• DUNIA TAK SELEBAR DAUN KELOR

    by  • 26/10/2015 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Itulah peribahasa, dengan makna dunia ini cukup luas tak hanya selebar daun kelor yang memang sangat sempit. Meskipun kecil, belakangan ini daun kelor “naik daun”. Popularitas tanaman ini naik tajam, meskipun belum seperti aglaonema dan anthurium daun.

    Minat masyarakat Indonesia secara nasional terhadap tanaman kelor belakangan ini, sebenarnya terlambat. Pertama di beberapa kawasan Indonesia, kelor sudah sejak lama menjadi tanaman faforit penghasil sayur sehat. Mulai dari pucuk daun, bunga, dan polong muda tanaman kelor enak disayur. Selain disayur bening, daun, bunga dan terutama polong mudanya juga biasa disayur lodeh. Di India, polong muda daun kelor dimasak kari, dengan rasa lebih lezat dari kari okra yang terkenal lezat itu. Akar kelor biasanya digunakan sebagai kondimen, bumbu berupa pasta. Rasa dan aroma kondimen akar kelor mirip dengan mustard sauce dan wasabi.

    Buah kelor berupa polong dengan biji berukuran cukup besar. Selama ini di negeri kita biji kelor hanya dikenal sebagai material untuk menjernihkan air. Padahal di dunia, biji kelor merupakan bahan minyak nabati yang cukup penting yang disebut Ben Oil. Minyak biji kelor sangat terkenal sebagai bahan conditioner rambut karena kandungan asam behenik (behenic acid) yang mencapai 8,6%. Asam behenik tak terdapat dalam minyak nabati lain seperti minyak sawit, minyak kelapa, bahkan juga minyak zaitun. Sejak ribuan tahun silam, minyak biji kelor diproduksi di India sebagai bahan dasar pengikat berbagai jenis parfum, karena aromanya yang netral.

    kelor-a

    Pertumbuhan tanaman kelor sangat pesat. Dalam jangka waktu satu tahun, benih dari biji bisa tumbuh sampai setinggi tiga meter. Kelor juga tahan banting karena mampu hidup subur dan produktif di lahan marjinal, dengan iklim ekstrem kering. Karenanya, di beberapa negara Afrika, misalnya di Ethiopia, dan di negara-negara bagian India yang esktrem kering, tanaman kelor sangat populer. India merupakan penghasil kelor utama dunia, dengan produksi polong mencapai 1,3 juta ton per tahun. Andhra Pradesh, Karnataka, dan Tamil Nadu merupakan produsen polong kelor utama India. Di dunia, tanaman kelor sangat populer sampai-sampai mendapat julukan sebagai pohon ajaib (the miracle tree).

    # # #

    Pemanfaatan kelor di Indonesia selama ini, masih sebatas sebagai bahan sayuran. Produksi biji kelor sebagai bahan minyak belum lazim, karena kalah populer oleh minyak kelapa dan belakangan minyak sawit. Pemanfaatan akar kelor sebagai kondimen juga sama sekali tak dikenal dalam masyarakat kita. Bahkan bagian tanaman yang disayur pun masih sebatas daun dan polong muda. Bunga kelor sebagai bahan sayuran tak terlalu populer. Masyarakat yang sudah terbiasa mengonsumsi daun dan polong muda kelor, masih menganggap aneh sayur bunga kelor. Padahal mereka sudah terbiasa mengonsumsi sayur bunga pepaya, dan bunga turi.

    Dibanding dengan Malaysia, Thailand dan terutama Filipina, pemanfaatan kelor di negeri kita masih sangat terbatas. Di beberapa kawasan di Indonesia, kelor sudah dibudidayakan secara terbatas sebagai tanaman sela. Meskipun polong dan daun kelor sudah dipanen dan dijual di pasar setempat, minat masyarakat untuk membudidayakan kelor secara monokultur dalam skala besar masih belum ada. Sebab tujuan utama budi daya kelor bukan sebagai penghasil sayuran, melainkan minyak nabati dan kondimen. Sementara di Indonesia, minyak nabati biji dan kondimen akar kelor tak dikenal.

    Minyak biji kelor dan kondimen dari akar tanaman punya pasar yang cukup baik di dunia. Minyak biji kelor punya karakter yang sangat spesifik sebagai bahan dasar parfum dan kondisioner rambut. Kondimen akar kelor juga beraroma dan berasa khas yang tak terdapat pada mustard sauce dan wasabi. Dua komoditas inilah yang bernilai cukup baik, hingga masyarakat India membudidayakannya secara massal. Daun, bunga, dan polong muda kelor sebagai sayuran, bukan merupakan produk utama, melainkan hasil sampingan. Tujuan utama budi daya kelor hanya untuk produksi minyak dan kondimen, yang di Indonesia justru tak terlalu dikenal.

    Fenomena itulah yang sebenarnya cukup mencemaskan, sebab euforia masyarakat terhadap komoditas kelor, tak pernah disertai oleh informasi bisnis yang jelas. Kelor memang tidak seperti cacing, jangkrik, aglaonema, anthurium, ikan louhan, dan belakangan ini batu akik, yang sebenarnya bukan merupakan komoditas dengan potensi ekonomi cukup besar. Potensi ekonomi kelor sangat besar, asalkan bukan mengandalkan daun, polong muda, dan bunga sebagai sayuran. Di beberapa negara Afrika, kelor memang dibudidayakan terutama untuk dipanen daunnya, kemudian ditepungkan bahkan juga dikapsulkan terkait dengan program perbaikan gizi.

    # # #

    Mayoritas masyarakat Indonesia memang bukan pelaku bisnis yang cerdas. Kali ini pun komoditas kelor tak dilihat sebagai penghasil minyak, kondimen dan sayuran, dengan nilai bisnis tinggi. Euforia kelor kali ini lebih terkait dengan posisinya sebagai tanaman ajaib yang dipromosikan bisa menyembuhkan aneka penyakit, termasuk kanker. Selama ini oleh kalangan tertentu, kelor juga diyakini mampu mengusir santet, ilmu gaib serta roh jahat dari tubuh seseorang. Itu pulalah yang kemudian menyebar secara samar-samar ke masyarakat. Untunglah euforia kelor kali ini tak disertai dengan penipuan, dengan informasi menyesatkan seperti pernah terjadi pada cacing dan jangkrik.

    Kelor juga disebut sebagai moringa, drumstick tree, horseradish tree, ben oil tree, dan benzoil tree (Moringa oleifera). Bisa tumbuh baik mulai dari dataran rendah sampai dengan elevasi 1500 m dpl. Perkembangbiakan bisa dengan biji dan stek cabang serta batang. Ranting juga bisa distek tetapi pertumbuhannya tak secepat cabang dan batang. Pertumbuhan benih dari biji sama cepat dengan pertumbuhan tanaman dengan benih stek. Kelor merupakan tumbuhan bandel, hingga batang atau cabang yang dipotong cukup panjang, lebih dari satu meter, akan tumbuh meskipun ditaruh di tempat yang kering dan panas.

    Belakangan ini benih kelor dicari-cari konsumen, meskipun mereka tak tahu untuk apa sebenarnya tumbuhan ini. Meskipun ada trend terhadap tumbuhan ini, harga benih kelor masih berada pada kisaran yang wajar. Benih yang sebelumnya hanya berharga Rp 20.000 dalam polybag ukuran sedang, sekarang naik ke kisaran Rp 50.000. Sampai sekarang juga belum ada pelaku bisnis dadakan yang menyelenggarakan “pelatihan budi daya kelor”. Tak tahu apakah masyakarat sudah lebih rasional, atau komoditas ini memang belum diketahui dengan baik oleh para pelaku bisnis dadakan. Andaikan Anda tertarik untuk membudidayakan kelor, arahkan untuk produksi minyak dan kondimen. Bukan untuk sayuran, terlebih untuk tujuan klenik. # # #

    Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan

     

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *