• BISNIS KEKERAMATAN DEWADARU

    by  • 13/04/2020 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Nun di Pesarean (makam) Gunung Kawi, Sumbersari, Wonosari, Malang, Jawa Timur; ada pohon keramat dewadaru. Tiap malam Jumat Legi, orang rela duduk semalam suntuk, menunggu jatuhnya daun, bunga, atau buah dewadaru, agar sukses dalam bisnis.

    Padahal yang disebut dewadaru Gunung Kawi, sebenarnya tanaman asam selong, cermai belanda, sianto, surinam cherry, lolita cherry, varmillion cherry, brazilian cherry, cayenne cherry, pitanga, Eugenia uniflora. Tanaman ini berasal dari Amerika Selatan. Dibawa ke Indonesia oleh Bangsa Belanda. Tanaman ini juga ada di mana-mana ditanam masyarakat sebagai perdu hias. Bisa tumbuh baik mulai dari 0 – 1000 meter dpl. Surinam cherry mudah ditanam dari biji. Harga benih di kios tanaman juga “murah meriah”. Tak jelas sejak kapan dan bagaimana asal-usul tumbuhan Amerika Selatan ini bisa dikeramatkan di Gunung Kawi.

    Dewadaru keramat, ternyata tak hanya ada di Gunung Kawi. Di Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah; juga ada tanaman dewadaru yang tak kalah keramatnya. Bedanya dewadaru Gunung Kawi, diharapkan daun, bunga atau buahnya sebagai sarana untuk memperlancar bisnis. Sedangkan dewadaru Karimunjawa yang dianggap keramat justru kayunya. Kayu dewadaru Karimunjawa dibuat tasbih, pipa tembakau/rokok; tongkat dan lain-lain kerajinan. Produk suvenir dari kayu dewadaru ini laris manis, karena disertai cerita tentang manfaat, tuah dan khasiatnya.

    Sedemikian keramatnya dewadaru Karimunjawa, hingga ada larangan untuk membawa keluar kayu dewadaru dari kepulauan tersebut. Kepulauan Karimunjawa berstatus kecamatan, terletak di laut Jawa. Untuk membawa keluar kayu dewadaru, harus menggunakan pesawat, atau kapal laut. Konon, apabila larangan ini dilanggar, pesawat atau kapal laut itu akan mengalami musibah. Karenanya di pelabunan dan bandara Dewadaru, Karimunjawa, ada papan pengumuman untuk tidak membawa keluar kayu dewadaru. Bagaimana kalau suvenirnya? Kayu dewadaru yang sudah jadi suvenir, ternyata aman dibawa keluar.

    Empat Tanaman Dewadaru

    Dewadaru Karimunjawa, ternyata lain dengan dewadaru Gunung Kawi. Ada dua tanaman dengan predikat dewadaru di Karimunjawa. Pertama dewadaru Fagraea elliptica, kedua dewadaru Baccaurea sumatrana. Fagraea elliptica inilah yang sejak awal disebut sebagai dewadaru. Sedangkan Baccaurea sumatrana sebenarnya tanaman buah, masih satu genus dengan menteng, Baccaurea racemosa; dan rambai, Baccaurea motleyana. Baru belakangan ini Baccaurea sumatrana diklaim sebagai dewadaru. Dugaan saya Baccaurea sumatrana diklaim sebagai dewadaru, untuk mengatasi kelangkaan dewadaru Fagraea elliptica.

    Larangan membawa keluar kayu dewadaru dari Kepulauan Karimunjawa, sebenarnya absurd. Sebab Fagraea elliptica dan Baccaurea sumatrana bukan endemik (hanya tumbuh) di Kepulauan Karimunjawa. Sebaran Fagraea elliptica malahan sampai ke Thailand, Semenanjung Malaya dan seluruh wilayah Indonesia, sampai ke Papua. Sebaran Baccaurea sumatrana lebih sempit: Sumatera, Semenanjung Malaya, Seluruh Kalimantan dan Jawa. Tetapi masalahnya bukan soal kayunya, melainkan tempatnya. Tampaknya yang dikeramatkan sebenarnya bukan kayu dewadaru Fagraea elliptica dan Baccaurea sumatrana; melainkan dua jenis kayu itu, yang tumbuh di Karimunjawa.

    Sama dengan dewadaru asam selong. Yang dikeramatkan bukan asam selong sebagai tanaman hias yang ada di mana-mana; melainkan asam selong dewadaru yang tumbuh di Gunung Kawi. Keberadaan tiga jenis dewadaru ini tentu membingungkan. Masih ditambah satu dewadaru lagi, yang lebih lazim disebut pohon nagasari (Sri Lanka ironwood, Indian rose chestnut, Mesua ferrea). Nagasari jarang disebut dewadaru, dan dikenal sebagai kayu sangat keras, dengan berat jenis lebih dari berat jenis air. Masyarakat Jawa juga menganggap keramat nagasari, tetapi tak dikait-kaitkan dengan tempat.

    Buah Komersial

    Di negeri asalnya, Suriname, Guyiana Perancis, Brasil, Uruguay, Paraguay dan Argentina; dewadaru asam selong disebut surinam cherry, lolita cherry, varmillion cherry, brazilian cherry dan cayenne cherry. Sebutan itu menunjukkan bahwa di negeri asalnya, asam selong merupakan buah populer dan komersial. Di negeri-negeri tersebut buah surinam cherry dibudidayakan dan dijual di pasar tradisional maupun pasar swalayan. Selain dikonsumsi segar, buah ini juga diolah jadi minuman, jus dan jam, dikemas secara modern, dipasarkan secara luas. Di belahan timur Amerika Selatan, surinam cherry merupakan buah penting.

    Di Indonesia, surinam cherry dikenal sebagai cermai belanda; karena bentuknya seperti cermai dan dibawa (dibudidayakan) oleh Bangsa Belanda. Ini mirip dengan sirsak yang di Jawa Tengah disebut nongko londo (nangka belanda). Disebut demikian karena bentuk sirsak mirip dengan nangka, dan buah asli Amerika Selatan ini juga dibawa oleh Belanda. Sebutan asam selong (selong = Sri Lanka); kemungkinan karena masyarakat Sumatera Utara, pertama kali mengenal buah ini dari orang Sri Lanka (orang Keling). Secara luas, surinam cherry lebih sering disebut sebagai dewadaru, atau sianto.

    Dewadaru surinam cherry berupa perdu yang hanya bisa tumbuh setinggi tiga sampai empat meter. Tiga dewadaru lainnya Fagraea elliptica, Baccaurea sumatrana, dan Mesua ferrea; merupakan pohon besar yang dimanfaatkan kayunya. Tingkat kekerasan, kekuatan dan keawetan Fagraea elliptica, dan Mesua ferrea tergolong paling tinggi. Berat jenis dua kayu ini lebih tinggi dari air. Ketika awak kapal dari Karimunjawa ke Jepara atau ke Semarang curiga ada yang membawa kayu dewadaru Fagraea elliptica, pembuktiannya mudah. Kalau kayu itu tenggelam dimasukkan ke laut, berarti dewadaru. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *