• “BANJIR” BUAH NAGA DI KAKILIMA

    by  • 19/10/2015 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Akhir tahun 2014 dan awal 2015, toko swalayan, kios buah dan pedagang kakilima di kota-kota besar Indonesia “dibanjiri” buah naga. Petani kita memang sudah bisa membudidayakan buah naga. Tetapi “banjir” buah naga kali ini berasal dari impor.

    Badan Pusat Statistik, mencatat impor buah naga Indonesia 2013 mencapai 21,7 ribu ton, dengan nilai 25,7 juta dollar AS atau Rp 283,4 milyar. Tahun 2014 dari Januari sampai November, impor buah naga Indonesia sebesar 8,8 ribu ton, senilai 7,9 juta dollar AS atau Rp 87,2 milyar. Meskipun ditambah dengan data impor bulan Desember, total impor buah naga Indonesia selama 2014 lebih kecil dibanding impor selama 2013. Tetapi, volume impor buah naga kita selama 2013 merata sepanjang tahun. Sementara pada tahun 2014, impor buah naga kita menumpuk pada pertengahan tahun.

    Buah-Naga-a

    Jadi, kalau kita membeli buah naga pada bulan Februari atau Maret 2015, kemungkinan besar kita membeli sisa-sisa impor pertengahan tahun 2014, yang baru saja dikeluarkan dari gudang berpendingin (cold storage). Sebagian besar buah naga yang kita impor, berasal dari Vietnam. Selama ini Vietnam merupakan penghasil buah naga utama dunia. Sekitar dua abad yang lalu, Bangsa Perancis telah mendatangkan  buah naga dari Meksiko, untuk dikembangkan di Jazirah Indochina. Perancis menguasai sebagian Jazirah Indochina (Vietnam, Laos, dan Kamboja) antara 1887 – 1945.

    Ada empat jenis buah naga. Yang paling awal dikenal masyarakat, buah naga berkulit merah, berdaging buah putih (pitaya blanca, white-fleshed pitaya, Hylocereus undatus). Kemudian buah naga dengan kulit dan daging buah merah keunguan (Hylocereus lemairei), dan berkulit serta daging buah merah tua (Hylocereus costaricensis). Dua jenis buah naga ini sama-sama disebut pitaya roja atau red-fleshed pitaya. Yang paling langka buah naga berkulit kuning, dengan daging buah putih (Pitaya amarilla, yellow pitaya, Hylocereus megalanthus). Buah naga kuning jarang dibudidayakan, karena produktivitasnya yang rendah, dan buahnya berukuran paling kecil.

    # # #

    Di Vietnam, buah naga seperti menemukan lahan dan cuaca yang lebih baik dari habitat aslinya di Meksiko. Vietnam dan Meksiko memang berada pada garis lintang paralel, yakni antara 10 – 20 derajat lintang utara. Dari Vietnam, buah naga menyebar ke Thailand, Tiongkok Daratan, Taiwan, Israel, dan Indonesia. Penyebaran buah naga ke Indonesia baru terjadi pada akhir dekade 1990an, dengan dibukanya kebun buah naga di Pantai Glagah, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo, DIY. Di Kabupaten Kulon Progo, buah naga bisa berbuah cukup produktif. Tetapi ketika dikembangkan di sekitar Bogor, hasilnya tak sebagus di Kulon Progo.

    Penyebab pertama, Kabupaten Bogor terkenal dengan curah hujannya yang cukup tinggi, hingga Kota Bogor diberi julukan sebagai “Kota Hujan”. Buah naga menghendaki kawasan yang kering dan berlahan pasir. Penyebab kedua, letak Pulau Jawa tidak lurus sejajar dengan garis lintang, melainkan makin ke timur makin bergeser ke selatan. Kabupaten Bogor terletak pada 6,5 derajat lintang selatan, sementara Kabupaten Kulon Progo terletak pada 7,5 derajat lintang selatan. Perbedaan satu derajat ini ikut pula menentukan hasil budi daya buah naga. Lahan di Kabupaten Bogor merupakan tanah vulkanis, sementara lahan di Pantai Glagah merupakan tanah pasir pantai, yang disukai buah naga.

    Buah naga baru akan berbuah optimum apabila mendapat sinar matahari selama 14 jam per hari. Di Vietnam kebun buah naga diberi tambahan sinar lampu antara 75 sampai 100 wat per lampu yang dipasang di antara deretan tanaman. Lampu akan dinyalakan selama 5 – 6 jam per malam selama dua bulan. Pada bulan Juli – Agustus, lampu dinyalakan selama 15 – 20 hari. Pada bulan Desember – Januari, lampu dinyalakan selama 20 – 25 hari. Dengan penambahan sinar lampu, buah naga akan bisa berbuah optimum, dibanding tanpa sinar lampu. Di Israel, buah naga tak perlu diberi tambahan sinar lampu, sebab panjang hari di kawasan ini bisa lebih dari 14 jam per hari, dan cuaca lebih banyak cerahnya.

    Buah naga merupakan tumbuhan famili kaktus (Cactaceae). Di habitat aslinya di Meksiko, empat spesies buah naga ini tumbuh liar di batu-batu karang, atau menempel di batang, cabang dan ranting pohon. Buah naga lebih tahan terhadap kekeringan, dibanding dengan kelebihan air. Maka buah naga dibudidayakan dengan menggunakan tiang-tiang beton setinggi 2 m, dengan bagian atas diberi jeruji dan lingkaran dari besi atau bahan lain. Sekitar 0,5 meter dimasukkan ke dalam tanah, dan yang 1,5 meter berada di atas tanah. Tiap hektar lahan bisa diberi antara 1.100 sampai 1.300 tiang pancang. Apabila lahan berupa tanah liat, sepanjang tiang pancang perlu digali memanjang dan diisi pasir.

    # # #

    Benih tanaman buah naga berupa setek, diikatkan pada tiang panjatan. Pelan-pelan akar buah naga akan melekat di tiang panjatan dan tumbuh ke bawah hingga menjangkau tanah.
    Cabang  primer dan sekunder yang tumbuh masih di bagian tengah tiang, harus terus diikat hingga tumbuh meninggi. Cabang-cabang yang tumbuh di ujung tiang baru dibiarkan menyebar ke segala arah, dengan cara diikatkan pada lingkaran yang terdapat di ujung tiang itu. Tanaman awal memerlukan pupuk urea dan SP3 masing-masing 50 kg, per hektar yang diberikan sebanyak tiga kali. Selanjutnya tanaman memerlukan urea, SP3 dan potasium masing-masing 0,5 kg per tanaman yang diberikan sebanyak tiga kali setahun.

    Buah naga juga memerlukan pupuk organik sebanyak 20 kg per tanaman per tahun. Meskipun buah naga peka terhadap air, tetapi tetap memerlukan irigasi rutin, terutama pada musim kemarau. Idealnya air diberikan dengan cara irigasi tetes (drip irigation), tetapi bisa pula dengan cara penyiraman biasa. Di Thailand, buah naga ditanam di atas bedengan yang dikitari kanal. Penyiraman dilakukan dengan menggunakan perahu motor. Cabang-cabang yang tumbuh di ujung tiang itulah yang akan menghasilkan bunga dan buah. Bunga tanaman buah naga, mekar pada tengah malam.

    Sama dengan bunga wijaya kusuma (ratu malam, Epiphyllum oxypetalum). Karenanya diperlukan serangga penyerbuk yang beroperasi pada malam hari. Ada beberapa jenis semut dan serangga lain yang biasa mengumpulkan polen (tepung sari), pada malam hari. Serangga inilah yang akan berfungsi sebagai penyerbuk.  Apabila di lokasi budi daya tak terdapat serangga penyerbuk, atau populasinya terlalu kecil, diperlukan penyerbukan (polinasi) secara manual dengan tenaga manusia. Pantai selatan Yogyakarta tampaknya merupakan lokasi ideal untuk membudidayakan buah naga, guna mengimbangi impor dari Vietnam. # # #

    Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan

    Sumber foto Buah Naga : <http://3.bp.blogspot.com/-DHrzxXGrkQ4/VHwoMs1W06I/AAAAAAAACQ8/Mkh1lFCs9-w/s1600/dragon%2Bfruit%2B5.jpg>

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *