PELUANG BISNIS CEMPAKA PUTIH
by indrihr • 10/11/2015 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Di sebuah situs online, ditawarkan minyak cempaka non alkohol 5 ml, dengan harga Rp 50.000. Tak disebutkan jenis cempaka tersebut. Di situs lain, tanpa menyebut volume, minyak cempaka putih ditawarkan seharga Rp 300.000.
Itu semua bukan bisnis minyak wangi sebagai parfum, melainkan sebagai “pemikat lawan jenis”, atau pemèlèt. Di kalangan masyarakat Melayu, khususnya etnisitas Jawa, memang dikenal ilmu pèlèt, yakni ilmu untuk memikat hati lawan jenis. Dalam Bahasa Jawa, kata kanţil berarti melekat atau lèngkèt. Maka pengantin Jawa zaman dahulu, disyaratkan untuk menggunakan hiasan sanggul dan tangkai keris berupa untaian kuncup bunga kantil. Maksudnya, agar pasangan pengantin itu bisa kanţil, saling lèngkèt sampai kakek-nenek. Di situs online, ada juga tawaran berbagai minyak asiri, termasuk minyak cempaka putih (magnolia oil), Rp 112.500 volume 25 ml. Ini benar-benar bisnis parfum, tanpa embel-embel ilmu pèlèt.
Zaman dulu, kantil dan cempaka merupakan bunga komersial. Dua jenis bunga ini merupakan bagian dari “bunga tujuh rupa” untuk keperluan sesaji. Khusus bunga kantil, selain untuk sesaji, juga digunakan sebagai perangkat ilmu pèlèt. Zaman dulu pun, dua jenis bunga ini juga sudah digunakan sebagai parfum, berupa minyak cenceman. Bunga kantil, cempaka, kenanga, melati, mawar, sedap malam, atau irisan daun pandan, dimasukkan ke dalam minyak kelapa. Parfum bunga-bunga itu akan diikat oleh minyak kelapa. Tiap dua sampai tiga hari, bunga dalam minyak itu diambil dan diganti bunga baru. Proses ini dilakukan sampai belasan kali, hingga minyak kelapa itu menjadi jenuh dengan parfum dari bunga-bunga tersebut.
Umumnya, parfum cenceman hanya digunakan sebagai minyak rambut, oleh laki-laki maupun perempuan. Seiring kemajuan zaman, bunga kantil, cempaka, dan kenanga terlupakan. Maklum, zaman sekarang memèlèt hati lawan jenis bukan dengan bunga kantil, melainkan bunga bank. Parfum sintetis dengan aroma lebih ngejrèng, dan dengan harga lebih murah, juga mudah diperoleh di pasar-pasar tradisional di pelosok pedesaan. Masyarakat zaman sekarang tahu lagu daerah Aceh Bengong Jeumpa, tapi kemungkinan besar mereka tak tahu bahwa itu berarti bunga cempaka, flora identitas Provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Terlebih lagi kantil yang merupakan flora identitas Provinsi Jawa Tengah.
# # #
Di Jakarta pun ada kawasan bernama Cempaka Putih. Tapi masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut, belum tentu tahu bahwa cempaka putih merupakan nama lain dari bunga kantil. Bunga kantil yang berwarna putih, memang sering disebut cempaka putih, sementara bunga cempaka yang berwarna kuning dinamakan kantil gading. Dua jenis bunga ini awalnya sama-sama dikelompokkan dalam genus Michelia. Kantil Michelia alba, cempaka Michelia champaca. Tahun 1998, kantil dan cempaka dipindahkan ke dalam genus Magnolia. Kantil menjadi Magnolia x alba, cempaka Magnolia champaca. Waktu itu kantil dianggap sebagai hibrida alam dari cempaka dengan cempaka gunung (Magnolia montana).
Kemudian dari teknologi DNA, ketahuan bahwa kantil dan cempaka beda genus. Maka pada tahun 2005, kantil dikembalikan ke dalam genus Michelia, sementara cempaka tetap berada dalam genus Magnolia. Maka sejak 2005, nama latin bunga kantil kembali menjadi Michelia alba. Secara fisik, dua tumbuhan ini memang berbeda. Kantil bisa tumbuh menjadi pohon raksasa dengan tajuk rindang setinggi 20 meter. Sementara cempaka hanya berupa perdu dengan tinggi kurang dari 10 meter. Tingkat keharuman kantil juga lebih tinggi dari cempaka, dengan rendemen minyak asiri antara 2 sampai 3%. Rendemen cempaka kurang dari 1%. Maka bunga cempaka tak pernah didestilasi atau diekstrak menjadi minyak asiri.
Selama ini di masyarakat juga banyak ditanam bunga cempaka telur, cempaka gondok (Magnolia liliifera), yang hanya bisa tumbuh setinggi kurang dari lima meter. Namun bunga cempaka telur berukuran lebih besar, dengan bentuk cenderung membulat seperti telur, dengan warna putih kekuningan. Tingkat keharuman cempaka telur sangat rendah. Selain kantil, cempaka, dan cempaka telur, di dataran tinggi juga sering dijumpai bunga cempaka raksasa, berwarna putih, yang ketika mekar berdiameter sampai 10 cm, selebar lèpèk. Cempaka raksasa Magnolia grandiflora ini berasal dari Tenggara Amerika Serikat. Di negeri asalnya bunga cempaka raksasa ini bisa berdiameter 30 cm, selebar piring.
# # #
Magnolia merupakan genus besar, dengan jumlah spesies mencapai 242. Lain halnya dengan genus Michelia dengan spesies tunggal Michelia alba. Spesies-spesies genus Magnolia, umumnya tumbuhan iklim dingin. Cempaka telur merupakan salah satu spesies Magnolia tropis, yang berhabitat asli Asia Tenggara. Dengan potensinya sebagai penghasil minyak asiri, kantil layak untuk dikebunkan. Selama ini ketel-ketel penyulingan minyak asiri banyak yang menganggur. Jangankan kantil, kenanga pun juga terlupakan. Padahal sebelum Perang Dunia II, Pulau Jawa merupakan penghasil minyak kenanga utama dunia. Punahnya kenanga terutama disebabkan oleh nilai komersial kayu yang cukup baik.
Kantil punya kelebihan dibanding kenanga, karena rendemen minyaknya lebih tinggi. Panen bunga kantil juga lebih mudah dibanding kenanga, karena warna bunganya yang putih mudah terlihat. Bunga kenanga harus dipetik ketika masih berwarna hijau kekuningan, hingga tersamar di antara daun. Kantil hanya bisa diperbanyak melalui benih berupa biji. Kantil, dan cempaka sama-sama menghasilkan biji dalam volume cukup banyak, dan harus segera disemai karena masa dormansinya pendek. Sebaiknya semaian benih kantil ditanam di lahan budi daya ketika sudah berukuran di atas satu meter. Tanaman ini bisa tumbuh baik dan produktif, mulai dari dataran rendah (0 m) sampai ketinggian 1.200 m. dpl.
Agar memudahkan panen, sebaiknya pohon kantil terus dipangkas pendek, hingga setinggi tiga sampai empat meter. Bunga kantil dipanen ketika masih kuncup, menjelang mekar pada sore harinya. Minyak kantil bisa diambil dari bunga dengan destilasi (penyulingan), maupun ekstraksi. Pasar minyak asiri asli dari produk alami, tidak akan pernah mati karena kalah dari parfum sintetis. Meski berharga lebih tinggi, minyak asiri dari bunga asli, termasuk dari bunga kantil, pasti akan diserap pasar. Yang sampai sekarang menjadi permasalahan utama, pasokan bahan baku selalu kurang, atau sama sekali tak ada. Ini merupakan peluang bisnis yang tak banyak dikatahui investor. # # #
Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan
Foto : F. Rahardi

