BISNIS MUSIMAN TIMUN SURI
by indrihr • 30/11/2015 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Tiga bulan sebelum awal Ramadan, para petani timun suri di sekitar Jakarta mulai mengolah lahan. Dua minggu kemudian mereka akan menanam timun suri. Selanjutnya tiap minggu selama satu bulan, mereka akan terus menanam komoditas musiman ini.
Dengan cara itu, beberapa hari sebelum awal Ramadan, timun suri sudah bisa mereka panen. Komoditas ini sudah bisa dipanen pada umur dua sampai dengan dua setengah bulan setelah tanam. Dan selanjutnya, tiap hari selama bulan Ramadan masyarakat Jabodetabek akan menjadikan timun suri sebagai menu wajib berbuka puasa. Bahkan belakangan, trend di Jabodetabek, bukan hanya umat muslim yang menjadi konsumen komoditas khas Ramadan. Mereka yang tidak berpuasa karena bukan Muslim pun ikut berbelanja bahan kolak. Seakan bulan Ramadan memang identik dengan “bulan kolak”.
Hal yang sama juga terjadi pada komoditas lain khas Ramadan, seperti kurma dan timun suri. Mereka yang tidak berpuasa dan bukan Muslim pun juga membeli dan mengonsumsi kurma serta timun suri. Terlebih pada saat bulan Ramadan jatuh pada musim kemarau seperti belakangan ini. Sebagaimana kita ketahui, bulan Ramadan dan Idul Fitri akan selalu maju 11 hari dari Ramadan dan Idul Fitri tahun sebelumnya. Sebenarnya yang laris selama bulan Ramadan juga cincau, terutama cincau hitam. Tetapi cincau tak pernah digerai secara terbuka seperti halnya timun suri. Hingga yang tampak oleh masyarakat selama Ramadan hanya timun suri.
Ada tiga jenis timun suri yang selama ini dikenal masyarakat, yakni timun suri emas yang berbentuk lonjong berkulit warna kuning sampai oranye kemerahan; timun suri sulawesi berbentuk lonjong berwarna hijau keputihan; dan timun suri manohara berbentuk bulat dengan warna kulit putih. Mereka yang tahu timun suri, akan memilih timun suri sulawesi dan manohara, karena lebih harum, dan tidak mudah hancur seperti timun suri emas. Tetapi masyarakat Jabodetabek selama ini lebih menyenangi timun suri emas, karena penampilannya yang ngejreng, meski aroma wanginya tak sekuat timun suri sulawesi dan manohara.
# # #
Meskipun disebut timun, sebenarnya timun suri bukan spesies timun (Cucumis sativus), melainkan spesies melon (Cucumis melo). Meskipun timun suri dan timun biasa masih merupakan satu genus (Cucumis), dan satu famili (Cucurbitaceae, labu-labuan). Dalam bahasa Inggris, timun suri dikenal dengan nama Indian Snap Melon (Cucumis melo var. momordica). Timun suri lebih dekat dengan melon biasa (Cucumis melo var. reticulatus), melon madu dan hamigua (Cucumis melo var. inodorus), dan blewah (Cucumis melo var. cantalupensis). Kebetulan, timun suri dan blewah sama-sama laris manis sebagai minuman bulan Ramadan.
Timun suri dan blewah memang hanya bisa dikonsumsi sebagai minuman, bukan sebagai buah meja seperti melon biasa dan hamigua. Meskipun sama-sama menjadi minuman bulan Ramadan, keterkaitan blewah dengan bulan Ramadan, tak sekuat timun suri. Blewah tetap banyak dijual dalam bentuk buah, maupun es blewah, di luar bulan Ramadan. Sementara timun suri, hanya akan laku dipasarkan selama bukan Ramadan. Sampai sekarang belum pernah dijumpai restoran atau tukang es yang mencantumkan timun suri sebagai salah satu buah andalannya, pada bulan Ramadan sekalipun. Hingga timun suri selalu dijual dalam bentuk buah utuh, bukan es buah seperti halnya blewah.
Tahun 2005-2007 Charisma Eko Wicaksono mahasiswa Fakultas Biologi Universitas Gajah Mada, Yogyakarta; meneliti bentuk daun, buah, dan biji timun, timun suri, dan melon. Daun timun berbentuk segi lima, menyudut runcing serta bergerigi pada tepinya. Daun timun suri berbentuk bulat, tidak bersudut runcing, dan bergerigi pada tepinya. Bentuk daun melon adalah bulat, berlekuk, dan tidak bergerigi. Biji timun lebih pipih, dan panjang. Biji melon menggelendong, dan lebih pendek dari timun dan timun suri. Biji timun suri lebih pendek, dan lebih menggelendong dibandingkan dengan biji timun, dan lebih panjang dibandingkan dengan melon.
Buah timun berbentuk lonjong dengan diameter lebih kecil dibanding timun suri. Melon berbentuk bulat. Sehingga dapat ditarik garis besar bahwa ciri umum timun suri berada di tengah antara timun, dan melon, namun lebih dekat ke melon. Sebab buah timun yang masak tidak beraroma harum seperti timun suri, dan melon. Hasil penelitian, jumlah kromosom diploid timun suri 24. Jumlah kromosom diploid timun 2n=14, dan melon 2n=24. Hasil karyotype juga menunjukkan bahwa timun suri memiliki bentuk kromosom metasentris, dan memiliki kesamaan dengan varietas melon lokal. Berdasarkan jumlah kromosom, dan karyotype tersebut dapat disimpulkan bahwa timun suri bukan, dan tidak termasuk anggota spesies timun, namun lebih dengan melon.
# # #
Selama ini para petani melon memroduksi benih timun suri sendiri. Mereka akan menyisihkan beberapa buah timun suri kualitas terbaik pada penanaman timun suri tahun ini. Timun suri terbaik itu akan mereka biarkan sampai benar-benar masak, dan mereka ambil bijinya. Biji timun suri ini mereka simpan dengan baik, agar daya berkecambahnya tetap tinggi, meskipun telah disimpan selama setahun. Pada tahun 2016 nanti, sekitar dua setengah bulan sebelum awal Ramadan, biji timun suri hasil panen tahun 2015 ini akan mereka tanam. Karena harus tahan selama setahun, para petani akan menyimpan benih timun suri dalam botol kaca berwarna gelap, dengan ditutup kapas dan abu sebelum disumbat dengan daun kering atau kayu.
Benih yang diproduksi petani secara turun-temurun, telah menciptakan sub varietas tersendiri. Timun suri emas, sulawesi, dan manohara; sudah menjadi sub varietas tersendiri; yang khas Indonesia. Sama dengan blewah kita yang juga telah menjadi sub varietas yang berbeda dengan varietas induknya. Penampilan fisik tiga sub varietas timun suri kita, tak satu pun sama dengan varietas Indian Snap Melon yang dibudidayakan di India. Demikian pula dengan warna, tekstur, dan aroma daging buahnya. Ini merupakan pengaruh agroklimat di sekitar Jakarta, Jawa Barat (terutama Cirebon), dan Banten; yang merupakan sentra budi daya timun suri.
Sebenarnya, secara terbatas timun suri tetap bisa dijumpai di pasar di luar bulan Ramadan. Biasanya di luar bulan Ramadan harga timun suri hanya Rp 2.500 per kg. Mendekati bulan Ramadan harga timun suri merayap naik hingga menjadi Rp 5.000 bahkan sampai Rp 10.000 saat Ramadan tiba. Biasanya harga akan kembali menurun mendekati Idul Fitri. Sebab saat itu perhatian masyarakat sudah teralihkan ke menu Idul Fitri, bukan menu buka puasa lagi. Tinggi rendahnya harga timun suri pada bulan Ramadan, sangat ditentukan oleh keseimbangan pasokan dan permintaan. Tahun 2014 lalu, mungkin karena euforia Pilpres, harga timun suri tak sebaik 2015 sekarang ini. # # #
Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan
Foto : F. Rahardi

