TUBA SEBAGAI PESTISIDA ORGANIK
by indrihr • 28/03/2016 • Perkebunan, PERTANIAN • 0 Comments
Dulu, di kampung-kampung orang meracun ikan dengan akar tuba. Hingga ada pepatah: “Air susu dibalas dengan air tuba”. Saya dengar, tuba juga bisa untuk pestisida. Benarkah info ini, dan bagaimana cara budidayanya? (Asep, Purwakarta)
Sdr. Asep, tuba (jenu, Derris elliptica), memang merupakan salah satu sumber pestisida organik yang potensial untuk dibudidayakan secara massal. Saat ini sudah jarang orang yang mengenal sosok tanaman tuba. Dulu, masyarakat pedesaan memang mengenal tuba sebagai racun untuk menangkap ikan di sungai. Tuba adalah tumbuhan liana, yakni batangnya berkayu, tetapi memanjat dengan cara membelit. Hingga tanaman tuba selalu tampak tumbuh membelit tanaman lain.

Di seluruh dunia ada sekitar 204 spesies, sub spesies, varietas, dan kultivar tanaman Derris, tetapi yang paling banyak dibudidayakan adalah Derris elliptica. Tuba bisa diperbanyak dengan cara generatif (melalui biji), maupun vegetatif (stek batang/cabang). Perbanyakan dengan stek batang/cabang, akan lebih cepat menghasilkan individu tanaman baru. Perbanyakan tanaman menggunakan biji yang disemai, memerlukan waktu minimal tiga tahun, untuk menghasilkan akar yang siap dipanen sebagai bahan pestisida.
Sementara penggunaan benih stek, sangat tergantung dari diameter batang/cabang sebagai bahan stek. Di Thailand, tuba yang sudah dipanen akarnya, dibuang sebagian cabang dan rantingnya, lalu ditanam kembali. Cabang dan ranting yang dibuang, bisa disemai sebagai benih untuk budi daya tuba di lokasi lain. Dengan cara ini, panen akar tuba bisa dilakukan setahun sekali. Biasanya pada musim kemarau tuba dipanen, diambil akarnya, dan batangnya kembali ditanam di lokasi semula.
Akar tuba yang tidak segera digunakan sebagai pestisida, harus segera dijemur sampai kering, untuk disimpan. Pemanfaatan pestisida organik dari tuba, dengan cara menghancurkan akar tersebut, mencampurnya dengan air, menyaring ampasnya, dan menyemprotkan air tuba itu langsung ke tanaman yang diserang hama. Air tuba berwarna keputihan seperti susu, dan mengandung Rotenone, Tubatoxin, atau Paraderil (C23H22O6). yang merupakan racun kontak untuk hama serangga. Hingga akar tuba, hanya berfungsi sebagai insektisida.
Tuba juga berbunga dengan warna pink cerah yang tumbuh pada ujung malai. Masing-masing kuntum bunga akan menghasilkan polong, yang hanya berisi satu biji, dengan bentuk dan ukuran sebesar biji buncis. Polong tuba akan berjatuhan di sekitar tajuk tanaman. Masa dorman biji tuba sangat singkat, kurang dari satu bulan. Hingga biji yang terkumpul harus segera disemai. Penyemaian dilakukan dalam wadah pot yang cukup besar (tinggi), dengan media pasir campur humus atau kompos.
Budi daya tuba dengan benih stek, menggunakan cabang atau ranting berdiameter sebesar pensil atau jari tangan orang dewasa, dengan panjang potongan 30 cm. Bagian pangkal potongan stek, diolesi Rootone atau Bioroota (zat perangsang pertumbuhan akar). Kalau tidak tersedia dua bahan ini, bisa diganti dengan cairan umbi bawang merah yang dipotong. Penyemaian bisa dilakukan dalam pot dengan media pasir dan humus, atau di dalam lubang semai.
Pot dan lubang semai harus disungkup dengan plastik bening, sampai tunas stek tumbuh. Pembukaan sungkup dilakukan secara bertahap, hingga semai tidak stres. Budi daya tuba secara massal untuk tujuan komersial, tidak memerlukan tiang panjatan. Benih hasil semaian biji maupun stek, ditanam dengan jarak rapat pada bedengan, seperti halnya budi daya kentang atau ubijalar. Budi daya tuba menjadi alternatif menarik di tengah tingginya harga pestisida kimia. Selain itu, pestisida tuba jelas lebih ramah lingkungan. # # #
Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan
Foto : F. Rahardi
