MINYAK ASIRI UNTUK LEMBATA
by indrihr • 11/04/2018 • Perkebunan, PERTANIAN • 0 Comments
Di kampung halaman saya di Pulau Lembata, NTT, masyarakatnya sangat rajin menanam sayuran dan buah-buahan, terutama pisang dan avokad. Tapi mereka tetap miskin. Komoditas apakah yang bisa menjadi unggulan untuk kampung halaman saya? (Ansel, Jakarta).
Sdr. Ansel, komoditas unggulan haruslah cocok dengan agroklimat di kampung halaman Anda. Menurut cerita Anda, kampung halaman itu terletak di Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata, dan menghadap ke arah Laut Sabu. Kawasan itu berlahan vulkanis yang sangat subur, berelevasi antara 0 – 900 m. dpl, dan beriklim ekstrim kering. Hujan hanya akan turun selama tiga bulan dan selebihnya yang sembilan bulan kering. Meskipun demikian, tanah vulkanis itu sangat lembap hingga tanaman semusim masih bisa hidup.

Kawasan demikian memang cocok untuk budi daya sayuran dan buah-buahan, seperti yang Anda ceritakan. Tetapi, buah-buahan dan sayuran, merupakan komoditas segar yang harus segera dipasarkan. Untuk itu diperlukan “rantai pendingin” berupa mobil boks berpendingin, container berpendingin, dan juga gudang berpendingin. Ini tidak mungkin diadakan, apabila komoditas yang dibudidayakan masih dalam volume terbatas, seperti di kampung halaman Anda itu. Maka harus dicari komoditas lain yang lebih sederhana pengangkutannya.
Selain mudah diangkut, idealnya komoditas itu bernilai tinggi. Selama ini NTT menghasilkan kemiri dan mete yang mudah pengangkutannya. Nilai komoditas mete masih cukup bagus, dibanding kemiri. Asalkan biji mete itu tidak dijual gelondongan melainkan sudah terkupas, dan dalam keadaan utuh. Untuk itu diperlukan alat pengupas dan keterampilan mengoperasikannya. Kulit biji jambu mete, juga masih bisa diolah menjadi minyak laka, yang juga bernilai ekonomis cukup tinggi. Sayangnya, mete yang banyak tumbuh di NTT, belum ditangani sebagaimana mestinya.
Dulu kawasan NTT merupakan penghasil kayu cendana yang mudah diangkut dan bernilai tinggi. Sekarang tumbuhan itu sudah nyaris punah. Tanaman ini bisa dikembangkan lagi, tetapi baru bisa dipanen setelah pohon berumur 30 tahun. Ini tentu terlalu lama. Maka harus dicari komoditas lain. Cendana merupakan salah satu penghasil zat wewangian (aromatik, minyak asiri), dengan nilai sangat tinggi. Selain cendana, masih ada komoditas penghasil aromatik yang bisa segera dipanen, dengan nilai lebih baik dari sayuran dan buah-buahan, tetapi tidak setinggi cendana.
Jenis tumbuhan penghasil wewangian seperti itu cukup banyak. Mulai dari sereh wangi, sereh dapur, akar wangi, nilam, sirih, jahe, lempuyang, kenanga, ylang-ylang, jeruk purut, dan kayu manis. Sereh wangi, nilam dan akar wangi, akan bisa segera dipanen, untuk didestilasi hingga menghasilkan minyak asiri. Teknik destilasi ini sudah sangat dikuasai oleh mayarakat NTT pada umumnya, dan masyarakat Lembata pada khususnya. Selama ini mereka sudah terbiasa mendestilasi tuak (hasil fermentasi nira enau dan lontar), menjadi moke dan sopi.
Destilasi daun sereh wangi dan nilam, kurang lebih sama dengan destilasi air tuak menjadi moke dan sopi. Proses agroindustri produk minyak asiri ini, akan melibatkan banyak tenaga kerja untuk menanam, memanen, mengangkut daun, akar, kulit batang, dan bunga ke tempat penyulingan. Kemudian setelah menjadi minyak, komoditas ini akan mudah diangkut ke ke Kupang sebagai kota terdekat, kemudian dipasarkan ke Surabaya, Jakarta, atau lengsung ke pembeli di luar negeri.
Di kawasan tropis komoditas penghasil minyak asiri sebenarnya sangat banyak. Yang saya sampaikan itu hanya yang terpenting yang ada di Indonesia. Meskipun sebagian dari produk wewangian itu sudah bisa disintesis dari bahan yang lebih murah, misalnya terpentin limbah pulp dari pinus kawasan sub tropis, tetapi produk-produk asli tetap masih diminati, dan bernilai cukup tinggi. Komoditas semusim ini bisa dikembangkan, sambil menunggu komoditas tanaman keras bisa dipanen. Saya juga tetap menyarankan untuk menanam cendana, sebab itulah komoditas unggulan NTT masa silam. # # #
Artikel pernah dimuat di Harian Kontan
Foto : F. Rahardi
