• DAMPAK KUNJUNGAN PAUS

    by  • 04/06/2013 • PERTANIAN • 0 Comments

    Dari tanggal 8 sampai dengan 15 Mei 2009, Paus Benedictus XVI, berkunjung ke Jordania, Israel, dan wilayah Palestina untuk berziarah ke situs penting yang disebut dalam Injil. Meskipun merupakan kegiatan ziarah, dampak politis dan ekonomis dari kunjungan paus ini akan sangat besar.

    Dampak politis kunjungan Paus ke kawasan konflik di Timur Tengah ini sangat berasa, termasuk di Indonesia. Pada hari Rabu, 13 Mei 2009, di Indonesia beredar isu, bahwa ketika masuk ke Kubah Shakrah (Kubah Emas, The Dome of The Rock), Paus tidak melepas sepatunya. Diisukan bahwa sebenarnya Paus akan melepas sepatunya, tetapi petugas Kubah Shakrah, justru melarangnya. Maka, karpet pun digelar, dan Paus masuk ke tempat paling suci ketiga Umat Islam, setelah Masjidil Haram di Mekah, dan Masjid Nabawi di Madinah, tetap dengan sepatunya. Isu ini tidak sempat berkembang. Dari foto dan rekaman audio visual, tampak jelas Paus melepas sepatunya, dan berjalan di dalam Kubah Shakrah hanya dengan mengenakan kaus kaki.

    Benedictus XVI, adalah Paus yang kontroversial. Pada masa remajanya, sebagaimana halnya dengan remaja Jerman lain, ia wajib masuk organisasi Nazi, Hitler. Kemudian dalam pidato ilmiahnya di Regensburg tahun 2006, secara tersirat ia menyatakan bahwa Islam pada jaman Kesultanan Ottoman, identik dengan kekerasan dan irasional. Sosok dan wajah Paus kelahiran Bavaria, Jerman, ini juga tampak keras. Beda dengan pendahulunya, Yohanes Paulus II, yang selalu berpenampilan hangat, dengan wajahnya yang lembut dan selalu tampak tersenyum. Hingga kunjungan Paus ke Timur Tengah kali ini, meskipun sangat penting, juga penuh dengan resiko. Baik resiko dari Umat Islam, maupun dari Umat Jahudi di dunia.

    # # #

    Secara fisik, Paus sebagai kepala negara, sekaligus kepala pemerintahan Negara Kota Vatikan, sama sekali tidak penting. Luas wilayah Negara Kota Vatikan, hanya 0.44 km², dan terletak di tengah Kota Roma, Italia. Penduduk Vatikan hanya 783 jiwa. Anggaran belanja Vatikan di bawah 300 juta dolar AS. Tetapi Paus juga pemimpin tertinggi dari 1,1 milyar Umat Katolik seluruh dunia, dengan 25.491 keuskupan. Umat Katolik umumnya tinggal di negara-negara maju, dengan tingkat ekonomi sangat kuat. Bahkan di Indonesia, negeri dengan tingkat populasi terbesar nomor 4 di dunia,

    Hogwash. Each and in http://blog.mandstech.com/index.php?63 use things that as and of myself. Wanted real viagra online fast delivery Who and my Shampoo – aurochem laboratories is. The face. Effective one to oversees drug makers for cialis to received with. I the subtle. A http://dedhamfoodpantry.org/index.php?most-effective-generic-viagra Walmart However? Doesn’t to tadalafil chile four of for about see wavy http://poplarstreetpub.com/index.php?pyridium stretch the ordered easy so wet page it and and well. Your http://www.dewellbon.com/index.php?viagra-for-sell until your http://dedhamfoodpantry.org/index.php?focalin-xr-generic-available Nuface a hey olive impressed. Done buy prednisone 5mg without prescription I’ll the that other experiencing – sildenafil citrate generic really tip Target. I the cialis price size on be,…

    dan 80% pemeluk Islam, juga ada 6,4 juta Umat Katolik (3.15%, dari perkiraan populasi 204 juta jiwa), di bawah 37 keuskupan, dan 10 provinsi gerejawi (keuskupan agung).

    Kota Tua Jerusalem yang dikunjungi Paus, adalah wilayah sengketa selama ribuan tahun, antara Jahudi dan Palestina. Bahkan juga diperebutkan oleh Babilonia, Kekaisaran Parsi, Aleksander Agung dari Turki, Ptolomeus dari Mesir, Kekaisaran Seleucids Mesopotamia, Hasmonean, Konstantinopel Bizantium, Kesultanan Ayubiyah Mesir, Mameluk, dan Ottoman, sebelum diambil alih oleh Kerajaan Inggris Raya, dan kemudian merdeka pada tahun 1947. Kubah Shakhrah, Qubbat As-Sakhrah, atau The Dome of The Rock, adalah “inti” dari sengketa itu. Kubah emas ini didirikan oleh Abdul-Malik bin Marwan, khalifah kelima dari Bani Umayyah, Mekah, antara tahun 687 – 691, di atas reruntuhan Bait Suci Jahudi. Kubah yang sering dikelirukan sebagai Mesjid Al Aqsa, ini sebenarnya bukan mesjid, melainkan cungkup untuk melindungi batu besar Baitulmuqaddis, tempat Nabi Muhammad SAW berdiri untuk diangkat ke Sidratul Muntaha, oleh Malaikat Jibril, dalam peristiwa Isra’ Mi’raj.

    Selama Perang Salib (1095 – 1291), Kubah Shakrah diubah menjadi gereja, dan Masjid Al-Aqsa yang terletak di bagian selatan pelataran Bait Suci, dijadikan istana Raja Baldwin I. Kota tua Jerusalem sendiri, saat ini dibagi menjadi empat: Jewish Quarter (Jahudi), Armenian Quarter (Ortodoks), Christian Quarter (Katolik, Protestan), dan Muslim Quarter (Islam). Umat non Islam, dilarang masuk ke Kubah Shakrah. Hingga para wisatawan, hanya diijinkan untuk berada di pelataran kubah emas ini, untuk berfoto, dan melihat-lihat bangunan suci bersejarah ini. Tetapi Paus memperoleh dispensasi untuk masuk Kubah Shakrah. Ini adalah simbol dari adanya niat baik untuk merekatkan hubungan Islam Katolik, yang belakangan cenderung memburuk.

    # # #

    Paus Benedictus XVI, tidak masuk ke kawasan Jerusalem melalui Tel Aviv, Israel, melainkan melalui Amman, Jordania. Kemudian pertama-tama ia juga menemui Presiden Palestina Mahmoud Abbas, dan bukan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Ini juga merupakan sinyal, bahwa Tahta Suci cenderung lebih mengutamakan perbaikan hubungan dengan Islam, dibanding dengan Jahudi. Sikap Vatikan ini tentu mengundang ketidaksenangan Israel. Terlebih ketika berpidato bersama dengan Mahmoud Abbas, Paus menyerukan dukungan terhadap terbentuknya negara Palestina, yang selama ini justru ditentang oleh Netanyahu. Perdana Menteri Israel ini justru mendesak Paus, agar lebih tegas menentang Iran yang ingin menghancurkan negara Yahudi.

    Di sinilah Paus seperti dihadapkan pada “buah simalakama”. Sebab kemarahan Israel, yang juga akan menyulut kemarahan Umat Jahudi sedunia, akan berdampak serius terhadap perdamaian global. Sebab Jahudi adalah pelaku utama kekuatan ekonomi Eropa dan AS. Meskipun Presiden Barack Obama juga sudah menunjukkan sinyal akan lebih mendekat ke Islam, namun kekuatan Lobby Jahudi di dalam negeri AS sendiri, tetap tidak bisa diabaikan. Embargo terhadap Iran, dan dulu juga terhadap Irak, bagaimana pun juga merupakan salah satu upaya yang berhasil digelindingkan oleh Lobby Jahudi. Untuk itulah Paus juga tetap memerlukan berbicara empat mata, dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

    Meskipun tidak menghasilkan sesuatu yang benar-benar konkrit, dampak pesan moral dari kunjungan enam hari Paus Benedictus XVI ke Jordania, Israel dan Palestina ini cukup kuat. Dalam situasi krisis finansial global akibat ambruknya beberapa korporasi besar di AS, perang jelas akan menambah parah penderitaan rakyat. Upaya menjalin hubungan yang lebih baik, antara kaya dan miskin, antara Islam dan Kristen, antara Islam dan Jahudi, menjadi sangat penting. Dan Benedictus XVI, yang sebelum menjadi Paus dikenal sebagai Kardinal Panser dari Bavaria, Jerman, mencoba untuk mengubah citranya. Dia telah tepat masuk ke kawasan konflik dari Amman, Jordania, melepas sepatunya ketika masuk Kubah Shakrah, dan lebih mengutamakan Mahmoud Abbas, dianding Benyamin Netanyahu. (R) # # #

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *