TALAS KALIURANG
by indrihr • 15/08/2016 • Pangan, PERTANIAN • 0 Comments
Selama ini masyarakat hanya mengenal talas bogor dan talas pontianak. Dua jenis talas ini merupakan talas darat. Hasil penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) baru-baru ini, menunjukkan dari 20 talas lokal potensial, talas kaliurang menunjukkan keunggulan.
Meskipun masyarakat luas hanya mengenal talas bogor, sebenarnya di Kabupaten Bogor dan sekitarnya ada tiga varietas talas yang paling banyak dibudidayakan petani. Nomor satu talas bentul, dengan tulang daun hijau dan tangkai daun hijau bergaris coklat membujur. Warna daging umbi kekuningan, dengan tekstur dan tingkat kekerasan sedang. Talas bentul merata dibudidayakan di Kota Bogor, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Sukabumi. Nomor dua talas sutera. Daun, tulang daun, dan tangkai daun jenis talas ini berwarna hijau terang. Daun berbulu halus, hingga diberi nama talas sutera.

Umbi talas sutera berwarna putih, gembur, lunak, dan berasa tawar. Nomor tiga talas gambir atau disebut juga talas mentega. Talas ini berdaun hijau, tulang daun ungu terang, tangkai daun ungu dengan bagian pangkal kehijauan. Warna daging umbi kuning, tekstur lengket dan agak keras. Talas gambir sering dipasarkan oleh para pengecer sebagai “talas ketan”. Talas ketan yang sampai dengan tahun 1980an sangat populer, saat ini sudah tak dibudidayakan lagi. Selain tiga jenis talas itu, di sekitar Bogor juga masih dibudidayakan pula talas roma dan talas pandan dengan pangkal pelepah daun kemerahan.
Talas pandan berciri khas harum seperti aroma daun pandan. Talas bentul saat ini paling populer dan sekaligus paling banyak dibudidayakan, karena genjah. Umur enam sampai dengan tujuh bulan daging umbi sudah cukup padat hingga bisa dipanen. Talas bentul diduga merupakan persilangan alami antara talas gambir dengan talas sutera. Itulah sebabnya daging umbinya merupakan perpaduan antara karakter daging umbi talas sutera yang putih, lunak dan gembur, dengan talas gambir yang keras, lengket dan berwarna kuning. Selain genjah, sulur talas bentul sangat pendek dan tanpa dibuang pun umbi akan tumbuh normal.
# # #
Tahun 1980an, di kawasan Bogor hanya dibudidayakan talas ketan. Daun, tulang daun, dan pelepah daun jenis talas ini berwarna ungu. Ukuran tanaman maupun umbi paling besar. Warna daging umbi kuning kecoklatan, keras dan lengket seperti ketan. Talas ketan berumur paling panjang, baru bisa dipanen setelah antara delapan sampai 10 bulan. Talas ketan juga tak bisa ditanam di atas bedengan, dan harus dibuatkan lubang satu per satu, dan diberi pupuk kandang. Talas ketan cukup banyak memroduksi sulur. Pembuangan sulur harus dengan membongkar tanah di sekitar pangkal tanaman.

Budi daya talas ketan cukup sulit dan rumit. Hasilnya memang sepadan. Umbi talas ketan berukuran besar, dengan kualitas daging umbi paling baik. Setelah dikukus, tanpa disimpan dalam kulkas pun, talas ketan bisa tahan sampai tiga hari. Tahun 1980an, para petani di sekitar Bogor hanya membudidayakan talas ketan. Waktu itu talas sutera sudah ada, tetapi jarang sekali yang membudidayakan. “Waktu itu talas sutera tidak laku, karena berukuran kecil, warna daging umbi putih, dan lembek,” kata seorang petani di Ciawi. “Tapi sekarang tak ada lagi yang mau membudidayakan talas ketan.
Tahun 1990an, para petani mulai mengenal talas bentul. Karena genjah, talas bentul dengan cepat berkembang di kalangan petani di sekitar Bogor. Sebutan talas bentul di sekitar Bogor, mengacu pada talas darat (Colocasia esculenta varietas esculenta), yang dibudidayakan di lahan kering. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, terminologi bentul digunakan untuk menyebut talas air (Colocasia esculenta varietas aquatilis), yang dibudidayakan di lahan sawah. Talas pontianak, merupakan talas air, dengan ciri khas daging buahnya berwarna putih keunguan. Di Jawa, talas air sudah mulai jarang dibudidayakan.
Hasil pendataan Puslit Bioteknologi LIPI di Lampung, Jawa, Bali, dan Sulawesi Selatan, diperoleh 713 sampel tanaman talas lokal. Dari 713 sampel itu, setelah dilakukan studi morfologi dan biokimia (isozymes), diperoleh 180 morfotipe talas. Dari 180 morfotipe itu 20 kultivar merupakan varietas lokal potensial untuk dikembangkan. Varietas Kaliurang, merupakan kultivar paling baik karena produktivitas, daya tahan terhadap penyakit, serta rasa daging umbinya yang enak. Sayangnya, di Kaliurang, Kabupaten Sleman, DIY; budi daya talas masih belum sepopuler di sekitar Bogor.
# # #
Di kota Bogor, kawasan Puncak, dan jalur jalan raya Ciawi – Sukabumi; talas merupakan komoditas wisata dengan harga sangat tinggi. Harga satu ikat talas gambir yang oleh para pedagang disebut sebagai “talas ketan” bisa sampai Rp 150.000. Satu ikat talas gambir itu berisi tiga talas dengan bobot sekitar tiga kilo, atau per kilonya Rp 50.000. Padahal, umbi talas itu masih disertai dengan sebagian pelepah daun bagian pangkal, yang berbobot sekitar 200 gram. Hingga harga umbi talas tanpa tangkai, sebenarnya lebih dari Rp 50.000 per kilo. Sementara di pasar swalayan Jakarta, harga talas yang sama paling tinggi Rp 15.000 per kilo.
Di Hawaii, negara bagian AS di kepulauan Pasifik, di Taiwan, dan Jepang; umbi talas dipasarkan tanpa dikerok kulit luarnya. Dengan kulit luar masih utuh, umbi talas bisa bertahan empat sampai dengan enam bulan, tanpa mengalami penurunan kualitas. Di luar kawasan wisata Bogor, talas juga dijual masih utuh tanpa dikerok, hingga bisa tahan berbulan-bulan tanpa mengalami kerusakan. Bahkan di pasar Bogor pun talas belitung (kimpul, bothe, keladi, Xanthosoma sagitifolium); juga dipasarkan masih berkulit utuh. Dengan dikerok kulit luarnya, talas bogor hanya bisa bertahan paling lama lima hari. Setelah itu sebagian atau seluruh umbi akan rusak.
Meskipun talas Bogor sudah sedemikian populer, sebenarnya tingkat produktivitasnya sangat rendah. Indonesia tak masuk dalam 50 negara penghasil talas dunia, yang dibuat oleh Food and Agriculture Organization (FAO). Bahkan Hawaii yang sangat terkenal dengan poi (bubur talas) dan lau-lau (buntil daun talas) pun, hanya tercatat pada ranking 35 penghasil talas dunia. Itu pun bersama atas nama AS, berarti berikut negara bagian Florida yang juga menanam talas. Sampai sekarang, Nigeria masih merupakan penghasil talas terbesar dunia dengan produksi 3,4 (juta ton). Menyusul RRT 1,7; Cameroon 1,6; Ghana 1,2; dan Papua Nugini 0,25. # # #
Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan
Foto-foto : F. Rahardi
