PAITAN SEBAGAI PESTISIDA ALAMI
by indrihr • 27/02/2017 • Herbal, PERTANIAN • 0 Comments
Di halaman rumah keluarga kelas menengah di pinggiran Jakarta, tampak tanaman paitan tumbuh merimbun mengalahkan tanaman lain. Ini agak aneh. Meskipun bunga paitan yang berukuran besar berwarna kuning cerah sangat bagus, tetapi tanaman ini jarang ditemukan sebagai hiasan di halaman rumah.
Ternyata, belakangan ini memang ada fenomena menanam paitan untuk diambil daunnya. Daun paitan diyakini oleh masyarakat ampuh untuk menstabilkan kadar gula dalam darah penderita diabetes. Saking yakinnya para pengguna paitan, hingga tanaman ini mendapat julukan sebagai “daun insulin”. Dari pada mencari-cari daun insulin yang banyak tumbuh liar di alam bebas ini, lebih baik menanamnya di halaman rumah. Maka di halaman rumah berbagai kalangan di kota besar Indonesia, sekarang sering kita jumpai tanaman paitan. Sebenarnya ada dua tanaman yang bergelar daun insulin. Pertama paitan, dan kedua yakon.

Paitan, maringgo, malinggong, krinyo, kirinyu, rondo semoyo, harsaga, ki pait, kayu paik, tree marigold, Mexican tournesol, Mexican sunflower, Japanese sunflower, Nitobe chrysanthemum (Tithonia diversifolia); merupakan semak, terna berkayu, tumbuh merumpun setinggi satu sampai dua meter. Berbunga kuning cerah, berbentuk seperti bunga matahari, tetapi berukuran lebih kecil. Tanaman ini berasal dari Amerika Tengah, tetapi sekarang sudah menyebar di seluruh kawasan tropis di Indonesia. Di Indonesia paitan tumbuh liar mulai dari tepi pantai, sampai kawasan pegunungan dengan ketinggian 1.500 m. dpl.
Beda dengan paitan, yakon (Smallanthus sonchifolius) yang berasal dari Pegunungan Andes, Amerika Selatan, baru masuk Indonesia sekitar satu dasawarsa silam. Sekarang yakon secara terbatas dibudidayakan di kawasan pegunungan di sekitar Bandung, Jawa Barat; Wonosobo, Jawa Tengah; dan DIY. Kalau tanaman paitan hampir tak punya nilai ekonomis, yakon dibudidayakan untuk dipanen daun serta umbinya. Daun yakon segar bisa laku Rp 200.000 per kg sementara umbinya Rp 50.000 per kg. Di Pegunungan Andes, yakon dibudidayakan untuk dipanen umbinya.
# # #
Sebelum yakon dikenal sebagai “daun insulin”, paitan hanya dianggap sebagai tumbuhan liar yang tak ada gunanya. Ketika yakon dikenal sebagai “daun insulin” paitan ikut terbawa sebagai substitusi. Dua tanaman ini memang masih sama-sama famili Asteraceae meskipun beda genera. Yakon genus Smallanthus, paitan genus Tithonia. Sebenarnya, sebutan “daun insulin” terhadap yakon dan paitan justru mengaburkan terapi penderita diabetes. Sebab banyak tanaman yang dianggap mampu menstabilkan gula darah. Mulai dari daun salam, biji mahoni, beras merah, dan belakangan ini “daun insulin”
Secara alami insulin yang berfungsi mengatur kadar gula darah, diproduksi oleh organ pankreas. Ketika organ tubuh ini tak berfungsi, gula darah menjadi tak stabil. Bisa tinggi, bisa pula rendah. Bagi penderita diabetes yang sudah lanjut, gula darah distabilkan dengan insulin sintetis yang terbuat dari bakteri E-coli (Escherichia coli), dan yeast (kapang Saccharomyces cerevisiae). Hingga sebenarnya fenomena “daun insulin” ini hanyalah euforia temporer. Tapi bukan berarti paitan hanyalah tumbuhan liar tak berguna. Thailand merupakan negara yang telah memanfaatkan tanaman paitan secara optimum sebagai obyek wisata.
Tersebutlah di Provinsi Mae Hong Son, Thailand Barat laut, ada kawasan pebukitan seluas 160 hektar yang disebut Thung Dok Bua Tong. Arti harafiahnya ladang bunga paitan. Kawasan Thung Dok Bua Tong memang hanya dipenuhi semak paitan liar. Di Jawa juga banyak pebukitan yang dipenuhi paitan, meskipun luasnya tak sampai 160 hektar. Pada saat musim bunga pada bulan November – Desember, pebukitan itu berubah warna dari hijau menjadi kuning. Saat itulah wisatawan dari berbagai negara datang ke sana, hanya sekadar untuk menikmati panorama tersebut, sambil berfoto selfie tentu saja.
Pemerintah Provinsi Mae Hong Son yang sangat sadar akan peluang menangguk keuntungan dari wisatawan, membangun jalan melingkar-lingkar di bukit tersebut, membuat shelter, dan di tempat yang agak tinggi disediakan tempat parkir sekaligus tempat untuk berselfieria. Meskipun orang Indonesia jago meniru, tampaknya belum ada investor atau pemerintah daerah yang tertarik untuk membuat semacam Thung Dok Bua Tong di Indonesia. Hingga sampai sekarang, paitan baru sebatas dimanfaatkan sebagai pupuk hijau untuk menyuburkan lahan dan pestisida alami.
# # #
Paitan masuk ke Indonesia, dibawa oleh bangsa Portugis dan kemudian Belanda, sebagai tanaman hias. Dalam waktu singkat paitan menyebar menjadi tumbuhan liar lewat biji. Meskipun bisa berkembangbiak secara generatif lewat biji, paitan juga bisa dibudidayakan dengan benih setek batang bahkan juga pucuk. Paitan terkenal sebagai tumbuhan bandel, yang bisa beradaptasi di kawasan ekstrim basah maupun ekstrim kering, mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi. Petani sering sengaja menanam paitan di lahan yang ditumbuhi alang-alang. Setelah paitan rimbun, alang-alang akan mati.
Daun paitan merupakan pupuk hijau yang akan segera hancur menjadi humus begitu ditimbun tanah. Karenanya petani banyak yang memanfaatkannya sebagai pupuk hijau secara langsung, maupun dengan menjadikannya sebagai mulsa. Belakangan paitan juga dimanfaatkan sebagai pestisida alami. Tanaman ini disebut paitan dan ki pait, karena rasa daunnya sangat pahit. Biasanya para petani memanfaatkan daun paitan yang ditumbuk, dicampur air dan dipercikkan ke tanaman yang terserang hama, terutama hama ulat. Meskipun bermanfaat sebaga pestisida, daun paitan tidak beracun.
Kambing dan sapi menyukai daun paitan tanpa menderita efek samping keracunan. Para petani juga memanfaatkan paitan secara preventif untuk mencegah hama datang. Caranya dengan sengaja menanamnya di pembatas lahan. Sebenarnya secara logika upaya ini tidak masuk akal, karena paitan sama sekali tak beraroma tajam seperti halnya sereh wangi, tagettes, dan nilam. Tetapi para petani yakin bahwa dengan menanam paitan di tepi lahan, hama bisa dicegah agar tak masuk ke lahan mereka. Kadang-kadang keyakinan memang bisa mengalahkan akal sehat. Sama halnya ketika orang sedemikian meyakini paitan sebagai “daun insulin”. # # #
Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan
Foto : F. Rahardi
