• DOMBA YANG BERUBAH JADI KAMBING

    by  • 28/11/2016 • PETERNAKAN • 0 Comments

    Seorang peternak dari Sumatera Utara kebingungan karena ternak kambingnya  terserang penyakit kulit, dan banyak yang menderita diare. Ketika ia menghubungi Dinas Peternakan setempat, dikirimlah dokter hewan, untuk mengobati ternak peliharaannya.

    Meski sudah diperiksa dan diobati, kambing peliharaannya tetap saja masih banyak yang sakit. Populasi kambing peternak tersebut mencapai ribuan ekor. Waktu itu awal tahun 1990an, telepon seluler pertama Motorola International 3200 baru saja diproduksi massal dan baru satu dua masuk Indonesia. Jaringan internet belum ada. Maka peternak itu pun menyempatkan diri ke Jakarta, mencari konsultan untuk peternakan kambingnya. Karena tak tahu siapa yang harus dihubunginya, peternak tersebut datang ke saya. Ia bertanya apakah saya tahu seorang ahli kambing untuk dijadikan konsultannya.

    kambing-a
    Saya bertanya kepada peternak tersebut, jenis kambing yang dipeliharanya. Ternyata ia memelihara kambing jawa dan kambing gembel, dan diberi pakan yang sama, yakni rumput gajah. Inilah pokok soalnya. Saya lalu menjelaskan, bahwa kambing jawa dan kambing gembel merupakan ternak dari genus berbeda, dengan jenis pakan yang berbeda pula. Kambing jawa (kambing) termasuk genus Capra (Capra aegagrus hircus), dan kambing gembel (gibas, biri-biri, domba) masuk genus Ovis (Ovis aries). Kambing dan domba jelas beda genetik, habitat dan makanan. Kambing hidup di hutan dan gunung, pemakan daun-daunan (daun semak, perdu, dan pohon). Domba hidup di savana, pemakan rumput, dan gulma daun lebar.

    Dalam Bahasa Inggris kambing disebut goat dan dagingnya dinamakan mutton (ˈmʌtn). Domba disebut sheep dan dagingnya lamb (læm). Sebutan kambing jawa, dan kambing gembel atau kambing gibas, berasal dari kosakata Bahasa Jawa, yang kemudian diadopsi oleh Bahasa Indonesia. Dalam Bahasa Jawa kambing disebut wedhus jowo, dan domba disebut wedhus gembel. Maka ketika sudah dipotong pun, daging domba juga disebut sebagai daging kambing. Cobalah kita teliti, apakah di Indonesia ada penjual sate, gule (gulai), dan sop (sup) domba atau biri-biri? Yang ada selalu sate, gule dan sop kambing. Bagi orang Jawa, dan kemudian juga orang Indonesia, domba hanyalah salah satu jenis kambing.

    # # #

    Badan Pusat Statistik (BPS), mencatat populasi ternak domba di Indonesia tahun 2015 sebanyak 16,5 juta ekor. Jumlah itu cukup besar, meskipun masih kalah dibanding kambing dengan populasi 18,8 juta  ekor. Namun begitu 16,5 juta ekor domba yang dipelihara peternak Indonesia itu dipotong, dikuliti, kemudian dijual segar maupun menjadi sate, gule dan sop, nama domba menghilang, berganti dengan kambing. Itulah yang menyebabkan para peternak baru, atau pengusaha peternakan yang tak terlalu mengenal ternak mereka, menyamakan domba dengan kambing, baik kandang maupun pakannya. Memang kalau lapar, kambing juga mau makan rumput, dan domba juga mau makan daun-daunan. Tapi dampaknya, berbagai penyakit akan menyerang dua jenis ternak ruminansia ini.

    Di Indonesia dikenal empat jenis domba. Pertama domba ekor tipis. Domba ini dianggap sebagai domba lokal Pulau Jawa (Javanesse Thin-Tailed Sheep). Ciri khasnya berbulu putih dengan blok hitam pada sekeliling mata. Bobot domba jantan 30 – 40 kg, betina 20 – 30 kg. Domba ini termasuk paling bandel dan paling banyak diternak dengan cara diumbar (digembalakan), terutama di dataran rendah Pantura Jawa. Diduga, domba ini berasal dari Timur Tengah dan secara estafet, dibawa oleh pedagang Arab ke India, kemudian dibawa oleh pedagang Hindu ke Jawa pada awal millenium I. Kedua domba ekor gemuk. Juga disebut domba donggala, domba kibas. Ciri khasnya ekor berupa daging dan lemak yang cukup tebal. Bobot domba jantan 50 – 60 kg, domba betina 40 – 50 kg.

    Domba ekor gemuk baru masuk ke Indonesia dari Timur Tengah dan India pada abad 18. Selain dibawa oleh para pedagang Arab dan India, domba ekor gemuk juga didatangkan oleh Pemerintah Hindia Belanda dari Persia antara tahun 1731 – 1779. Ketiga domba garut atau domba priangan. Domba lokal ini merupakan domba ekor tipis dan diduga hasil persilangan antara domba ekor tipis, domba ekor gemuk, dan domba merino pada abad 19. Penyilangan domba garut diprakarsai oleh Adipati Limbangan. Meskipun disebut domba garut, sebaran ternak ini meliputi kabupaten Bandung, Garut, Sumedang, Ciamis, dan Tasikmalaya. Bobot domba jantan 50 – 80 kg, domba betina 30 – 50 kg. Ciri khas domba garut tak punya telinga. Belakangan doma garut lebih dikenal sebagai “domba aduan”.

    Keempat domba batur (domba domas, domba banjarnegara) juga merupakan domba ekor tipis. Domba batur sebenarnya merupakan domba Texel yang diintroduksi pada tahun 1980an dan berkembang di Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara, Jawa Tengah. Domba Texel sendiri merupakan domba yang berkembang di Texel, Negeri Belanda, yang kemudian juga diternakkan di AS, Australia, dan Selandia Baru. Domba jantan berbobot 90 – 120 kg, domba betina 60 – 90 kg. Domba batur kemudian dibawa ke Lampung dan dibudidayakan di dataran rendah dan bisa beradaptasi dengan baik, meskipun pencapaian bobot hidup tak bisa sebaik di Wonosobo dan Banjarnegara yang merupakan kawasan dataran tinggi.

    # # #

    Entah mengapa secara kultural orang Sunda di Jawa Barat lebih senang domba dibanding kambing. Dari populasi domba nasional sebesar 16,5 juta ekor, sebanyak 10,8 juta ekor terdapat di Jawa Barat, dan sisanya tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Lain dengan kambing. Populasi kambing nasional tersebar merata. Terbanyak di Jawa Tengah 3,9 juta ekor, Jawa Timur 3,1 juta ekor, Jawa Barat 2,3 juta ekor dan Lampung 1,2 juta ekor. Hingga domba identik dengan masyarakat Sunda di Jawa Barat, dengan jenis domba garut sebagai kebanggaan. Secara geografis, kawasan Jawa Barat memang lebih basah dibanding Jawa Tengah dan Jawa Timur, hingga sepanjang tahun akan selalu ada rumput sebagai pakan domba.

    Dengan disebutnya daging domba sebagai “daging kambing”, sebenarnya masyarakat dirugikan. Selama ini ada anggapan bahwa daging kambing mengandung kolesterol paling tinggi dibanding daging sapi, daging ayam dan ikan. Padahal tidak. Kandungan kolesterol daging kambing justru lebih rendah dibanding daging sapi, meskipun tetap lebih tinggi dibanding daging ayam dan ikan. Ini semua disebabkan oleh menyusupnya daging domba yang kandungan kolesterolnya memang paling tinggi. Jadi “daging kambing” yang selama ini dianggap mengandung kolesterol tinggi, sebenarnya merupakan daging domba. Salah kaprah demikian sebenarnya merugikan konsumen, dan juga “nama baik” kambing sebagai penghasil daging rendah kolesterol.

    Kembali ke cerita awal, peternak dari Sumatera Utara itu memutuskan tak jadi mencari konsultan khusus ahli kambing. Ia langsung pulang dan mengubah pola pakan ternak peliharaannya. Kambing hanya ia beri daun-daunan, terutama albisia (sengon, jeungjing), nangka, lamtoro, pisang dan lain-lain, sementara dombanya tetap ia beri rumput gajah, dicampur dengan jenis rumput lain. Dokter hewan tetap ia minta datang untuk mengobati ternaknya yang terserang penyakit kulit. Tapi sejak ia membedakan pakan dua jenis ternak ruminansia ini, penyakit diare pada kambingnya tak datang-datang lagi. Beberapa bulan kemudian, ia datang lagi menemui saya, sekadar untuk mengucapkan terimakasih. # # #

    Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan
    Foto : F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *