SUWEG GADUNG ILES-ILES
by indrihr • 03/04/2018 • Pangan, PERTANIAN • 0 Comments
Saya diajak teman terjun ke bisnis pemasaran iles-iles. Sampai sekarang saya masih bingung membedakan umbi suweg, gadung, dan iles-iles. Yang saya tahu tiga-tiganya beracun. Bagaimanakah prospek bisnis umbi-umbian ini? (Roswita, Tangerang).
Sdr. Roswita; suweg dan iles-iles masih satu suku (famili) talas-talasan (Araceae), bahkan sama-sama genus Amorphophallus. Gadung termasuk suku gadung-gadungan (Dioscoreaceae) hingga beda suku dengan suweg dan iles-iles. Selain suweg (Amorphophallus paeoniifolius), dan iles-iles (Amorphophallus muelleri); genus Amorphophallus yang populer antara lain acung, walur (Amorphophallus variabilis), konyak (Amorphophallus konjac), dan bunga bangkai raksasa (Amorphophallus titanum). Genus Amorphophallus terdiri dari 198 spesies. Sebagian besar berhabitat di kawasan tropis.

Gadung (Dioscorea hispida) merupakan salah satu spesies dari genus Dioscorea, yang terdiri dari 613 spesies. Dari 613 spesies itu, 35 spesies berhabitat di Indonesia. Spesies Dioscorea yang cukup populer antara lain gembili (Dioscorea esculenta), jebubug (Dioscorea bulbifera), dan uwi-uwian (Dioscorea alata). Gadung berbentuk tumbuhan memanjat, dengan cara membelit ke kiri. Batang gadung berduri, daun majemuk berbentuk jorong terdiri dari tiga helai dalam satu tangkai daun. Suweg dan iles-iles berbentuk umbi batang. Yang dikenal sebagai batang suweg, sebenarnya batang semu, yang merupakan pelepah daun.
Suweg tidak beracun, dan umbinya bisa dikonsumsi langsung dengan cara dikupas, dipotong-potong dan dikukus. Setelah masak, unbi suweg bisa langsung dinikmati, atau terlebih dahulu ditumbuk menjadi getuk. Iles-iles, acung dan konyak; seperti halnya suku talas-talasan yang lain, mengandung racun asam oksalat (H2C2O4). Asam oksalat akan mengakibatkan rasa gatal dan iritasi pada kulit. Sebenarnya suweg, juga keladi dan talas; juga mengandung asam oksalat, tetapi dengan konsentrasi yang sangat rendah. Kandungan asam oksalat dalam iles-iles, acung dan konyak sangat tinggi hingga tidak bisa dikonsumsi langsung.
Suweg, iles-iles dan acung; berhabitat kawasan tropis termasuk Indonesia. Konyak berhabitat kawasan empat musim, yakni bagian timur laut RRT, Semenanjung Korea, dan Kepulauan Jepang. Tiga tanaman umbi-umbian ini menghasilkan glukomanan, yang akan diolah lebih lanjut menjadi konyaku, makanan khas Jepang. Kandungan glukomanan konyak dan iles-iles paling tinggi, menyusul acung. Sebenarnya suweg juga mengandung glukomanan dengan konsentrasi rendah hingga tak ekonomis untuk diekstrak. Umbi bunga bangkai raksasa juga mengandung glukomanan cukup tinggi, tetapi pertumbuhan umbinya sangat lamban.
Umbi suweg berukuran paling besar. Satu umbi rata-rata berbobot antara tiga sampai lima kilogram. Umbi acung dan iles-iles hanya berbobot rata-rata satu sampai satu setengah kilogram. Warna umbi suweg kuning, umbi iles-iles oranye, dan umbi acung putih. Ciri khas tanaman iles-iles, menghasilkan umbi di ketiak tangkai daun. Umbi atas ini juga bisa dijadikan benih. Suweg jarang sekali menghasilkan buah. Sementara iles-iles dan acung banyak menghasilkan buah. Meski mengandung asam oksalat sangat tinggi, buah iles-iles dan acung disukai burung dan musang, yang membantu penyebarluasannya.
Glukomanan diambil dari umbi segar iles-iles dan konyak. Acung jarang sekali diolah menjadi glukomanan karena rendemennya tak setinggi iles-iles. Selama ini para petani dan pengumpul umbi iles-iles, masih menjual produk mereka dalam bentuk segar. Padahal akan lebih menguntungkan, apabila mereka mengolahnya terlebih dahulu menjadi keripik iles-iles. Caranya, umbi segar dicuci, kemudian diiris melintang lalu dikeringkan dengan cara dijemur, dengan ekstraksi. Agar bisa diekstrak, keripik umbi yang telah kering tadi ditumbuk dan diayak. Gadung juga berpotensi dikembangkan secara ekonomis, untuk menghasilkan keripik gadung. Umbi-umbian suku Amorphophallus maupun Dioscorea, merupakan tanaman semusim. Dibudidayakan dari benih berupa umbi atau biji yang ditanam pada awal musim penghujan, dan dipanen pada musim kemarau. Belakangan umbi-umbian sebagai bahan pangan memang semakin tersisih, kalah oleh beras dan gandum. Padahal gandum merupakan komoditas impor. Belakangan impor gandum kita dalam berbagai bentuk, tembus volume 10 juta ton dengan nilai Rp 30 triliun, sementara umbi-umbian semakin tersisih. # # #
Artikel pernah dimuat di Harian Kontan
Foto : F. Rahardi
