkannya agar bisa memenuhi ruangan. Sebab membakarnya dalam bentuk tradisional seperti membakar kemenyan, ratus, dupa dan hio cukup merepotkan.
Untuk keperluan aromaterapi, lilin ini antara lain dinyalakan pada saat pasien menjelang tidur. Hingga aroma yang menenangkan, atau menggairahkan; dan diharapkan bisa mendatangkan kesembuhan ini bisa terbawa ke alam bawah sadar si pasien. Dalam tradisi masyarakat tradisional, ada upaya penyembuhan seorang pasien, dengan cara mandi bunga. Air hangat untuk mandi itu, diberi bunga-bungaan, agar muncul aroma tertentu untuk mempercepat kesembuhan si pasien. Dalam masing-masing etnisitas, selalu ada tumbuhan atau bahan lain yang bisa diandalkan untuk menimbulkan kesembuhan/kesehatan.
# # #
Zat aromatik sudah digunakan umat manusia pra sejarah, sampai ke zaman millenial sekarang ini. Semua bangsa dan semua agama besar di dunia selalu menggunakan zat aromatik untuk ritual adat/kepercayaan mereka. Kemenyan, gaharu, cendana; dibakar oleh hampir semua bangsa besar, dan pemeluk agama-agama utama dunia: Hindu, Yahudi, Kong Hucu, Budha, Kristiani, dan Islam. Masyarakat tradisional penganut aliran kepercayaan juga membakar kemenyan. Dan kemudian terjadilah standar ganda yang diterapkan oleh agama-agama besar, terhadap aliran kepercayaan dengan sedikit penganut.
Kalau yang membakar dupa dan hio agama besar, dibenarkan. Ketika yang membakar kemenyan aliran kepercayaan kecil, disalahkan. Zat aromatik untuk aromaterapi, kemudian juga berkembang berasal dari berbagai komoditas. Kopi, teh, dan kakao yang sebelumnya menjadi bahan minuman dan makanan, kemudian juga diambil zat aromatiknya untuk aromaterapi, bahkan juga untuk parfum. Pada prinsipnya, aroma apa pun bisa mendatangkan kesehatan dan kesembuhan. Termasuk aroma-aroma yang untuk ukuran manusia pada umumnya justru dianggap tidak wajar.
Wisatawan Eropa yang menginap di Margoutomo, Kalibaru, Banyuwangi, Jawa Timur, ada yang berlangganan resor dekat kandang sapi, demi aroma pedesaan yang mendamaikan. Seorang sastrawan yang lama menderita sakit, disembuhkan oleh sang istri dengan masakan-masakan tradisional yang dia nikmati semasa anak-anak. Aroma masakan itu ternyata bisa mengembalikan kesehatannya. Maraknya bisnis spa belakangan ini, seyogyanya juga menjadi muara bagi agroindustri minyak asiri di negeri ini. Sebab Bangsa Eropa datang kemari, juga untuk mendapatkan cengkih, salah satu bahan aromatik penting pada masa itu. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Teks Foto:
Mawar Damaskus, Damask rose, Rosa × damascena; bahan minyak mawar dengan Bulgaria sebagai produsen utama dunia. (Foto F. Rahardi)
