KANTIL DAN CEMPAKA
by indrihr • 27/10/2014 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Di Jakarta Pusat, ada sebuah kecamatan bernama Cempaka Putih. Cempaka merupakan nama bunga genus Magnolia. Lagu Bungong Jeumpa dari daerah Aceh, atau disebut juga cempaka wangi, berwarna kuning.
Maka cempaka yang berwarna putih ini disebut bunga kantil. Dalam Bahasa Jawa, kantil berarti melekat. Maka kuncup bunga kantil biasanya dipakai sebagai sarana untuk memikat (memelet) lawan jenis, agar hatinya selalu melekat (kantil) pada si pemikat. Kantil dan cempaka juga merupakan dua di antara tujuh bunga sebagai sarana sesaji dalam ritual adat di Asia, khususnya di India, China, dan Asia Tenggara termasuk Indonesia. Selain kantil dan cempaka, tujuh bunga itu antara lain mawar merah, mawar putih, melati, kenanga, dan sedap malam. Tiap negara, dan tiap daerah dalam satu negara, berlain-lainan jenis bunganya.
Kantil (Magnolia x alba), diduga merupakan hibrida alami antara cempaka (cempaka wangi, cempaka kuning, Magnolia champaca); dengan cempaka gunung (Magnolia montana). Meskipun sudah umum digunakan, nama Magnolia x alba masih berstatus Unresolved di The International Plant Name Index (IPNI). Baik kantil maupun cempaka berupa perdu berkayu, setinggi sampai belasan meter. Kulit batang kantil maupun cempaka berwarna putih keabu-abuan. Daun pohon bunga kantil dan cempaka hampir sama, berbentuk jorong (oval, elips), dengan tepi daun rata, dan tulang daun agak menonjol. Warna daun hijau keputihan.
Bunga kantil dan cempaka, sama-sama tumbuh pada ketiak daun di ujung ranting. Ukuran dan bentuk bunga kantil serta cempaka, sama. Ketika kuncup berbentuk menyerupai ujung tombak. Setelah mekar bunga terdiri dari 10 helai mahkota bersusun dua, lima di bagian luar, dan lima di bagian dalam. Yang membedakan kantil dengan cempaka, hanya helaian mahkota cempaka lebih lebar, dengan tepi lebih menggelombang. Mahkota bunga kantil lebih ramping dengan tepi mahkota lurus dan rata. Rampingnya mahkota bunga kantil, berasal dari cempaka gunung yang menjadi salah satu induknya.
Penanda Martabat
Yang nyata membedakan kantil dengan cempaka, warna bunganya. Kantil berwarna putih (kuning gading), cempaka berwarna kuning kunyit. Hampir semua bunga akan mengeluarkan aroma wanginya pada sore dan malam hari. Termasuk kantil dan cempaka. Aroma kantil lebih lembut dan lebih kuat dibanding cempaka. Aroma cempaka selain kurang kuat, juga cenderung “manis”. Karenanya, sebagai pemikat lawan jenis digunakan kuncup bunga kantil, bukan kuncup cempaka. Dalam ritual adat Jawa, misalnya upacara pernikahan, juga lebih banyak digunakan kuncup bunga kantil.
Untaian (roncé) bunga kantil juga bernilai paling tinggi dibanding cempaka, atau melati. Sebab kantil dan cempaka berbunga secara musiman, sementara melati selalu berbunga sepanjang tahun. Hingga martabat keluarga mempelai Jawa pada zaman dulu, antara lain bisa dilihat dari untaian bunga pada keris mempelai laki-laki, dan konde mempelai perempuan. Untaian bunga kantil menandakan tingginya martabat keluarga mempelai, dibanding cempaka, melati, dan terakhir sedap malam. Untaian sedap malam berharga paling murah, dan lazim digunakan oleh rakyat jelata.
Pada zaman sekarang, hampir tak ada mempelai menggunakan untaian bunga kantil. Pertama, karena tidak ada pekebun bunga kantil profesional, berskala komersial. Saat ini pohon bunga kantil hanya ditanam secara terbatas oleh penggemar fanatiknya, sebagai hiasan di halaman rumah. Kadang tanaman ini juga digunakan sebagai peneduh di halaman parkir, atau jalan di komplek perumahan. Meskipun di kota-kota besar termasuk Jakarta, populasi tanaman bunga kantil dan cempaka sudah kembali banyak, tak pernah ada yang bersedia memanen serta memasarkannya.
Selain itu, masyarakat elite Indonesia, juga sudah terbiasa menggunakan untaian melati dalam berbagai upacara. Hingga saat ini telah terjadi pergeseran, bahwa untaian melati merupakan simbol status kalangan atas indonesia. Untuk mengembalikan pamor kantil dan cempaka, diperlukan waktu yang cukup lama, atau malahan tidak mungkin sama sekali. Hingga saat ini kantil dan cempaka hanya sebatas menjadi tanaman hias, itupun fungsinya lebih sebagai tanaman peneduh. Bukan penghasil bunga. Era memikat lawan jenis menggunakan bunga kantil tampaknya sudah bergeser ke menggunakan bunga bank.
Cempaka Telur
Selain cempaka putih dan cempaka kuning, masyarakat Indonesia juga masih mengenal bunga cempaka telur atau cempaka gondok (Magnolia liliifera). Beda dengan kantil dan cempaka yang berupa perdu yang bisa tumbuh sampai belasan meter, cempaka telur merupakan perdu pendek, yang hanya tumbuh sampai setinggi tiga meter. Namun bunga cempaka telur, sesuai dengan namanya, justru mampu mencapai ukuran sebesar telur ayam. Disebut cempaka telur, karena bentuk, ukuran, dan warna bunga menjelang mekar, memang persis telur ayam kampung. Cempaka telur paling menarik untuk dibudidayakan di halaman rumah, dengan beberapa alasan.
Pertama, karena ukuran optimum tanaman cempaka telur hanya setinggi dua sampai tiga meter, dengan tajuk satu setengah meter. Dengan ukuran ini, cempaka telur tidak akan memenuhi halaman sempit, seperti halnya kantil atau cempaka. Kedua, penampilan bunga cempaka telur paling atraktif dibanding kantil maupun cempaka. Kelemahan bunga cempaka telur, aromanya tidak sekuat cempaka, terlebih kantil. Sama dengan kantil dan cempaka wangi, cempaka telur juga merupakan Magnolia tropis asli Asia Tenggara. Disebut Magnolia tropis, sebab dari sekitar 120 spesies Magnolia, sebagian besar berhabitat kawasan temperate.
Bunga Magnolia temperate, biasanya berbentuk seperti cempaka telur, tetapi dengan ukuran lebih besar. Di Eropa, Magnolia akan menyajikan panorama lebih menarik dibanding bunga lain pada musim semi. Tajuk pohon Magnolia yang tanpa daun itu, akan dipenuhi oleh bunga yang saat mekar bisa berdiameter belasan senti. Kurang lebih sebesar lepek. Warna Magnolia empat musim bukan hanya putih dan kuning, melainkan juga pink, oranye, dan ungu. Hingga di beberapa taman dan jalan raya di Jerman, pada awal musim semi akan tampak pemandangan yang benar-benar spektakuler. Bunga putih, pink dan ungu besar, memenuhi tajuk pohon yang masih tanpa daun.
Di Indonesia, Magnolia dari kawasan empat musim, hanya bisa tumbuh dan berbunga pada ketinggian di atas 1.000 meter dpl. Itu pun sebatas hanya beberapa spesies. Salah satu yang paling populer Magnolia grandiflora, yang berbunga putih, dengan diameter sampai 2 senti saat mekar penuh. Magnolia grandiflora memang paling mungkin ditanam di Indonesia, karena bunga ini berasal dari Virginia Selatan, Florida Tengah dan Selatan dan Texsas barat sampai ke Timur, di Amerika Serikat. Kawasan ini dikenal beriklim kering dan panas. Florida malahan sudah bisa disebut sebagai kawasan semi tropis. # # #
Artikel pernah dimuat
di Majalah Flona



