BAMBU BIARA
by indrihr • 08/09/2014 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
“Bambu biara?”Begitulah pertanyaan diajukan, ketika nama bambu biara disebut. Padahal ketika nama “bambu jepang” disampaikan, orang langsung tahu, bahwa yang dimaksud adalah bambu pagar berbatang lurus, dengan rumpun dan tajuk rapat.
Selama ini masyarakat luas memang menyebut bambu pagar ini sebagai “bambu jepang”. Padahal bambu pagar itu berasal dari kawasan Indochina (Myanmar, Thailand, Laos, Vietnam); sampai ke Yunnan, China Selatan. Di Thailand, bambu ini bernama phai ruak, atau phai huak. Arti harafiahnya bambu biara (monastery bamboo, Thyrsostachys siamensis). Disebut bambu biara, karena di Thailand bambu ini banyak ditanam sebagai pagar hidup di komplek biara, yang dihuni para Rahib Budha. Para rahib budha, menanam bambu ini bukan sekadar sebagai pagar, melainkan juga untuk dipanen rebungnya.
Maka di belakang nama phai ruak, kadang juga ditambahkan nama no wan menjadi phai ruak no wan. No berarti rebung, dan wan manis. Rebung bambu biara memang dikenal manis, tanpa sedikit pun rasa pahit. Di negeri Gajah Putih ini, bambu biara sudah dibudidayakan secara massal, dan komersial, karena mudah, murah, dan menguntungkan. Bahkan di Bangkok pun, hampir tak terlihat komplek bangunan yang menggunakan bambu biara sebagai pagar halaman. Yang ada “kebun bambu biara” di luar kota, sebagai penghasil rebung. Dibanding rebung bambu betung atau bambu hitam, rebung bambu biara paling populer di Thailand.
Rebung bambu biara berukuran kecil, dengan diameter di bagian pangkal antara empat sampai dengan enam sentimeter. Ciri khas rebung bambu biara, selain berukuran kecil, juga memanjang antara 20 sampai 30 cm, sepanjang rebung bambu betung. Di Thailand, rebung bambu biara bukan hanya dikonsumsi sebagai sayur, melainkan juga untuk cemilan (snack). Rebung bambu biara yang dijual di pasar tradisional dan kakilima kota Bangkok, sudah dikupas dan dimasak. Pedagang akan mengambil rebung utuh itu, mencincangnya, menuangkan “bumbu” yang mirip sambal pecel, lalu konsumen tinggal menyantapnya.
Mudah Dibudidayakan
Lain halnya di Indonesia. Di sini bambu biara justru paling populer sebagai tanaman hias, yang belakangan menjadi pagar hidup “wajib” bagi komplek bangunan apa pun. Mulai dari perkantoran, sekolah, perguruan tinggi, perumahan, pabrik, gudang, semua menggunakan bambu biara sebagai pagar hidup. Rumpunnya yang tumbuh rapat, dengan batang lurus, tajuk dan daunnya yang lebat, memang tampak indah, sekaligus sangat efektif meredam suara, dan polusi debu serta asap knalpot kendaraan. Kelebihan itu, ditambah pertumbuhan yang cepat, harga yang murah, telah menyebabkan bambu biara menjadi pagar hidup favorit di kota-kota besar di Indonesia.
Bambu biara tergolong jenis bambu yang mudah dibudidayakan. Masyarakat biasa menyebutnya sebagai “tanaman bandel”. Potongan satu batang bambu setinggi 1,5 sampai 2 meter, dengan beberapa ranting yang masih berdaun, dan bagian bonggol batang yang berakar, cukup untuk menjadi benih. Meskipun untuk amannya lebih baik menggunakan benih yang terdiri dari tiga batang bambu yang menyatu dalam satu potongan rumpun. Potongan tetap 1,5 sampai 2 meter dengan sedikiT ranting berdaun, lalu diangkat berikut bonggolnya. Benih bambu biara banyak dijual di tukang tanaman, bahkan paling banyak dipasarkan secara massal sebagai pagar.
Akan tetapi, jangan menyebut bambu biara ke penjual tanaman pinggir jalan. Sebab mereka pun hanya mengenal jenis tanaman ini sebagai “bambu jepang”. Satu potongan rumpun dengan dua atau tiga batang bambu, dijual dengan harga antara Rp 30.000 sampai Rp 50.000 tergantung dari kondisi tanaman, serta dimana kita membelinya. Harga ini relatif murah, dibanding dengan bambu hias lain. Misalnya bambu gading (Bambusa vulgaris), yang sebenarnya masih satu spesies dengan bambu ampel yang berwarna hijau, dan juga dengan bambu “perut budha” (Buddha’s belly bamboo).
Bambu ampel hijau berharga paling murah, disusul bambu gading, dan bambu perut budha berharga paling tinggi, yakni di atas Rp 100.000 per rumpun, karena masih langka.Tahun 1980an, bambu gading juga pernah sangat populer sebagai elemen taman, dengan harga yang juga sangat tinggi. Belakangan popularitasnya kalah oleh bambu suci bali (sacred bali bamboo, Schizostachyum brachycladum), yang juga berbatang kuning. Habitat asli bambu kuning ini bukan Bali, melainkan seluruh kawasan Asia Tenggara. Juga disebut “buluh lemang”, padahal yang digunakan untuk wadah pembuat lemang bambu apus.
Bambu Jepang Asli
Harga satu rumpun benih bambu suci bali, paling murah Rp 75.000. Dengan kondisi tanaman bagus, dan di lokasi strategis, misalnya di depan TVRI Senayan, Jakarta Pusat, harga benih bambu suci bali bisa di atas Rp 100.000 per rumpun kecil. Dengan membandingkan harga-harga tersebut, tampak bahwa bambu biara memang sudah sangat merata penyebarannya, dengan populasi yang massal. Bahkan banyak komplek bangunan, atau perumahan yang terpaksa membongkar rumpun bambu biara mereka, karena populasinya sudah sangat besar dan tak terkendali pertumbuhannya.
Sebenarnya bambu cendani (golden bamboo, fishpole bamboo, Phyllostachys aurea), lebih pantas disebut bambu jepang. Sebab bambu ini berasal dari Fujian dan Zheijang, RRC, dan sudah lama menyebar sampai ke Korea dan Jepang. Bambu cendani juga sudah lebih awal masuk ke Indonesia. Di sini, bambu cendani hanya bisa tumbuh di dataran tinggi (di atas 1.000 m. dpl), dan dipanen untuk dijadikan barang kerajinan. Dulu, ketika sapu masih bertangkai bambu, bambu cendani dipanen sebagai tangkai sapu. Sebelum ada fibreglass, batang lembing untuk olahraga atletik juga berbahan bambu cendani.
Penyebutan bambu biara sebagai “bambu jepang” merupakan salah kaprah yang hampir tidak mungkin diubah. Kalaupun nama bambu biara bisa dipopulerkan, paling banter hanya akan menjadi sebutan alternatif. Itu dimungkinkan, mengingat beberapa tumbuhan memang bernama lebih dari satu, dan bisa sama-sama digunakan. Misalnya jeruk besar (Citrus maxima), yang disebut jeruk gulung, jeruk bali, dan belakangan juga pomelo. Bisa saja suatu ketika nanti, bambu jepang juga akan dikenal sebagai bambu biara, atau malahan bambu rebung manis seperti halnya di Thailand. # # #
Artikel pernah dimuat di Majalah Flona



