• DIPERLUKAN WINDBREAK PLANT

    by  • 16/05/2013 • PERTANIAN • 0 Comments

    November sampai Februari adalah musim angin barat, yang ditandai dengan hujan angin, kadang disertai dengan petir. Angin kencang itu akan mematahkan dahan tanaman, bahkan merobohkan pohon yang cukup besar. Tanaman padi, dan jagung juga bisa roboh diterjang badai. Untuk itulah diperlukan windbreak plant.

    Negara bagian Queensland, Australia, terkenal karena siklon tropisnya yang bisa menghancurkan apa saja, termasuk areal kebun buah-buahan tanaman keras. Maka, kebun apapun di Queensland, selalu dikelilingi dan dilindungi oleh tanaman keras, sebagai pematah angin (windbreak). Kebun pisang misalnya, harus dikelilingi oleh akasia, atau eukaliptus, yang terkenal berkayu kuat, dan tahan terjangan pharmacy online badai sekeras apa pun. Dengan adanya tegakan akasia dan eukaliptus di sekeliling kebun, maka angin yang masuk ke sana, akan hilang kekuatannya, hingga tanaman utama terselamatkan.

    Para petani padi di pantai selatan Jawa Tengah, terutama di Kabupaten Bantul, dan Kulon Progo (DIY), Purworejo, Kebumen, dan Cilacap (Jateng), harus melindungi tanaman can you buy viagra over the counter mereka dari angin yang membawa kristal garam dari laut. Untuk itulah mereka menanam pandan duri di sepanjang pantai. Angin yang datang dari laut, dan membawa kristal garam, akan tertahan oleh tanaman pandan duri, hingga ketika sampai di sawah, angin itu sudah terbebas dari kristal garam. Pandan duri sendiri memang tumbuhan pantai, yang kebal terhadap angin dengan kristal garam.

    # # #

    Secara tidak sengaja, para petani di Jawa selalu menanam tanaman keras di pematang petakan lahan pertanian mereka. Baik lahan sawah, maupun lahan kering. Petakan lahan sawah, biasanya ditanami ki hujan (trembesi), johar, lamtoro, dan angsana keling. Tanaman keras di tepi petakan lahan kering (ladang), lebih bervariasi lagi. Mulai dari waru, albisia, kaliandra, mindi, akasia gunung, dan masih banyak lagi. Tanaman buah-buahan seperti mangga, durian, duku, rambutan, alpukad, lengkeng, nangka, juga selalu ditanam petani di petakan lahan kering mereka.

    Tujuan utama petani menanam tanaman keras di tepi petakan lahan, sebenarnya dengan harapan bisa dipanen daunnya (untuk pupuk hijau, dan pakan ternak), diambil kayunya (untuk bahan bangunan dan kayu bakar), serta dipetik buahnya. Namun secara tidak sengaja, mereka telah membangun “benteng” yang sangat kokoh untuk meredam angin. Dengan adanya windbreak ini, angin sekencang apa pun akan menjadi lemah ketika masuk ke lahan pertanian. Sebab sebelumnya, angin akan bersentuhan dengan tanaman keras sebagai windbreak.

    Para pekebun berskala luas di Indonesia, justru sering melalaikan penanaman windbreak., dengan pertimbangan ekonomis. Investasi untuk menanam windbreak, dianggap terlalu memberatkan investasi. Padahal, dampak dari kerusakan kebun akibat angin, bisa jauh lebih besar lagi, dan akan terjadi secara rutin setiap tahun. Sementara investasi windbreak cukup hanya dilakukan sekali, pada awal investasi. Selain itu, tanaman windbreak, juga masih tetap bisa menghasilkan pendapatan tambahan bagi institusi kebun.

    Di beberapa kawasan, bambu juga bisa berfungsi sebagai windbreak. Batang bambu keras, kuat, tetapi lentur, hingga cocok untuk menahan angin. Perakaran bambu juga cukup kokoh, hingga rumpun akan sulit untuk tumbang. Kelemahan bambu, adalah tidak mungkin ditanam di sepanjanmg pematang sawah, atau tebing petakan lahan kering. Bambu hanya benar-benar cocok ditanam sebagai windbreak, terutama di sekeliling kebun. Biasanya, selain sebagai windbreak, bambu juga sekalian difungsikan sebagai pagar keliling kebun.

    # # #

    Ada beberapa persyaratan agar satu jenis tanaman bisa difungsikan sebagai windbreak. Pertama, kayu tanaman tersebut harus kuat dan liat. Kayu akasia dan eukaliptus di Australia adalah contoh windbreak yang baik. Kayu yang kuat diperlukan, agar cabang atau batang tanaman itu mampu menahan terjangan angin. Kedua, perakaran tanaman juga harus cukup dalam menembus tanah, hingga tanaman tidak tumbang diterjang angin. Tajuk tanaman juga tidak terlalu rimbun seperti halnya beringin, sebab justru akan menahan, dan bukan mematahkan angin.

    Albisia, ki hujan, dadap, dan gmelina, misalnya, tidak cocok sebagai windbreak, karena kayunya sangat lunak dan lemah. Tumbuhan yang berkayu keras pun, belum tentu cocok sebagai windbreak. Lamtoro, dan mindi, adalah tumbuhan berkayu keras, tetapi rapuh (mudah patah). Angsana keling, nangka, waru, dan johar, adalah contoh windbreak yang cukup baik, karena kayunya keras, tetapi juga liat. Penanaman windbreak, idealnya rapat, dan terdiri dari beberapa lapis. Di Jawa Tengah dan DIY, tanaman berkayu lunak seperti albisia dan ki hujan, juga tetap bisa berfungsi sebagai windbreak, karena secara rutin dipangkas.

    Dengan pemangkasan rutin, maka ki hujan yang biasanya tumbuh rindang dengan tajuk menyamping, akan tumbuh meninggi, dengan batang tunggal. Kayu batang itu juga akan menguat, karena tanaman cenderung tumbuh kerdil. Dengan karakter seperti ini, albisia, ki hujan dan gmelina yang berkayu lunak itu, akan mampu menjadi windbreak yang baik. Keuntungan memanfaatkan albisia, ki hujan, dan dadap untuk windbreak adalah, pertumbuhannya cepat, dan daunnya bisa untuk pupuk hijau (dibenamkan di lumpur sawah), atau untuk pakan ternak. (R) # # #

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *