HARGA SINGKONG JATUH
by indrihr • 07/08/2017 • Pangan, PERTANIAN • 0 Comments
Awal tahun 2016 saya mencoba menanam singkong lima hektare di Jawa Barat. Pas panen harga singkong jatuh dari Rp 1.700 per kilogram menjadi Rp 900 per kilogram. Sampai Januari 2017 harga singkong tak mau naik lagi. Bagaimana solusinya? (Herman, Jakarta).
Sdr. Herman, harga sebuah komoditas ditentukan oleh hukum pasar. Kalau pasokan lebih kecil dari permintaan, harga akan naik. Ketika pasokan lebih besar dari permintaan, harga akan turun. Demikian pula halnya dengan singkong. Pasokan singkong segar selama tahun 2016 sangat besar akibat keberhasilan panen. Curah hujan yang tetap tinggi selama musim kemarau, mengakibatkan singkong tumbuh subur dan panen melimpah. Biasanya petani menanam singkong pada awal musim penghujan bulan November (2015), dan dipanen pada musim kemarau bulan Juli (2016).

Tahun 2016 karena curah hujan tinggi, pada bulan Februari, Maret, April, dan seterusnya, petani masih menanam singkong. Pada saat musim kemarau normal, singkong yang ditanam pada bulan-bulan tersebut, akan mengalami masa dorman (istirahat) pada musim kemarau, dan baru tumbuh lagi pada awal musim penghujan. Singkong ini baru akan bisa dipanen pada akhir musim penghujan 2017. Karena curah hujan yang tetap tinggi selama kemarau 2016, singkong hasil tanaman bulan Februari, Maret, April dan Mei, tetap tumbuh dan akhir tahun 2016 sudah bisa dipanen dengan produksi melimpah, hingga pasokan berlebih.
Ada beberapa solusi untuk mengatasi harga sinkong yang jatuh. Pertama Anda bisa mengolahnya menjadi gaplek, atau tepung tapioka. Ini pun juga tidak bisa langsung mengatasi permasalahan, sebab sejak September 2016 sampai Januari 2017, harga gaplek dan tepung tapioka juga turun. Andaikan Anda berniat untuk mengolah singkong segar ini menjadi gaplek atau tepung tapioka, harus menahannya untuk dijual pada saat harga bagus. Tetapi tak ada yang tahu, kapan harga gaplek dan tapioka akan kembali membaik. Semakin lama Anda menyimpan barang, akan semakin rugi, sebab modal Anda itu tetap akan dikenai suku bunga.
Saran yang lebih masuk akal, tetap saja dipanen dan dijual dengan harga berapa pun. Ini akan lebih mengurangi kerugian, dibanding kalau Anda tidak memanennya, karena umbi singkong itu tetap akan tumbuh makin besar; tetapi dengan kandungan pati yang semakin kecil karena sebagian pati itu digunakan untuk pertumbuhan lebih lanjut. Pedagang tahu, mana singkong yang dipanen tepat waktu (umur 9 bulan), mana yang dipanen muda, dan mana pula yang terlambat dipanen. Masing-masing solusi itu punya kelebihan, sekaligus juga ada kekurangannya.
Dengan asumsi satu hektar lahan akan menghasilkan 20 ton (20.000 kg) singkong segar (rata-rata nasional), maka hasil penjualan lima hektar singkong itu 20.000 x 5 x Rp 900 = Rp 90 juta. Anda tinggal menghitung, berapa biaya panen dan ongkos angkut sampai ke pasar terdekat. Kalau biaya itu masih tertutup, langsung dieksekusi. Apabila harga Rp 900 per kilogram itu merupakan harga borongan tengkulak, Anda mestinya segera melepasnya. Sebab biaya olah lahan, pupuk, dan penyiangan lima hektar areal singkong itu, paling tinggi Rp 30 juta. Jadi sebenarnya Anda tak akan rugi-rugi amat.
Sebenarnya terlambat apabila sebuah komoditas dibudidayakan, kemudian baru diatasi permasalahannya. Karena komoditas apa pun, selalu beresiko gagal panen, berhasil panen tetapi harga jatuh, atau malahan tak bisa dipasarkan dan juga tak bisa dikonsumsi sendiri. Komoditas singkong masih lumayan, sebab bisa dikupas dan dikeringkan menjadi gaplek. Andaikan harga gaplek juga ikut jatuh, bisa disimpan untuk dikonsumsi sendiri, atau untuk pakan ternak. Komoditas sayuran lebih sulit pengatasannya, sebab tidak semua bisa diawetkan.
Komoditas bahan industri, bisa bernasib lebih buruk lagi ketika harga jatuh, karena tak bisa dipasarkan ke lain tempat, juga tak bisa dikonsumsi sendiri oleh petani. Kelapa sawit misalnya, saat harga jatuh atau pabrik tak membeli; harus dibiarkan rontok di kebun. Sebab tandan buah sawit (TBS) tak bisa dijual ke pasar seperti singkong, juga tak mungkin diolah lebih lanjut untuk dikonsumsi sendiri. Maka idealnya, diperlukan perencanaan yang benar-benar matang sebelum uang diinvestasikan di kebun. Selain plan A, perlu dirancang plan B, dan C, apabila gagal panen atau harga jatuh. # ##
Artikel pernah dimuat di Kontan Pagi Tabloid Kontan
Foto : HR. Indriati
