MURBEI UNTUK PAKAN ULAT SUTERA
by indrihr • 04/05/2020 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Saya seorang peternak ulat sutera. Sebenarnya ada berapakah jenis murbei, dan jenis manakah yang paling cocok untuk dibudidayakan sebagai pakan ulat sutera? Apakah ada yang cocok dibudidayakan di dataran rendah? (Usman, Yogyakarta).
Sdr. Usman, dalam Daftar Nama Tumbuhan Internasional (the International Plant Names Index, IPNI), tercatat di seluruh dunia ada 17 spesies murbei (genus Morus). Sebagian besar merupakan spesies murbei dengan habitat asli kawasan beriklim dingin (temperate). Yang banyak tumbuh di halaman rumah dan kebun di Indonesia, murbei india (Morus indica). Murbei india sebenarnya juga spesies beriklim dingin, karena berasal dari Pegunungan Himalaya. Di Indonesia, murbei india sudah beradaptasi dengan iklim tropis, dan bisa dibudidayakan di dataran rendah.
Murbei india kurang cocok untuk dibudidayakan sebagai pakan ulat sutera. Sebab produksi daunnya relatif kecil. Murbei india lebih banyak menghasilkan buah, hingga lebih cocok dibudidayakan sebagai penghasil buah; bukan untuk pakan ulat sutera. Di beberapa negara, jenis murbei ini dibudidayakan secara komersial untuk menghasilkan buah untuk dikonsumsi segar, tetapi terutama untuk bahan baku jam. Tak ketahuan, kapan murbei india masuk ke Indonesia. Diduga, murbei india sudah diintroduksi ke Indonesia, terutama Jawa; sejak zaman kerajaan-kerajaan Hindu dulu.
Yang juga banyak tumbuh liar di Indonesia, murbei australia, Morus australis. Meskipun disebut murbei australia, jenis murbei ini berasal dari Asia Timur. Karenanya murbei australia juga dikenal dengan nama murbei china dan murbei korea. Jenis murbei inilah yang banyak dibudidayakan oleh peternak ulat sutera di Indonesia. Ciri khasnya, daunnya berlekuk cukup dalam, dan lebih tipis dibanding murbei india. Murbei australia hampir tak pernah berbuah. Batangnya lebih kuat dan lebih liat dibanding murbei india. Kalau dibiarkan tumbuh tanpa dipangkas, murbei australia bisa tumbuh menjulang sampai belasan meter. Tak ketahuan kapan murbei australia diintroduksi ke Indonesia.
Untuk keperluan para peternak ulat sutera di Indonesia, pemerintah pernah mendatangkan murbei hitam, Morus nigra. Jenis murbei ini berasal dari India, terutama di negara bagian sebelah barat; dan Pakistan. Ciri khasnya daunnya lebar dan tebal, karena murbei ini merupakan tumbuhan tetraploid ( 4 N, berkromosom 308). Lebar dan tebalnya daun inilah yang menarik para peternak ulat sutera. Jenis murbei ini tak berkembang, karena produktivitas daunnya malah kalah dari murbei india sekalipun. Terlebih dibandingkan dengan murbei australia. Sebagai produsen buah, murbei hitam juga kalah dari murbei india.
Di China, Korea dan Jepang, yang dibudidayakan untuk pakan ulat sutera kebanyakan murbei putih, Morus alba. Murbei ini juga ada di Indonesia, meskipun populasinya tak sebanyak murbei india dan murbei australia. Daya adaptasi murbei putih dengan iklim tropis, tampaknya tak sebaik murbei india dan murbei australia. Selain itu, produksi daun murbei putih juga tak sebaik murbei australia. Sebab murbei putih juga berbuah, meskipun buahnya tak akan sebanyak murbei india. Di beberapa negara murbei putih dibudidayakan untuk dipanen buahnya. Buah murbei putih cukup eksklusif dan berasa manis hingga banyak penggemarnya.
Dari 17 jenis murbei itu, murbei panjang himalaya, Morus macroura; paling menarik karena bentuk buahnya memanjang. Namun selama ini murbei panjang himalaya lebih banyak dibudidayakan sebagai tanaman hias di halaman rumah. Sebab produktivitas buahnya kalah dari murbei india. Murbei panjang himalaya juga jarang dibudidayakan sebagai pakan ulat sutera, karena produksi daunnya sangat rendah. Belakangan ini murbei panjang himalaya mulai menarik perhatian para pecinta tanaman di Indonesia. Menariknya murbei panjang himalaya hanya karena eksklusifitas bentuk buahnya. Sebab rasa buahnya tak seenak murbei india.
Sdr. Usman, murbei merupakan tanaman dengan sejarah cukup panjang, sepanjang sejarah persuteraan China. Kalau kita mendengar istilah “jalur sutera”, maka jalur itu tak akan pernah terbentuk tanpa tanaman murbei. Sebab tanaman ini melekat erat dengan agroindustri sutera alam. Meskipun menghasilkan buah, jarang orang membudidayakan murbei untuk dipanen buahnya. Agroindustri sutera alam, sebenarnya bukan peternakan, melainkan perkebunan murbei. Sebab komponen pakan merupakan 70% dari seluruh komponen budidaya. Terlebih nilai benih ulat sutera, cukup rendah. Lain halnya dengan budidaya sapi potong, yang nilai sapinya itu sendiri sudah sampai belasan juta. # # #
Artikel pernah dimuat di Kontan Pagi
Foto F. Rahardi
