MELATI GAMBIR
by indrihr • 25/04/2016 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Di situs Amazon, minyak melati biasa murni (Jasminum sambac Absulute) dijual 36,95 dollar AS kemasan 30 ml. Dengan kurs Rp 13.000 per 1 dollar AS, harga minyak melati sambac Rp 480.350 per 30 ml atau Rp 14,4 juta per liter.
Harga minyak melati gambir murni (Jasminum officinale Absolute) 103,50 dollar AS atau Rp 1.345.500, kemasan 30 ml. Hingga harga minyak melati gambir kemasan satu liter Rp 40,3 juta. Itu harga di tingkat konsumen, belum termasuk biaya kirim. Harga jual para produsen ke pedagang besar berkisar 50% dari harga tersebut. Hingga harga minyak melati biasa sekitar Rp 7 juta, sementara minyak melati gambir Rp 20 juta per liter. Minyak melati (Jasmine Absolute) merupakan hasil ekstraksi dari bunga melati, baik melati biasa (Jasminum sambac) maupun melati gambir (Jasminum officinale).

Masyarakat pada umumnya hanya mengenal melati biasa untuk dironce sebagai hiasan sanggul pengantin, atau tangkai keris. Melati biasa berdaun tunggal, berbentuk bundar telur, bertepi rata, berwarna hijau terang. Kuncup bunga berbentuk bulat berwarna putih. Kelopak bunga juga berbentuk bulat berjumlah delapan saling menindih (overlapping). Melati sambac akan mekar sekitar pukul tujuh sampai delapan malam, dengan aroma harum memancar ke mana-mana sepanjang malam. Pada pagi hari sampai siang, bunga melati biasa masih tetap mekar, tetapi sudah tak harum.
Melati gambir berdaun majemuk, satu tangkai terdiri dari lima sampai tujuh helai daun. Empat atau enam daun berpasangan dan satu daun tumbuh di ujung tangkai. Bentuk daun lanset oval (ujung meruncing) berwarna hijau gelap. Kuncup melati gambir berbentuk ujung tombak berwarna merah tosca. Setelah mekar, kelopak berwarna putih, berjumlah lima helai, berbentuk oval. Bagian bawah kelopak masih tersisa warna merah toska. Melati gambir juga mekar pada pukul tujuh sampai delapan malam, menebarkan aroma harum semalam suntuk. Pagi sampai siang hari masih mekar, tetapi sudah tak harum.
# # #
Pantai utara Kabupaten Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, sampai ke Kabupaten Kendal, Jawa Tengah merupakan sentra melati sambac. Selain di Jawa Tengah, melati sambac juga dibudidayakan di Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Bangkalan (Madura), Jawa Timur. Melati sambac dibudidayakan untuk dua kebutuhan. Pertama sebagai bahan melati ronce, dengan pasar utama Rawa Belong, Jakarta Barat. Kedua sebagai campuran teh wangi (chinese tea, jasmine tea). Teh ini di masayarakat dikenal sebagai “teh tubruk” yang sering disajikan dengan wadah poci. Jadi melati sambac dibudidayakan untuk dua kebutuhan.
Selain melati sambac, di pantai utara Kabupaten Tegal dan Pemalang, Jawa Tengah, juga bisa kita jumpai melati gambir dalam areal terbatas. Selain di dua kabupaten ini, melati gambir juga dibudidayakan di Kabupaten Purbalingga dan Banjarnegara, Jawa Tengah. Lain dengan melati sambac yang dibudidayakan untuk dua kebutuhan, melati gambir hanya dibudidayakan sebagai bahan campurar teh wangi. Bentuk dan ukuran melati gambir tidak memungkinkannya untuk dironce sebagai hiasan sanggul pengantin maupun tangkai keris. Karenanya pasar melati gambir lebih terbatas. Dengan makin meluasnya konsumen teh celup, pasar teh wangi mengecil, yang berdampak pada menyusutnya areal budidaya melati gambir.
Di Kabupaten Tegal dan Pemalang, sebagian petani melati gambir beralih ke melati sambac. Sampai sekarang Indonesia masih kekurangan melati sambac. Pada musim hajatan pernikahan, para pedagang melati sambac terpaksa mengimpor komoditas ini dari Thailand. Di Kabupaten Purbalingga dan Banjarnegara, melati gambir berganti komoditas jeruk siam, dan jambu air. Sekarang, apabila kita melewati jalan raya Purwokerto – Wonosobo, di sepanjang jalur Purbalingga – Banjarnegara, akan kita temui pedagang jambu air. Pada akhirnya, teh wangi akan menjadi komoditas elite, yang diproduksi secara terbatas, dengan harga lebih tinggi dari teh celup.
Melati gambir pun akan menjadi komoditas elite sebagai campuran teh wangi. Aroma melati gambir memang lebih wangi dibanding melati sambac. Sebenarnya potensi melati gambir ini bisa dikembangkan oleh dua pemerintah kabupaten di Jawa Tengah ini. Sebagai bahan baku minyak asiri, melati gambir lebih potensial karena harganya yang lebih tinggi dibanding melati biasa. Teknik ekstraksi melati menjadi minyak melati murni juga sudah kita kuasai. Secara detil panduan ekstraksi melati bisa didapat di Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (BALITRO), Cimanggu, Kota Bogor, Jawa Barat. Yang jadi masalah, volume bahan baku yang masih sangat kecil.
# # #
Rendemen melati sambac maupun melati gambir hanya dua permil (2‰). Untuk menghasilkan 1 kg minyak melati murni, diperlukan setengah ton bunga melati. Dari tiap hektar lahan melati, rata-rata bisa dihasilkan 600 kg bunga per tahun. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2014, produksi bunga melati Indonesia sebesar 36.000 ton, dari luas lahan hanya 60 heltar. Seluruh produksi bunga melati sambac dan gambir itu diserap oleh agroindustri teh wangi, dan khusus untuk melati sambac, juga diserap oleh pasar bunga untuk dironce. Merosotnya areal pertanaman melati gambir akibat beralihnya konsumen dari teh wangi ke teh celup, semestinya tak berdampak ke penurunan areal pertanaman, apabila ada agroindustri minyak melati murni.
Agroindustri minyak melati murni, baru dimungkinkan apabila harga bunga melati gambir di bawah Rp 30.000 per kg dan melati sambac di bawah Rp 20.000 per kg. Dalam keadaan tertentu, harga bunga melati sambac bisa tembus di atas Rp 100.000 per kg, bahkan tahun lalu pernah mencapai Rp 250.000 per kg. Biaya ekstraksi minyak melati berkisar Rp 2.000.000 untuk menghasilkan 1 kg minyak melati murni. Berarti harga bunga melati gambir untuk diproduksi harus di bawah Rp 30.000 per kg, agar bisa diperoleh marjin Rp 6 juta; dan melati biasa harus di bawah Rp 20.000 per kg agar diperoleh marjin Rp 4 juta.
Semakin rendah harga bunga, semakin tinggi marjin yang akan diperoleh. Namun demikian, agroindutri minyak melati murni tak bisa hanya mengandalkan limpahan bunga saat harga sedang jatuh. Terlebih melati sambac yang harganya bisa di atas Rp 100.000 sementara harga minyaknya jauh lebih rendah dari minyak melati gambir. Maka agroindustri minyak melati murni, hanya bisa direalisasikan, apabila menggunakan bunga melati gambir, yang khusus dibudidayakan untuk diekstraksi. Sayang, para petani sudah terlanjur beralih ke komoditas lain, karena terbatasnya informasi yang sampai ke mereka. # # #
Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan
Foto F. Rahardi
