MAWAR TABUR
by indrihr • 11/04/2016 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Jumat, 27 Juni 2014 merupakan awal bulan Puasa. Sejak tanggal 15 sampai 26 Juni; masyarakat Indonesia, akan melaksanakan ziarah makam. Mawar tabur menjadi komoditas yang paling dicari-cari sebagai sarana ziarah.
Mawar tabur dipetik pada tangkai bunga dekat kelopak, setelah mekar. Beda dengan mawar sebagai bunga potong, yang dipetik berikut ujung ranting dan daunnya, pada saat masih kuncup. Lain pula dengan mawar sebagai tanaman hias pot, yang biasa dipikul penjaja tanaman masuk gang-gang di Metropolitan Jakarta. Mawar pot yang dibungakan di dataran tinggi ini akan segera mati begitu ditanam di dataran rendah di DKI Jakarta. Mawar tabur hanya terdiri dari warna merah dan putih, sementara mawar sebagai bunga potong, dan tanaman hias pot, terdiri dari berbagai warna.
Mawar sebagai tanaman hias penghasil bunga, merupakan salah satu genus dari tumbuhan famili Rosaceae. Tanaman hias ini sudah dikenal sejak jaman Mesir kuno dan Babilonia. Spesies liar mawar tersebar merata mulai dari Eropa, Afrika, Asia dan Amerika. Genus mawar terdiri dari empat subgenera: Hulthemia, Hesperrhodos, Platyrhodon, dan Rosa. Genus Rosa inilah yang dikenal sebagai “bunga mawar” dan terdiri dari 11 sections: Banksianae, Bracteatae, Caninae, Carolinae, Chinensis, Gallicanae, Gymnocarpae, Laevigatae, Pimpinellifoliae, Rosa, dan Synstylae.
Di seluruh dunia tercarat ada 366 spesies mawar, dengan ribuan hibrida dan kultivar. Terbanyak, 95 spesies berasal dari Asia, 18 spesies dari Amerika dan yang 12 dari Afrika serta Eropa. Mawar tabur warna merah dan putih merupakan kultivar dari Rosa chinensis. Diduga mawar jenis ini sudah dibudidayakan sejak zaman Hindu. Varietas Rosa chinensis terdiri dari warna magenta, putih, pink, dan kuning. Rosa chinensis berasal dari China barat daya dan Myanmar, hingga mampu beradaptasi dengan iklim tropis. Di Indonesia, mawar tabur bisa dibudidayakan di dataran rendah sekitar Jakarta, meskipun dengan produktivitas rendah.
# # #
Ada dua sentra mawar tabur di Indonesia, yakni di Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang; dan di Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang. Dua-duanya di Jawa Tengah. Penghasil mawar tabur bandungan, tersebar di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Bergas, Kecamatan Bandungan, dan Kecamatan Sumowono. Tiga kecamatan ini terletak pada ketinggian antara 800 – 1000 m. dpl, di lereng Gunung Ungaran. Penghasil mawar tabur pakis juga tersebar di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Grabag, Kecamatan Pakis, dan Kecamatan Sawangan. Tiga kecamatan ini terletak di lereng Gunung Merbabu, dengan ketinggian berkisar antara 800 – 1000 m. dpl. Di dua sentra ini, mawar tabur dibudidayakan sebagai pembatas terassering lahan.
Para petani mawar tabur, hanya mengandalkan pendapatan mereka pada minggu ketiga dan keempat bulan Ruwah (Syaban), menjelang bulan Puasa (Ramadan). Kemudian pada akhir bulan Puasa, dan hari raya Idul Fitri. Pada saat itulah harga mawar tabur akan mencapai puncak tertinggi, hingga bisa mencapai lebih dari Rp 100.000 per keranjang, bungkus kain atau plastik dengan bobot sekitar tiga kilogram, di tingkat petani. Pada hari-hari biasa, harga mawar tabur hanya berkisar Rp 10.000 sampai Rp 30.000 per bungkusan sekitar tiga kilogram. Di Pasar Bandungan, harga mawar tabur tanggal 10 Juni 2014 sore, dan 11 Juni 2014 pagi; masih berkisar antara Rp 10.000 sampai Rp 20.000 per tiga kilogram.
Untuk mengantisipasi kebutuhan mawar tabur pada akhir bulan Syaban dan Ramadhan, para petani akan memangkas tanaman mereka sekitar tiga bulan sebelumnya. Budi daya mawar di dua sentra ini sama sekali tak memerlukan pupuk, dan hanya nèbèng tanaman pokok berupa sayuran. Dengan pemangkasan tepat, pada saat harga tinggi petani bisa menjual produk mereka. Akan tetapi, cara ini juga bisa menjadi malapetaka. Ketika semua petani di dua sentra ini melakukan hal yang sama, bunga akan melimpah di pasaran dan harga jatuh. Saat itulah bunga akan dibiarkan bermekaran tak dipanen.
Para petani, biasa memetik mawar tabur pada pagi hari, dan membawanya ke pasar sore hari sekitar Magrib. Mawar tabur yang mereka petik sore hari, akan mereka bawa ke pasar pada pagi hari mulai Subuh, dan akan selesai pada sekitar pukul enam pagi. Para petani membawa mawar tabur dalam keranjang bambu, lembaran kain atau plastik segi empat, yang empat ujungnya diikat jadi satu. Para pedagang pengumpul akan mendistribusikan mawar tabur ini ke seluruh Jawa Tengah dan DIY, yang merupakan pasar terbesar. Sisanya didistribusikan ke provinsi lain, termasuk DKI Jakarta.
# # #
Mawar tabur dalam ziarah makam, sebenarnya merupakan warisan dari tradisi Neolitikum Asia; yang kemudian dilanjutkan oleh Hindu, dan Buddha. Islam menolak tradisi ini, tetapi di Indonesia Etnis Jawa tetap menjalankannya. Dalam tradisi Neolitikum Asia, dikenal bunga tujuh rupa, dengan jenis disesuaikan ketersediaan bunga di masing-masing negara/daerah. Di Jawa, bunga tujuh rupa terdiri dari mawar merah, mawar putih, melati, kenanga, kantil, cempaka, dan sedap malam. Sebagai pengganti salah satu bunga, sering dipakai bunga selasih, dan irisan daun pandan. Sebab kenanga, kantil, dan cempaka, belakangan menjadi semakin langka.
Bunga tujuh rupa ini biasanya merupakan bunga sesaji, yang digunakan untuk berbagai ritual. Mulai dari upacara tanam dan panen padi, bersih desa, malam satu Suro, pernikahan, tujuh bulanan, kelahiran, selapanan, inisiasi (sunat), dan meninggal. Secara rutin, bunga juga digunakan untuk ziarah makam. Selain pada akhir Syaban dan akhir Ramadhan serta Lebaran, ziarah makam juga dilaksanakan secara rutin pada hari Selasa dan Jumat Kliwon. Tradisi itu pelan-pelan hilang dari lingkungan masyarakat Jawa. Yang masih tersisa tinggal ziarah makam, pada menjelang puasa, dan sekitar Idul Fitri.
Di DKI Jakarta dan sekiktarnya, tradisi ziarah makam ini juga masih terus berjalan. Mawar tabur di DKI Jakarta menjadi berharga sangat tinggi, sebab ditambah transportasi dari Semarang dan Magelang ke Jakarta. Maka budi daya mawar tabur juga dilakukan oleh para petani di sekitar Jakarta. Hasilnya tentu tidak sebaik mawar tabur di dataran tinggi. Maka di DKI Jakarta, bunga pacar air (Impatiens balsamina), digunakan sebagai substitusi mawar tabur. Pacar air merupakan tanaman semusim yang mudah dibudidayakan di dataran rendah. Agar beraroma mawar, bunga pacar air ini disiram dengan “air mawar”. # # #
Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan
Foto : F. Rahardi

