HARGA DURIAN INDONESIA DAN THAILAND
by indrihr • 28/05/2020 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Saya seorang petani durian dengan luas kebun 4,5 hektare. Mengapa harga rata-rata durian kita lebih tinggi dari harga durian Thailand? Padahal kualitas durian Thailand lebih baik dari durian Indonesia? (Achmad, Semarang)
Sdr. Achmad, Anda benar. Harga durian rata-rata di DKI Jakarta akhir tahun 2019 Rp 75.000 per kilogram (dengan kulit). Di Bangkok, harga rata-rata durian (dengan kulit) pada bulan Juni 2019 Rp 100 sampai dengan 120 Baht. Dengan kurs 1 Baht Rp 452,26; harga durian di Bangkok berkisar antara Rp 45.226 sampai dengan Rp 54.271,20. Angka tengahnya Rp 49.748,60, dibulatkan menjadi Rp 50.000 per kilogram. Jadi memang ada selisih harga durian di Jakarta dan di Bangkok Rp 25.000 per kilogram. Di Malaysia, harga durian selain Musangking, rata-rata Rp 60.000 per kilogram..
Padahal, produksi durian kita lebih tinggi dari Thailand dan Malaysia. Indonesia merupakan negara penghasil durian terbesar dunia dengan produksi 995.000 ton (Plantation International 2016). Nomor dua Malaysia dengan produksi 600.000 ton, dan ketiga Thailand dengan produksi 300.000 ton. Tiga negara ini menghasilkan 99% produksi durian dunia. Yang 1% dihasilkan negara-negara lain di Asia Tenggara. Logikanya, semakin banyak produksi, harga semakin murah. Yang terjadi, harga durian di Indonesia tertinggi dibanding Malaysia dan Thailand.
Selisih harga ini akan menjadi lebih tinggi lagi, apabila durian rusak (muda, busuk, sebagian keras), diperhitungkan. Pedagang durian Indonesia terpaksa memasang harga tinggi, untuk menutup resiko durian rusak dan tak termakan. Volume durian rusak yang ditanggung pedagang, sekitar 30%. Pembeli pun akan ikut menanggung durian rusak, apabila durian dibawa pulang, bukan dimakan di tempat. Dari lima butir durian yang dibawa pulang, bisa hanya satu butir yang enak. Lainnya terbuang. Hingga sebenarnya, harga durian di Indonesia bisa mencapai di atas Rp 100.000 per kilogram dengan kulit.
Di Malaysia, harga durian Musangking memang sangat tinggi. Rata-rata Rp 350.000 per kilogram. Tetapi pembeli tak pernah dikecewakan, karena kualitas Musangking pasti baik. Di Thailand pun sama. Negara ini hanya membudidayakan tujuh kultivar dari sekitar 200 kultivar yang mereka miliki. Tujuh kultivar tersebut, Sultan (D24), Kop (D99), Chanee (D123), Berserah (Tuan Mek Hijau, D145), Kan Yao (D158), Mon Thong (D159), dan Kradum Thong (D169). Kultivar yang paling banyak mereka budidayakan tetap Mon Thong, yang juga disebut si bantal emas (Golden Pillow).
Thailand dan Malaysia bisa menjual durian dengan harga lebih murah dari Indonesia, karena mereka sudah mengebunkannya secara profesional. Meskipun luas kebun petani mereka juga kecil-kecil. Di Thailand, para petani hanya mengelola kebun antara lima sampai dengan 10 hektar. Di Malaysia, kebun durian berskala lebih luas. Bisa puluhan, ratusan bahkan ada yang di atas 1.000 hektare. Hingga biaya produksi durian di dua negara ini lebih murah dibanding biaya produksi durian di Indonesia.
Durian Indonesia, umumnya dihasilkan oleh pohon yang tumbuh liar di ladang petani. Hingga di Sumatera Utara, Riau, Jambi, Bengkulu; harga durian “jatuhan” di tepi jalan bisa hanya Rp 50.000 satu onggok (belasan sampai lebih dari 20 butir). Hingga harga per butir durian di empat provinsi itu hanya Rp 2.500 per butir. Di pedalaman, harga per butir durian bisa hanya Rp 1.000. Durian yang dipasarkan di Jakarta, berasal dari pohon yang tumbuh di ladang petani. Bukan dari kebun durian yang dikelola secara profesional.
Jadi sebenarnya, harga pokok produksi (HPP, biaya on-farm) durian kita, jauh lebih rendah dari HPP durian di Malaysia dan Thailand. Harga durian di DKI Jakarta melambung tinggi, karena faktor inefisiensi distribusi dan pemasaran (biaya off-farm). Pertama, biaya transportasi di Indonesia masih boros, karena kualitas jalan raya. Jarak tempuh di jalan-jalan pulau Sumatera rata-rata lebih lama dibanding jalan-jalan di Jawa. Di Jawa pun, jalan tol Jakarta Surabaya baru nyambung tahun 2019. Ditambah lagi biaya preman, termasuk preman berseragam yang juga sangat tinggi.
Satu-satunya cara untuk mempermurah harga durian di Indonesia, hanya dengan mengebunkannya secara profesional. Para investor selama ini tidak terlalu tertarik mengebunkan durian, karena faktor lamanya menunggu, dan tadi itu: biaya off-farm yang sangat tinggi. Meskipun, biaya ini sebenarnya akan tertutup oleh nilai keuntungan yang juga tinggi. Secara teknis budidaya, sebenarnya hampir tak ada masalah. Sebab Thailand dan Malaysia sudah lama mengebunkan durian, dan sangat terbuka berbagi informasi secara gratis lewat Youtube. # # #
Artikel pernah dimuat di Kontan Pagi
Foto F. Rahardi
