HARGA CPO DALAM ICE-PO 2009
by indrihr • 04/06/2013 • Perkebunan • 0 Comments
Selama bulan Mei 2009 ini, harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil, CPO), menembus angka 750 $ AS per ton. Padahal, pada akhir tahun 2008, harga CPO sempat anjlok pada 560 $ AS per ton. Harga tandan buah segar (TBS) juga ikut naik dari Rp 350 per kg pada akhir 2009, menjadi Rp 1.400.
Lonjakan harga CPO inilah antara lain, yang akan dibahas oleh para peserta Konferensi dan Pameran Internasional Minyak Kelapa Sawit 2009 (International Conference and Exhibition on Palm Oil 2009, ICE-PO 2009). Acara yang juga akan membahas isu bahan bakar nabati ini, akan diselenggarakan di Jakarta, 27 – 29 Mei 2009. Sekitar 40 orang pelaku utama bisnis minyak sawit dunia, akan membahas lonjakan harga CPO, bahan bakar nabati, dan lingkungan hidup. Selama acara konferensi, juga akan berlangsung Pertemuan Teknis Kelapa Sawit, yang akan diikuti oleh sekitar 400 tenaga teknis (manajer), agroindustri kelapa sawit dari seluruh dunia. Para analis pasar global juga akan hadir untuk memberikan gambaran, prospek CPO di masa mendatang.
Konferensi ini menjadi sangat penting, karena para pelaku bisnis sawit dalam perencanaan pada akhir 2008, memrediksi harga CPO hanya berkisar antara 400 $ AS sd. 600 $ AS per ton. Sebab permintaan pasar dunia memang menurun tajam, sebagai akibat dari krisis finansial AS yang kemudian berpengaruh terhadap krisis ekonomi dunia. Sebelum terjadi krisis finansial AS, harga CPO sempat menembus angka 1.000 $ AS per ton. Hingga ketika itu, harga TBS bisa mencapai Rp 2.000 per kg. Tidak stabilnya harga CPO selama akhir 2008 dan awal 2009 ini, akan sangat berpengaruh terhadap sektor industri, yang bahan bakunya menggunakan CPO. Selama ini CPO hanya dikenal sebagai bahan baku minyak goreng. Padahal di beberapa negara maju, CPO sudah populer sebagai bahan baku oleokimia, untuk industri plastik dan tekstil.
# # #
Sebenarnya, kenaikan harga CPO hingga tembus ke angka di atas 750 $ AS, masih wajar. Sebab pekebun sawit, baru akan longgar, ketika harga CPO berkisar pada 700 $ AS. Bahkan sebenarnya, pada kisaran harga CPO antara 400 sd. 600 $ AS pun, para pekebun sawit masih bisa bertahan, meskipun margin yang diperoleh sangat kecil. Justru ketika harga CPO di atas 1.000 $ AS, kondisi bisnis CPO dan turunannya menjadi tidak wajar. Sebab sepanjang 2008, permintaan dan penawaran CPO cenderung seimbang, dan stok dunia juga cukup. Tingginya harga CPO sepanjang 2008, sebelum anjlok pada bulan November dan Desember, lebih disebabkan oleh permainan spekulan, yang aktivitasnya lebih dikenal sebagai future trading. Hingga bisnis CPO sepanjang Januari – Oktober 2008, sebenarnya merupakan bisnis “gelembung sabun”.
Sebenarnya, yang menjadi pertanyaan para pelaku bisnis sawit sekarang ini, bukan soal kenaikan harga CPO ke tingkat di atas 750 $ AS, melainkan cepatnya kenaikan harga itu. Sebab prediksi para pelaku bisnis sawit, selama 2009 ini kenaikan harga CPO tidak akan tembus ke angka 600 $ AS. Sebab krisis finansial AS yang kemudian menjadi penyebab krisis ekonomi global, polanya mirip batu yang dilempar ke permukaan kolam yang tenang. Titik jatuhnya batu menjadi pusat gelombang, yang secara bertahap akan menyebar ke seluruh permukaan kolam. AS adalah titik gelombang, menyusul Uni Eropa, Jepang dan negara-negara maju lainnya, baru sampai ke negara berkembang serta negara-negara miskin. Saat ini, tujuh bulan setelah kasus Lehman Brothres, di AS, Jepang dan Singapura baru merasakan dampak dari krisis ekonomi itu. RRC dan India, dua negara dengan populasi penduduk di atas 1 milyar jiwa, anehnya justru bisa bermanuver lebih cepat dalam mengatasi krisis. Sebab ketergantungan negeri ini pada komoditas ekspor maupun impor, justru tidak terlalu besar. Dua negara raksasa ini sudah lama berswasembada pangan. Ekspor produk tekstil, sepatu dan sandang RRC serta India misalnya, relatif kecil dibanding dengan kebutuhan dalam negeri mereka. Maka dengan mengarahkan produksi untuk kebutuhan dalam negeri, penurunan volume ekspor bisa segera diatasi. Relatif stabilnya perekonomian dua negara ini, sedikit banyak juga ikut mempercepat pulihnya harga CPO dunia, yang produksinya masih didominasi oleh Indonesia dan Malaysia.
Di lain pihak, isu lingkungan hidup juga ikut mendorong negara-negara maju untuk meninggalkan produk kain dan plastik dari bahan minyak bumi dan gas alam yang suatu ketika akan habis, serta menggantinya dengan bahan yang bisa terus-menerus diproduksi ulang. Dari sekian banyak bahan baku oleokimia, CPO merupakan alternatif paling menarik, karena harganya yang relatif murah. Sampai saat ini, belum ada satu tanaman pun, yang bisa memroduksi lemak nabati seefektiv dan seefisien kelapa sawit. Namun di lain pihak, pembukaan perkebunan secara massal di Indonesia, juga mengundang kritik yang cukup tajam dari LSM serta lembaga donor asing. Perkebunan sawit di Sumatera, telah mendesak habitat gajah dan harimau, sementara di Kalimantan telah merusak habitat orang utan.
# # #
Sebenarnya, kenaikan harga CPO sekarang ini, di lain pihak juga berpengaruh negatif terhadap karakter para pelaku bisnis sawit. Selama ini para investor, hanya mau berkebun sawit. Pembenihan, terlebih pemuliaan varietas unggul, mereka abaikan. Akibatnya, untuk perluasan kebun, kita kekurangan benih. Impor dari Malaysia tidak diijinkan oleh pemerintah. Maka sejak akhir 1990an, marak pemalsuan benih. Korban benih palsu paling banyak ada di Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan. Meskipun kita kekurangan benih, dan investor juga tidak tertarik masuk ke sana, pelaku baru yang ingin terjun menangani breeding juga tidak memperoleh dukungan dari para pelaku lama. Sementara mereka sendiri juga tidak kunjung memperbesar volume produksi.
Kenaikan harga CPO selama lima bulan pertama 2009, juga akan kembali mengendorkan minat investor untuk masuk ke industri hilir. Padahal, nilai tambah yang akan diperoleh negara, juga penyerapan tenaga kerja, akan cukup besar dari agroindustri hilir sawit. Dari agroindustri pengolahan CPO menjadi oleokimia, akan terbuka pula peluang kita untuk memroduksi fatty acids, fatty alcohols, fatty acid methyl ester, fatty amine, glycerine dan lain-lain. Selain oleokimia, CPO juga masih bisa diolah lebih lanjut menjadi bahan deterjen (liquid maupun powder), loundry soap, toilet soal dan lain-lain. Agroindustri hilir berbahan CPO dan olein tersebut, selama ini lebih banyak dilakukan di luar negeri, karena investor kita lebih tertarik masuk ke bisnis perkebunan.
Agroindustri oleokimia akan menghasilkan oleokimia dasar, yakni asam lemak (dan turunannya), serta oleokimia sekunder. Dari dua produk ini bisa dihasilkan metil ester asam lemak, gliserol dan turunannya, serta fatty alcohol dan turunannya. Dari bahan-bahan ini kita akan bisa memroduksi tekstil sintetis, plastik, resin sintetis, bahan pembersih logam, kosmetik, emulsi faler, biodisel, pelumas, lilin, deterjen, dan pestisida. Selain itu TBK (Tandan Buah Kosong), sabut, serta cangkang (tempurung) biji sawit, juga masih banyak yang tidak termanfaatkan. Padahal bahan-bahan ini masih bisa diolah lebih lanjut untuk pulp, Midle Density Fibre (MDF), karbon aktiv, dan lain-lain. Itu semua pasti akan menjadi bahan diskusi yang menarik dalam ICE-PO 2009. (R) # # #
