SERBUAN DURIAN DAN LENGKENG THAILAND
by indrihr • 02/04/2014 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Sejak 10 tahun terakhir, secara rutin pasar Indonesia diserbu oleh durian dan lengkeng Thailand. Komoditas yang oleh masyarakat disebut durian, dan lengkeng bangkok ini, bisa menyusup sampai ke kios buah di kota kecamatan. Akibatnya, lengkeng lokal kita semakin terpuruk.
Panen durian di Thailand, diawali pada setiap bulan Mei, dan berakhir pada bulan Juni. Sementara panen lengkeng diawali bulan Juni, dan akan berakhir tiap bulan Agustus. Sentra durian terbesar di Thailand, terdapat di Provinsi Rayong, Thailand Tenggara. Sementara sentra lengkeng terdapat di Provinsi Lamphun, Thailand Utara. Dari dua sentra buah inilah durian serta lengkeng menyerbu pasar dunia, termasuk pasar Indonesia. Negeri kita cukup menarik sebagai penyerap durian dan lengkeng Thailand, karena populasi penduduknya yang besar.
Kultivar durian Thailand paling populer adalah Kop (D99), Chanee (D123), Berserah (Durian Hijau, Tuan Mek Hijau, D145), Kan Yao (D158), Mon Thong (D159), Kradum Thong (D24, D169). Di seluruh Thailand, terdapat lebih dari 200 kultivar durian (Durio zibethinus). Produksi durian Thailand mencapai sekitar 800.000 ton per tahun, terbesar di dunia. Sementara produksi durian dunia sebesar 1.400.000 ton. Penyerap buah durian segar dari Thailand adalah Hongkong 70.500 ton, Taiwan 33.000 ton, dan Indonesia 4.200 ton. Total volume ekspor durian Thailand mencapai 200.000 ton, hingga sebesar 600.000 ton diserap pasar domestik Thailand, dan diolah menjadi berbagai produk pangan.
# # #
Thailand juga merupakan penghasil lengkeng terbesar di dunia. Kultivar lengkeng Thailand adalah Do (Edo, Edao, Idoh, Itoh), Haeo, Biao Khiao, dan Chomphu. Total area penanaman lengkeng Thailand mencapai 58.000 hektare, dengan total produksi sekitar 190.000 ton, dan 70% diekspor dalam keadaan segar. Importir lengkeng Thailand terbesar juga Hongkong, dengan volume sekitar 60.000 ton, menyusul Indonesia dengan 7.000 ton. Sejak tahun 1998, Thailand mulai membudidayakan lengkeng dengan aplikasi pupuk kalium klorat (KCLO3). Dengan aplikasi KCLO3, lengkeng Do yang sebelumnya hanya bisa dibudidayakan di Lamphun, bisa dikembangkan di sebelah selatan Bangkok.
Sebenarnya, semua kultivar durian dan lengkeng Thailand, sudah diintroduksi ke Indonesia. Durian Mon Thong, bahkan sudah diintroduksi ke Indonesia sejak tahun 1950. Ketika Presiden Soekarno berkunjung ke Thailand, ia diberi hadiah Raja Bhumibol Adulyadej diberi hadiah benih durian Mon Thong dan Chanee. Meskipun lamban, dua kultivar durian Thailand ini sekarang sudah mulai berkembang di Indonesia, terutama di Jawa dan Sumatera. Demikian pula halnya dengan lengkengnya. Selain kultivar Do, Biao Khiao, dan Chomphu, diintrodusir pula Diamond River (Phetsakon), Kohala dari Hawaii, dan Pingpong dari Vietnam. Kultivar lengkeng tersebut, selama ini dikenal sebagai “lengkeng dataran rendah”.
Sebenarnya budi daya durian Mon Thong dalam skala komersial, sudah mulai berkembang sejak tahun 1980an. Namun kebun-kebun durian itu hampir seluruhnya punah karena serangan penyakit cendawan Pythoptora. Penyebab utama rentannya durian Mon Thong dari serangan Pythoptora antara lain, karena kelembapan udara di Indonesia, umumnya lebih tinggi dari Thailand. Kedua, kita menggunakan benih sambung mata tempel, pada batang bawah umur 1 bulan (30 cm). Sementara Thailand menggunakan benih sambung pucuk, pada batang bawah umur 1 tahun (1,5 m), yang relatif tahan terhadap Pythoptora.
Sejak awal tahun 2.000an, budi daya durian Mon Thong di Indonesia, sudah mulai menggunakan benih sambung pucuk pada batang bawah umur 1 tahun. Kebun dengan benih ini, sudah banyak yang berproduksi. Hasilnya juga sudah mulai masuk ke pasar. Durian Mon Thong yang ada di pasar swalayan dan kios buah pada bulan-bulan Desember sd. Februari, merupakan produk lokal. Seandainya Indonesia secara serius mengembangkan kebun durian Mon Thong, mulai dari Aceh sampai ke NTT, maka musim panennya bisa berlangsung sepanjang tahun, termasuk bersamaan dengan musim durian Thailand.
# # #
Beda dengan durian yang sudah dibudidayakan secara merata, sentra lengkeng lokal kita, baru ada di Malang Selatan, Jawa Timur, dan perbatasan Kabupaten Semarang, Magelang, serta Temanggung di Jawa Tengah. Dua sentra lengkeng ini, sekarang hampir mati karena serbuan lengkeng Thailand. Budi daya lengkeng di dua sentra ini memang agak rumit, karena harus diberongsong (dibungkus) menggunakan keranjang bambu, guna menghindari serangan kelelawar pemakan buah. Sementara budi daya lengkeng di Thailand, tanpa perlu pemberongsongan. Pada awal tahun 2000an, benih lengkeng dataran rendah sudah mulai masuk Indonesia, namun sampai sekarang produksinya belum tampak di pasar.
Trend volume impor durian dan lengkeng Thailand, makin tahun tampak makin besar. Indikatornya adalah lokasi pemasarannya. Pada tahun 1990an, durian dan lengkeng Thailand hanya dipasarkan di swalayan. Sekarang durian Mon Thong, dan lengkeng Thailand sudah merambah kakilima di Jakarta, bahkan sampai ke kota-kota kecamatan. Ini merupakan “warning”, agar kita lebih serius mengembangkan dua komoditas ini. Tetapi tampaknya Departemen Pertanian kita lebih sibuk dengan urusan politik, dan bukan ke hal-hal strategis.
Selain akibat kelalaian Departemen Pertanian, lambannya pengembangan agroindustri buah-buahan kita, juga diakibatkan oleh sikap bank yang keliru. Sama-sama untuk tanaman keras (tahunan), kredit bagi kebun sawit diprioritaskan dibanding dengan kredit pengembangan kebun buah. Padahal, nilai keuntungan dari kebun buah bisa beberapa kali lipat dibanding dengan kebun kelapa sawit. Meskipun, nilai investasi kebun buah, juga beberapa kali lipat lebih besar dibanding investasi sawit. Kelebihan investasi kebun buah adalah, bisa dikembangkan dalam skala kecil di Jawa. Sementara sawit hanya bisa dikembangkan di luar Jawa, dalam skala besar. (R) # # #
Artikel pernah dimuat di Business News

