CADANGAN PANGAN DARI HUTAN GAYAM
by indrihr • 28/01/2014 • Pangan, PERTANIAN • 0 Comments
Di kios oleh-oleh di stasiun kereta api Nganjuk, Jombang, Tulungagung atau Kediri, di Jawa Timur, kita bisa menjumpai snack yang unik. Bentuknya stick seperti halnya snack dari talas. Tapi ukurannya lebih pendek dan potongannya tampak tidak terlalu rapi. Rasa snack ini renyah dan gurih sangat khas. Harganya relatif murah, yakni hanya Rp 1.500,- sd. Rp 2.000,- per kemasan kecil ± 1 ons. Snack tadi berasal dari biji Gayam yang digoreng minyak atau disangrai. Buah gayam sendiri berbentuk elips (pipih), dengan bagian tangkai agak rata atau melengkung ke dalam. Diameter buah 10 cm. dengan ketebalan 4 cm. Warna kulit gayam hijau tua ketika muda dan berubah menjadi kuning kecokelatan setelah tua. Gayam berkulit sangat liat, mirip sabut kelapa tetapi padat. Untuk mendapatkan bijinya, kulit liat ini harus dibelah dengan golok yang tajam. Biji gayam mentah berwarna putih, dengan kulit biji cokelat terang. Bentuk biji gayam juga elips, pipih tetapi dengan permukaan yang menggelombang dengan alur-alur seperti berurat. Biji inilah yang kemudian dipotong-potong menjadi stick dan digoreng atau disangrai.
Selain dijadikan snack, gayam juga sangat lezat direbus seperti halnya merebus ubi. Caranya, setelah kulit buah dibelah, biji gayam dibersihkan dari kulit bijinya dan direbus biasa atau dikukus dalam keadaan utuh. Untuk mempercepat pamasakan, biasanya biji gayam dibelah menjadi dua sesuai dengan belahan keping bijinya. Rasa gayam rebus juga sangat khas. Keras tetapi tidak liat. Orang Jawa menyebut tekstur biji gayam ini sebagai “gempi”. Hingga ubi atau singkong yang bertekstur seperti ini sering disebut sebagai “nggayam”. Anak-anak penggembala kerbau dan kambing, sering mencari gayam untuk dibakar. Caranya, buah gayam utuh berikut kulitnya langsung mereka masukkan ke dalam api. Selang 10 sd. 15 menit, buah gayam yang hangus itu diambil, dibelah dan bijinya telah masak. Rasa gayam bakar demikian lebih lezat daripada stick yang disangrai, digoreng maupun biji gayam yang direbus atau dikukus. Lebih-lebih apabila biji gayam bakar ini dimakan dalam keadaan masih panas, maka kelezatannya akan makin terasa. Aroma gayam sangat khas hingga sulit untuk dibandingkan dengan biji atau umbi-umbian lainnya. Demikian pula tingkat kegurihannya.
Tanaman gayam (Inocarpus edulis), merupakan pohon besar setinggi 30 sd. 40 m. Diameter pangkal batangnya bisa mencapai 1,5 m. Kulit batang gayam berwarna cokelat gelap kehijauan. Batang gayam tidak pernah rata melainkan selalu beralur dan bergelombang. Bagian pangkal batang biasanya membentuk akar papan. Karena permukaan batang yang tidak pernah rata, maka kayu gayam tidak pernah bisa dijadikan bahan bangunan atau perabotan. Kayunya sendiri juga tidak keras tetapi liat. Masyarakat hanya memanfaatkan batang dan dahan gayam sebagai kayu bakar. Daun gayam berbentuk elips memanjang. Panjang daun 25 cm. dengan lebar 10 cm. Daun gayam tebal berwarna hijau gelap dan permukaannya menggelombang. Tajuk gayam sangat rapat dan tidak beraturan, namun mengarah ke bentuk memanjang ke atas. Bunga gayam berukuran kecil dengan kelopak putih dan tumbuh di ketiak daun pada ujung ranting. Gayam tidak mengenal musim, hingga buahnya bisa dijumpai sepanjang tahun secara terus-menerus. Namun bunga terbanyak akan tumbuh pada awal musim kemarau dan buahnya akan tua pada awal musim penghujan. Buah yang telah masak akan berjatuhan. Tupai sangat menyenangi buah gayam. Hingga banyak buah yang berjatuhan sudah dalam keadaan kosong karena bijinya sudah habis dimakan tupai.
Tanaman gayam mulai berbuah pada umur 6 sd. 8 tahun. Namun hasil optimal baru akan dicapai pada umur di atas 20 tahun. Pada umur di atas 20 tahun, tanaman mampu memproduksi buah utuh sekitar 500 kg. dalam setahun. Jumlah ini setara dengan 300 kg. biji gayam bersih. Pemanenan gayam sebenarnya tidak perlu menunggu sampai buahnya berjatuhan. Caranya cukup dipanjat, buah yang telah tampak menguning disodok atau dikait dengan galah dan dibiarkan berjatuhan. Buah gayam memang sangat tahan benturan. Hingga buah-buah yang berjatuhan itu tetap akan utuh bijinya, meskipun kulit buahnya memar dan lecet-lecet. Buah yang telah dipanen bisa disimpan sampai berhari-hari bahkan minggu-minggu tanpa mengalami kerusakan. Namun bisanya masyarakat langsung mengupas kulit buah yang liat itu, kemudian mengolah bijinya sebagai snack dengan mengirisnya berupa stick. Selama ini sangat jarang masyarakat memanen gayam. Mereka cenderung untuk menunggu sampai buah berjatuhan dan memungutnya di bawah tajuk pohon. Meskipun, kalau hal ini dilakukan, manusia harus berbagi dengan tupai.
Gayam adalah tanaman asli Indonesia. Habitatnya dataran rendah sampai menengah (0 sd. 800 m. dpl.) dengan curah hujan tinggi. Tanaman ini paling menyukai tempat tumbuh tanah berawa-rawa atau pinggiran sungai. Buah tua yang jatuh akan mengapung di air lalu terbawa hanyut ke arah seberang rawa atau ke arah hulu sungai. Setelah lama terendam air dan terdampar di pinggir perairan, biji gayam akan tumbuh. Karenanya sering dijumpai koloni pohon gayam yang terdiri dari puluhan batang tanaman di pinggiran rawa atau sungai. Melihat sifat-sifatnya, gayam cocok untuk dimanfaatkan sebagai tanaman penghijauan di pinggiran waduk, danau atau rawa. Sebab tajuknya yang rapat dan perakarannya yang kuat akan mampu menahan top soil dari kemungkinan erosi. Dengan memanfaatkan gayam sebagai sabuk hijau di waduk-waduk, maka lumpur yang terbawa aliran air hujan akan bisa tertahan oleh tanaman gayam. Karena kayunya tidak dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan dan daunnya juga tidak bisa untuk pakan ternak, maka gayam akan aman dari penjarahan. Hingga tanaman ini berpeluang untuk menghutankan pinggiran waduk secara permanen. Lebih-lebih tanaman ini cukup kuat dan bisa berumur sampai ratusan tahun.
Gayam hanya berkembangbiak secara generatif dari biji. Buah gayam yang telah tua, baik yang telah berjatuhan atau yang dipanen dari pohon, terlebih dahulu harus direndam air. Perendaman dilakukan selama 1 bulan. Selanjutnya biji disemai dalam keranjang atau kotak kayu berisi pasir. Penyemaian dilakukan dengan bersap-sap. Satu sap pasir diberi buah gayam yang telah direndam, diberi pesir lagi dan seterusnya. Dalam satu keranjang bisa disemai beberapa sap biji gayam. Penyemaian dilakukan selama sekitar 3 bulan dan tiap hari harus selalu disiram. Setelah 3 bulan, semaian dibongkar dan biji gayam sudah berkecambah. Buah yang telah mengeluarkan tunas serta akar ini selanjutnya dipindah ke polybag atau ke bedeng pesemaian. Baik media polybag atau bedeng pesemaian berupa tanah bercampur pasir dan kompos atau pupuk kandang. Bedeng maupun tempat polybag harus diberi naungan. Sebab di habitatnya, biji gayam tumbuh di lokasi yang juga ternaungi. Semai di bedeng atau polybag akan cukup pesat pertumbuhannya. Dalam jangka waktu 3 bulan sejak dipindahkan dari pasir, semaian sudah akan mencapai ketinggian 50 cm. Semaian ini sudah cukup kuat untuk dipindahkan ke lahan penanaman. Namun idealnya, benih ini masih harus disemai lagi hingga mencapai ketinggian 150 cm, baru ditanam di lapangan.
Sampai saat ini, gayam merupakan tanaman liar yang sama sekali terabaikan. Baik pemerintah daerah maupun pusat sama sekali tidak memperhatikan tanaman ini. Pemerhatinya justru kolektor tanaman dan parancang taman. Sebab bentuk batang maupun tajuk gayam cukup indah sebagai elemen taman. Hingga di beberapa kompleks perumahan/perkantoran bisa kita jumpai tanaman gayam sebagai peneduh. Di Kebun Raya Bogor pun kita bisa menjumpai tanaman ini. Letaknya di bagian tenggara di dekat “taman Meksiko”. Di lokasi ini tumbuh beberapa pohon gayam yang masih agak muda. Namun di bawahnya banyak berserakan buah gayam tua yang berjatuhan. Sebagian buah itu ada yang dimakan tupai, tetapi sebagian masih tampak utuh. Tampaknya para karyawan Kebun Raya tidak tahu bahwa buah yang berserakan menyampah ini rasanya sangat lezat. Bahkan ketika Business News berkunjung ke sana, Kepala Kebun Raya sempat menanyakan, bagaimanakah cara mengkonsumsi buah gayam ini? Tampaknya, Dr. Irawati, Kepala Kebun Raya Bogor saat ini, sudah tahu bahwa gayam itu bisa dikonsumsi, namun tidak tahu cara menanganinya.
Sebenarnya gayam juga berpeluang untuk dijadikan “nut” andalan Indonesia. Selain itu, hutan gayam juga potensial untuk menjadi “cadangan pangan” yang sangat strategis. Namun sampai sekarang kita belum pernah berpikiran sampai ke sana. Tajuk gayam tua, rata-rata berukuran selebar 10 m. Hingga populasi tanaman per hektar mencapai 100 pohon. Dengan hasil sekitar 300 kg. biji bersih, maka dari satu hektar lahan bisa dihasilkan 30 ton biji gayam per tahun. Lahan-lahan yang cocok ditanami gayam, justru sulit untuk dimanfaatkan bagi budi daya tanaman lain. Misalnya tebing bantaran sungai, pinggiran waduk, pinggiran rawa-rawa dan lain-lain. Kalau lahan-lahan demikian dihijaukan dengan tanaman albisia, jati dan lain-lain, maka secara periodik kayunya akan dipanen. Hingga tujuan untuk menghijaukan kawasan ini secara permanen tidak tercapai. Menghijaukan kawasan demikian dengan tanaman gayam, akan relatif aman sebab kayunya tidak akan pernah ditebang. Sementara hasil pangan 30 ton bersih per hektar juga sangat baik untuk kondisi perekonomian Indonesia saat ini. (R) * * *
Artikel pernah dimuat di Business News


