• JAMBU JAMAIKA

    by  • 28/12/2015 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Saat sedang panen raya seperti sekarang ini, harga jambu jamaika di Pasar Glodok, Jakarta Barat,  turun menjadi Rp 25.000 sampai dengan Rp 30.000 per kilo. Ketika sedang tidak musim panen, harga jambu ini bisa sampai Rp 50.000 per kilo.

    Yang disebut jambu jamaika, sebenarnya jenis jambu bol biasa (jambu dersono, jambu kepal, jambu merah, malay rose apple, malay apple, Syzygium malaccense). Bedanya, kalau jambu bol berbentuk membulat, jambu jamaika berbentuk lonceng memanjang. Ukuran jambu jamaika bisa tiga kali lipat jambu bol. Warna jambu bol merah bergaris putih. Jambu jamaika berwarna merah tua atau hitam. Jambu bol biasa berasa manis sedikit masam. Rasa jambu jamaika sangat manis, dengan daging buah lunak, tidak renyah seperti jambu air. Tingginya harga, disebabkan oleh permintaan yang masih lebih besar dari pasokan.

    Jambu-jamaika-a
    Di Indonesia belum ada kebun jambu jamaika dengan skala puluhan apalagi ratusan hektar. Yang ada baru kebun-kebun kecil dengan luas kurang dari satu hektar. Jambu jamaika menghendaki agroklimat kering, dengan curah hujan kurang dari 3.000 mm per tahun. Sebenarnya di lahan dengan curah hujan tinggi, lebih dari 3.000 mm per tahun, jambu jamaika juga tetap bisa produktif, namun rasanya menjadi kurang manis. Selain itu, permukaan kulit buah hasil panen dari kawasan beragroklimat basah, cenderung lunak hingga mudah tergores dan rusak. Di kawasan beragroklimat kering, kulit buah akan lebih keras dan kuat.

    Jenis jambu ini menghendaki ketinggian lahan antara 0 m dpl, sampai 800 m dpl, dengan elevasi optimum 300 – 500 m dpl. Jambu jamaika menginginkan sinar matahari penuh sepanjang tahun. Dalam setahun, jambu jamaika akan panen dua kali, yakni pada bulan Agustus/September dan bulan Februari/Maret. Saat panen pada musim penghujan, rasa jambu jamaika akan cenderung kurang manis, bahkan tawar. Meskipun tak menghendaki agroklimat basah, jambu jamaika tetap memerlukan air tanah atau air irigasi cukup. Dengan benih sambungan (enten atau okulasi) umur tiga sampai empat tahun akan mulai berbuah.

    # # #

    Saat ini harga benih jambu jamaika sudah turun menjadi rata-rata Rp 15.000 – Rp 20.000 per polibag ukuran 35, dengan ketinggian 50 cm. Dulu saat baru diintroduksi dari Jamaika, harga benih jambu ini sampai Rp 250.000 per polibag 25 dengan ketinggian baru 30 cm. Jambu jamaika memang benar berasal dari Jamaika, sebuah negara pulau di Laut Karibia, Amerika Tengah. Jamaika sangat terkenal dengan penyanyi  reggae legendaris Bob Marley (Robert Nesta Marley, 1945 – 1981). Jambu jamaika sebenarnya merupakan jambu bol biasa dari Semenanjung Malaysia, Sumatera, dan Jawa, yang dibawa Bangsa Inggris ke Amerika Tengah.

    Jambu-jamaika-1a
    Jamaika memang merupakan koloni Inggris. Sama dengan Australia, sampai sekarang, kepala negara Jamaika masih Ratu Elizabeth II, dengan Gubernur Jenderal sebagai wakilnya. Agroklimat Jamaika relatif kering karena posisinya sudah 17° 59′ Lintang Utara, sejajar dengan Meksiko. Diintroduksi ke kawasan seperti ini, jambu bol kita bermutasi. Ukurannya menjadi sangat besar, bentuknya memanjang seperti lonceng, warna kulit memerah, bahkan ada yang hitam. Rasanya menjadi lebih manis dari jambu bol kita. Kalau daun jambu bol lebar dan membulat, daun jambu jamaika menyempit dan memanjang dengan ujung runcing.

    Diperkirakan, introduksi jambu bol ke Jamaika, pada awal abad 19, saat  Thomas Stamford Raffles menjadi Gubernur Jenderal di Jawa dan kemudian Bengkulu. Sebenarnya yang diintroduksi ke Jamaika dan negara-negara Amerika Tropis, bukan hanya jambu bol, melainkan hampir semua tanaman buah kita seperti belimbing, jambu air, dan pisang. Belimbing manis kita, di negara-negara Laut Karibia dan Amerika Tengah menjadi berukuran lebih kecil, dengan warna kulit buah kemerahan, dan lebih manis. Karena tak ada lalat buah, jambu bol dan belimbing di Kepulauan Karibia dan Amerika Tengah, tak perlu dibungkus.

    Pada kurun waktu bersamaan, buah-buahan dari Amerika Tropis juga diintroduksi ke Asia Tenggara. Jambu biji, pepaya, nanas, sirsak, srikaya, sawo manila; merupakan buah-buahan Amerika Tropis yang diintroduksi ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Sekarang, kita sudah menganggap jambu biji, pepaya, nanas, dan sirsak merupakan “buah asli” kepulauan nusantara, dan bukan buah introduksi. Sebagian besar masyarakat kita juga mengira bahwa jambu jamaika yang “diintroduksi” kembali pada akhir tahun 1990an, benar-benar merupakan spesies asli dari Kepulauan Karibia.

    # # #

    Di Kepulauan Karibia dan Amerika Tengah, jambu jamaika, jambu air, dan belimbing; tak perlu dibungkus. Di kawasan ini tak ada lalat buah, yang akan “menyuntikkan” telur ke permukaan kulit buah. Setelah menetas, larva lalat buah ini akan menjadi larva dan memakan daging buah hingga tampak busuk dan berulat. Yang disebut “ulat” berwarna putih seperti belatung, sebenarnya larva lalat buah. Dampak dari serangan lalat buah,  dari luar kulit buah tampak mulus, tetapi di dalam telah membusuk. Buah yang terserang lalat buah akan rontok berjatuhan sebelum masak.

    Selain dibasmi secara mekanik dengan perangkap yang diberi penarik berupa eugenol dan amoniak, lalat buah hanya bisa ditanggulangi dengan pembungkusan. Buah jambu jamaika, jambi air, jambu biji, dan belimbing di kawasan Asia, termasuk Indonesia, mutlak harus dibungkus dengan kertas atau plastik saat masih muda. Buah bisa dibungkus per satuan, atau secara kolektif satu dompol buah dilindungi oleh satu pembungkus besar. Selain untuk melindungi buah dari serangan lalat buah, pembungkusan juga bisa membuat warna kulit buah menjadi lebih menarik.

    Peluang budi daya jambu jamaika masih cukup besar, karena saat ini pasokan masih lebih kecil dibanding permintaan. Yang perlu kita perhatikan, spesies Syzygium malaccense, sangat rentan terhadap serangan penggerak batang. Batang jambu jamaika dan jambu bol umur lima sampai dengan 10 tahun, sangat rentan terhadap serangan penggerek batang. Satu-satunya cara penanggulangan, hanya dengan penyiraman akar atau infus menggunakan pestisida sistemik. Pada waktu perlakuan ini, tanaman harus selalu kita pangkas dan diberi pupuk N dosis tinggi, agar tak berbuah, karena buah ini akan mengandung residu pestisida. # # #

     

    Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan

    Foto-foto : F. Rahardi

     

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *