STRATEGI MEMASARKAN RAMBUTAN
by indrihr • 08/09/2015 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Hasil rambutan Australia hanya sekitar 750 ton per tahun. Sangat kecil dibanding 517.869 ton hasil rambutan kita tahun 2013 (data Ditjen Hortikultura, Kementan). Tetapi Australia punya Rambutan and Tropical Exotic Growers Association Inc (RTEGA).
Sementara kita tak punya lembaga apa pun yang menangani bisnis pertanian buah tropis. Maka buah-buahan musiman seperti mangga dan rambutan, sering tak terpasarkan dengan baik. Rambutan lebih parah dari mangga, sebab termasuk buah non klimatorik (tak bisa diperam), padahal rambut kulit buahnya akan cepat rusak dan kering menghitam. Meskipun bagian dalamnya masih bagus, rambutan dengan kulit rusak demikian sulit untuk dipasarkan. Varietas rambutan yang kita budidayakan, terdiri dari dua jenis. Rambutan lebak bulus untuk industri (dikalengkan), dan rambutan binjai serta rapiah untuh dikonsumsi segar.
Di Indonesia, paling banyak dibudidayakan rambutan lebak bulus. Sebab tanaman ini mudah dibenihkan melalui cangkokan, buah berukuran besar, berdaging buah tebal, dengan produktivitas sangat tinggi. Kelemahannya, daging buah lebak bulus alot dan masam. Apabila daging buah itu diangkat, kulit biji yang tebal keras dan tajam akan ikut menempel pada daging buah itu. Maka, lebak bulus paling cocok untuk agroindustri rambutan kalengan. Daging buah rambutan itu akan dipotong dengan pisau khusus, lalu bagian tengah bekas biji diisi dengan potongan nanas. Rambutan dan potongan nanas ini dikalengkan bersama dengan sirup.
Meskipun rambutan lebak bulus paling banyak ditanam di Indonesia, tak pernah ada agroindustri rambutan dalam kaleng. Di Thailand, agroindustri rambutan dikerjakan secara manual oleh koperasi petani rambutan. Rambutan afkir hasil sortasi saat panen, langsung dikupas dan dibuang bijinya dengan pisau khusus, hingga kulit biji yang keras tak menempel pada daging buah tersebut. Hasil kupasan daging buah ini dibawa ke tempat pengalengan, yang berukuran 4 X 6 meter. Di sini sekelompok ibu-ibu menyusupkan potongan nanas ke daging buah rambutan, dan memasukkannya ke dalam kaleng.
# # #
Setelah diisi sirup dan dipasteurisasi, kaleng ditutup, diberi label dan siap dipasarkan. Thailand juga membudidayakan rambutan untuk dikonsumsi segar, yang mirip dengan rambutan binjai kita. Untuk menyiasati pemasaran, Negeri Gajah Putih ini menyelenggarakan Festival Rambutan dan Rambutan Fair di provinsi penghasil buah ini. Salah satu di antaranya Sisaket’s Rambutan and Durian Fair, yang secara rutin diselenggarakan tiap bulan Juni. Thailand pun mengalami kesulitan memasarkan rambutan sebagai buah segar. Sebab dibanding duku dan manggis, nilai nominal rambutan lebih murah.
Untuk mendongkrak pemasaran rambutan, diselenggarakanlah Sisaket’s Rambutan and Durian Fair. Event Festival Rambutan dan Rambutan Fair, sebenarnya hanya sekadar untuk meningkatkan popularitas rambutan. Sebab yang bisa dipasarkan selama event tersebut, tak terlalu banyak. Karenanya, pemerintah Thailand bekerjasama dengan pengusaha hotel dan restoran, mewajibkan hotel dan restoran menyajikan buah rambutan, disamping buah-buahan lain. Sebab seperti halnya di Indonesia, musim rambutan di Thailand selalu bersamaan dengan musim durian, dan manggis. Masalah pemasaran durian dan manggis tak seberat rambutan.
Selain Thailand, Filipina juga secara rutin menyelenggarakan San Pablo City’s Rambutan Festival. Tujuannya juga sama, yakni untuk menyelamatkan panen buah rambutan. Sebab buah ini akan masak secara serentak, dan cepat sekali rusak. Maka diperlukan upaya untuk menaikkan popularitasnya, hingga pada musim panen itu sebanyak mungkin orang akan mengonsumsi rambutan. Dalam festival ini diselenggarakan berbagai atraksi. Mulai dari pemilihan Miss Rambutan, lomba memanen rambutan, lomba makan rambutan, dan tentu saja pentas musik. Dengan cara ini hasil panen rambutan tidak akan tersia-siakan.
Meskipun hasil rambutan Australia hanya 750 ton per tahun, negeri ini juga berupaya keras agar hasil panen rambutan tak tersia-siakan. Sekitar 300 ton hasil panen rambutan itu secara rutin mereka ekspor ke Jepang dengan harga 10 dollar AS (Rp 120.000) per kilogram. Di dalam negeri, harga rambutan hanya 5 – 6 dollar AS (Rp 60.000 – Rp 72.000) per kg. Selama ini Jepang dikenal sebagai negeri yang sangat ketat menjaga kualitas produk pertanian yang masuk ke negerinya. Australia menyiasatinya dengan menyuguhkan rambutan kepada para turis Jepang, kemudian mempekerjakan tenaga profesional Jepang untuk menangani kontrol kualitas.
# # #
Di Indonesia, tak pernah ada upaya dari pihak pemerintah untuk menangani pemasaran produk pertanian, termasuk buah-buahan. Kabupaten Sleman, DIY; dan Kabupaten Banjarnegara, Jateng; merupakan penghasil salak pondoh utama Indonesia. Tiap kali panen raya, harga di tingkat petani akan jatuh, padahal harga di tingkat konsumen di Jakarta tetap stabil. Andaikan pemerintah (pusat, provinsi, atau kabupaten), berinisiatif menyelenggarakan festival salak, atau salak fair, tentu tak akan terjadi disparasi harga antara produsen dan konsumen yang cukup besar. Kalau salak yang sudah pasti berproduksi rutin pun tak pernah tertangani dengan baik, apalagi rambutan, yang merupakan buah musiman.
Biasanya, di sekitar DKI Jakarta musim rambutan jatuh pada bulan Desember dan Januari. Karena adanya pergeseran musim pada tahun 2014, rambutan di sekitar DKI Jakarta baru masak pada Februari dan Maret 2015. Demikian pula halnya dengan durian dan manggis. Karena musim rambutan terjadi ketika banyak hujan, maka rasanya kurang manis. Ini juga mengakibatkan konsumen tak menyukainya. Kondisi ini semakin menunjukkan, betapa penting strategi pemasaran rambutan, dan juga buah-buahan lain. Yang kemudian menjadi masalah, sebenarnya kita masih kekurangan buah-buahan.
Tingginya impor buah-buahan Indonesia, disebabkan oleh kurangnya produksi nasional. Food and Agriculture Organization (FAO), mencatat impor buah-buahan Indonesia 2011 meliputi apel 212,6 (ribu ton); jeruk 182,3; pear 133,5; lengkeng 116,2; anggur 106,3. Padahal sebenarnya kita bisa membudidayakan apel, jeruk, anggur dan lengkeng. Yang hampir tak mungkin dibudidayakan hanya pear. Upaya untuk mengurangi impor buah, hanyalah dengan cara meningkatkan produktivitas, hingga cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, sokur bisa mengekspor kelebihannya. # # #
Artikel ini pernah dimuat di Mingguan Kontan

