• CINCAU HITAM DAN CINCAU HIJAU

    by  • 15/02/2016 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Pasar cincau akan lesu pada musim penghujan, dan naik tajam tiap musim kemarau, terutama pada bulan Ramadan. Tapi cincau justru harus dibudidayakan pada musim penghujan untuk memperoleh hasil optimal.

    Itu hanya khusus untuk cincau hitam, yang produknya bisa disimpan lama setelah dikeringkan. Cincau hijau yang berasal dari daun cincau segar, harus terus diproduksi pada musim kemarau. Produk cincau dihasilkan dari beberapa jenis tanaman yang daunnya menghasilkan gel (jeli), semacam agar-agar untuk bahan minuman.  Ada dua jenis cincau, yakni cincau hitam dan cincau hijau. Cincau hitam hanya dihasilkan oleh tanaman janggelan, chinese mesona, Platostoma palustre. Tanaman ini berupa terna menjalar yang hidup di dataran menengah sampai tinggi.

    cincau-1a
    Budi daya janggelan bisa menggunakan benih vegetatif berupa stolon yang sudah berakar pada bagian yang menyentuh tanah. Benih ini paling cepat tumbuh besar dan menghasilkan daun. Cara kedua dengan benih generatif dari penyemaian biji janggelan. Di ketinggian 800 – 1000 m. dpl, janggalen tumbuh liar bersama dengan gulma darat lainnya. Tanaman ini termasuk bandel dan mudah sekali dibudidayakan. Bagian yang dipanen daun berikut batang. Cara memanen dengan disabit biasa seperti mengambil rumput. Setelah dipanen janggelan harus segera dikeringkan.

    Janggelan kering yang dikemas rapi, bisa disimpan sampai setahun tanpa mengalami kemerosotan kualitas. Daun dan batang janggelan kering inilah yang diperdagangkan ke seluruh Indonesia sebagai bahan baku cincau hitam. Kabupaten Blitar, Jawa Timur merupakan penghasil janggelan kering utama Indonesia. Tapi “penguasa” perdagangan janggelan kering bermarkas di Surakarta, Jawa Tengah. Dari sinilah bahan cincau hitam ini didistribusikan ke seluruh Indonesia, terutama pada musim kemarau dan saat bulan Ramadan. Para pedagang janggelan kering Surakarta, sudah menguasai perdagangan bahan cincau hitam ini selama puluhan tahun, hingga sulit untuk direbut oleh pihak lain.

    # # #

    Lain dengan daun janggelan kering yang bisa disimpan lama, produk cincau hitam yang dihasilkannya harus segera dipasarkan karena daya simpannya terbatas, meski sudah berada di ruang berpendingin. Karenanya cincau hitam hanya diproduksi sesuai kapasitas pasar. Saat musim penghujan seperti ini, konsentrasi lebih ditujukan ke budi daya. Nanti mulai bulan Maret mulai berkonsentrasi untuk panen dan pengeringan. Musim kemarau tinggal mendistribusikan produk. Ada dua cara pengolahan daun janggelan kering menjadi cincau hitam. Pertama pengolahan secara tradisional, kedua dengan metode ekstraksi.

    Pengolahan cara sederhana dengan merebus daun janggelan kering, dengan ditambah soda api (sodium hidroksida, NaOH). Setelah mendidih selama sekitar satu jam, rebusan itu disaring, didinginkan, dan dicampur dengan tepung tapioka, lalu dibiarkan menggumpal. Cara ini paling banyak digunakan para produsen cincau hitam, karena biayanya relatif murah. Produk yang dihasilkan cincau hitam siap konsumsi. Cara ekstraksi yang lebih canggih akan menghasilkan ekstrak daun cincau, yang bisa dicairkan dan digumpalkan menjadi cincau hitam, atau diolah lebih lanjut menjadi plastik organik (edible film), untuk pembungkus (pelapis/pelindung) bahan pangan, misalnya sosis.

    Sampai sekarang, produk plastik organik masih sebatas digunakan dalam produksi makanan. Sebab untuk produk non makanan, lebih murah plastik yang terbuat dari gas alam/minyak bumi. Plastik organik sebagai pelapis bahan makanan pun, masih lebih murah terbuat dari bahan lain, misalnya dari rumput laut, dibanding dari janggelan. Karenanya, sampai sekarang tanaman janggelan masih sebatas dimanfaatkan hanya sebagai cincau hitam dalam minuman, dan belum merambah ke penggunaan untuk plastik organik. Maka pengolahan daun janggelan menjadi cincau hitam juga masih menggunakan cara perebusan biasa, bukan ekstraksi.

    Janggelan sebagai bahan baku cincau hitam untuk minuman, merupakan komoditas dengan harga murah, namun dengan harga dan permintaan yang selalu stabil. Tak pernah ada “gejolak harga” cincau hitam. Stabilitas harga janggelan, terutama disebabkan oleh sifat komoditas yang bisa disimpan dalam bentuk kering. Tanaman cincau hitam juga sangat “bandel” hingga tak pernah mengalami gagal panen akibat serangan hama serta penyakit. Apabila pasokan dan permintaan selalu berimbang, harga bisa dipastikan akan stabil. Lain halnya dengan cincau hijau, terutama cincau rambat yang harga benihnya selalu tinggi.

    # # #

    Cincau hijau berasal dari dua jenis tanaman yang berbeda. Yakni cincau rambat (Cyclea barbata) dan cincau perdu (Premna oblongifolia). Cincau hijau yang dijajakan oleh pedagang menggunakan pikulan, terbuat dari daun cincau perdu. Sebab tanaman ini lebih mudah dan lebih cepat dibudidayakan dibanding dengan cincau rambat. Sampai sekarang cincau rambat lebih banyak dibudidayakan sebagai tanaman pekarangan di halaman rumah, dan daunnya dipanen untuk keperluan rumah tangga. Sebelum tahun 1960an, di pasar-pasar tradisional masih dijual daun cincau rambat.

    Cincau hijau dibuat dengan cara lebih sederhana. Daun cincau hijau segar, baik cincau rambat maupun cincau perdu, diremas-remas sambil diberi sedikit air. Hasil remasan ini disaring dan dibiarkan menggumpal. Produksi cincau segar untuk komersial, sudah menggunakan alat penghancur daun, misalnya diblender. Rasa cincau hijau dari bahan daun cincau rambat lebih harum dan lebih enak dibanding dengan cincau perdu yang berasa sedikit langu. Cincau perdu lebih banyak digunakan sebagai bahan cincau hijau untuk komersial, karena ketersediaan cincau rambat yang makin langka.

    Selain cincau rambat Cyclea barbata, belakangan juga dikenal cincau rambat china Platostoma palustre. Beda dengan cincau rambat biasa, daun cincau china lebih kecil dan lebih ramping, juga tak berbulu. Saat ini harga benih cincau rambat biasa berkisar antara Rp 40.000 – Rp 50.000 per polibag ukuran sedang. Harga cincau rambat china di polybag ukuran sama antara Rp 75.000 sampai Rp 100.000, karena tergolong masih langka. Tapi dalam waktu dekat, harga cincau rambat china pasti akan turun, karena perbanyakannya lebih mudah. Cincau rambat biasa hanya bisa diperbanyak dengan biji atau pemecahan umbi. Cincau china cukup dengan perundukan sulur. # # #

    Foto-foto : F. Rahardi

     

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *