JALITRI DAN ANTING PUTRI
by indrihr • 26/01/2015 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Harga tanaman seperti bonsai, dengan pucuk hijau kekuningan yang banyak dijual di kakilima Jakarta, mencapai ratusan ribu bahkan jutaan rupiah. Tanaman apakah itu, dan bagaimana cara membuatnya? (Eka, Jakarta).
Sdr. Eka, yang banyak dijual oleh tukang tanaman di kakilima Jabodetabek itu memang tunggul, yang disambung dengan tanaman lain, hingga harganya cukup tinggi. Tunggulnya merupakan tanaman jalitri, yang juga disebut benteli lelaki, dan bintaos (Wrightia pubescens subsp. laniti). Ini merupakan tanaman asli Indonesia, yang di Jawa Barat dan Banten dijadikan tanaman pagar. Tunggul jalitri yang banyak dijual di Jakarta, diambil dari Kabupaten Lebak dan Pandeglang, Provinsi Banten.
Tunggul jalitri itu kemudian disambung dengan tanaman anting putri (water jasmine, Wrightia religiosa). Selain dengan anting putri, tunggul jalitri juga bisa disambung dengan melati thailand (kutaja, coral swirl, white angel, Wrightia antidysenterica), yang belakangan ini juga banyak dijual di kakilima Jabodetabek. Proses penyambungan ini memerlukan keterampilan tersendiri, hingga harga tunggul jalitri yang sudah tersambung dengan anting putri, terlebih yang sudah berbunga, akan melambung mencapai ratusan ribu, bahkan jutaan rupiah.
Genus Wrightia terutama Wrightia antidysenterica sebenarnya sudah lama dikenal sebagai tanaman hias. Namun di Indonesia, khususnya di sekitar Jakarta, Wrightia baru beberapa tahun terakhir ini ngetrend di kalangan pecinta tanaman hias. Di India, melati thailand yang disebut kutaja, bahkan juga dikenal sebagai obat sakit perut, hingga diberi nama latin antidysenterica. Para produsen dan pedagang tanaman hias memang harus kreatif, tetapi tidak boleh reaktif. Trend tunggul jalitri yang disambung anting putri, merupakan kreatifitas yang masih wajar.
Beda misalnya dengan trend Anthurium daun dan Aglaonema yang pernah “booming” beberapa tahun yang lalu. Pada waktu itu masyarakat bukan “kreatif” melainkan “reaktif”. Mereka ingin memperoleh uang dalam jumlah besar, dalam jangka waktu singkat, dan dengan cara sangat mudah. Itulah sebabnya, pada waktu itu harga Anthurium daun dan Aglaonema bisa mencapai ratusan juta rupiah per tanaman. Ketika pasar sadar, harga Anthurium daun dan Aglaonema kembali normal, bahkan “jatuh” sepoerti sebelum “booming”.
Genus Wrightia merupakan anggota famili Apocynaceae yang terdiri dari 29 spesies dengan sebaran di kawasan tropis Afrika, Asia, dan Australia. Seluruh genus Wrightia berupa semak dan perdu berkayu. Jalitri, sebagai salah satu spesies genus Wrightia, memiliki kelebihan karena sebagai batang bawah (rootstock), mudah disambung dengan spesies lain dari genus Wrightia. Batang jalitri juga memiliki tekstur kulit yang kasar berwarna kecokelatan, hingga cukup artistik sebagai elemen taman.
Meski banyak spesies Wrightia yang bisa disambungkan ke batang bawah jalitri, yang paling populer tetap anting putri. Pucuk anting putri berwarna hijau kekuningan, seperti pucuk pangkas kuning (Duranta erecta var. alba). Setelah pucuk anting putri itu tua dan berwarna hijau, akan keluar bunga berwarna putih yang cukup lebat, bergelantungan seperti anting, yang dikenakan oleh seorang putri. Apabila diproduksi massal, jalitri yang disambung anting putri, sebenarnya berprospek untuk menjadi komoditas ekspor. # # #
Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan


