NILAI EKONOMIS BUNGA EDELWEIS
by indrihr • 14/08/2018 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Di beberapa obyek wisata di kawasan pegunungan, sering terlihat bunga edelweis yang sudah diberi pewarna ditawarkan. Nilai ekonomis bunga ini sebenarnya bukan dengan memetik dan menjualnya, melainkan membiarkannya tetap di habitat aslinya.
Terlebih pada zaman millenial ini, ketika para remaja zaman now punya hobi berswafoto (selfie); edelweis bisa “dijual” sebagai obyek wisata yang laris manis. Contohnya di Bukit Padang Kasna, Temukus, Junggul Hamlet, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali. Lokasi ini mudah dijangkau dari Pura Besakih, dengan jalan kaki hanya sekitar 15 menit. Karenanya wisatawan “awam” bisa menjangkaunya dengan mudah. Lain halnya dengan padang edelweis di Alun-alun Suryakencana di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, yang hanya bisa dijangkau orang awam paling cepat selama sehari perjalanan.
Kasna dalam Bahasa Bali, memang berarti bunga edelweis. Kosakata edelweis sendiri, sebenarnya berasal dari nama bunga Edelweiss, Leontopodium nivale, yang endemik kawasan pegunungan di Benua Eropa. Edelweis ini juga sering disebut sebagai Edelweiss Swiss. Bersama dengan beberapa bunga lainnya, misalnya Strawflower, Helichrysum bracteatum, edelweis juga diberi julukan sebagai bunga abadi, Everlasting Flower. Di Asia, bunga genus Anaphallis, juga mendapat julukan sebagai bunga abadi mutiara, pearly everlasting flower. Karena sama-sama everlasting dan tumbuh di kawasan pegunungan, sama-sama berwarna putih; bunga genus Anaphalis kemudian juga disebut sebagai edelweis.
Yang paling populer mendapat julukan Edelweis pearly everlasting adalah Anaphallis margaritacea, dengan habitat asli di pegunungan Asia dan Amerika Utara. Anaphallis margaritacea, terdiri dari subspesies Japonica; dan tiga varietas: cinnamomea, margaritacea, serta yedoensis. Edelweiss Swiss Leontopodium nivale dan Edelweis Asia Anaphallis margaritacea sudah bisa dibenihkan dan dibudidayakan. Baik sebagai elemen taman, maupun sebagai penghasil bunga potong. Edelweis Asia lebih populer dibudidayakan sebagai penghasil bunga potong dibanding edelweiss Swiss.
# # #
Di gunung (volcano) dan kawasan pegunungan Indonesia, tumbuh empat spesies edelweis Anaphalis; yakni Anaphalis javanica, Anaphalis latifolia, Anaphalis longifolia, Anaphalis maxima. Anaphalis javanica yang disebut sebagai edelweis Jawa, punya satu forma junghuhniana yang tumbuh di Gunung Gede Pangrango. Anaphalis longifolia punya satu varietas sindoroensis yang endemik di Gunung Sindoro, Jawa Tengah. Keempat spesies Anaphalis ini tumbuh merata di semua gunung serta kawasan pegunungan di Indonesia. Mulai dari Aceh, sampai ke Papua.
Lain dengan edelweis Swiss dan edelweis Asia/Amerika; empat spesies edelweis Indonesia belum bisa dibudidayakan di luar habitat aslinya. Terlebih edelweis Jawa, yang hanya bisa timbuh pada elewasi sekitar 3000 meter dpl. Dari empat spesies edelweis Indonesia ini, penampilan edelweis Jawa memang paling menarik. Terlebih forma junghuhniana yang tumbuh dengan populasi sangat besar di padang edelweis Alun-alun Suryakencana, Taman Nasional gede Pangrango. Bahkan ketika sedang tak berbunga pun, sosok tanaman terlebih daun edelweis Jawa yang berwarna perak, sungguh sangat menarik.
Warna perak daun edelweis, disebabkan oleh adanya bulu-bulu halus berwarna keputihan pada permukaan daun. Bulu-bulu halus ini berguna untuk menangkap uap air dari kabut pada musim kemarau, akar tanaman tidak mendapatkan suplai air dari dalam tanah. Selain untuk menyadap air dari kabut saat musim kemarau, bulu-bulu halus ini juga berguna untuk menangkap energi sinar matahari, ketika cuaca sedang berkabut. Jadi, meskipun beberapa hari kawasan pegunungan itu tertutup kabut, edelweis tetap bisa berfotosintesis. Warna perak daun edelweis ini tampak dominan di antara tumbuhan lain yang berwarna hijau.
Setelah edelweis Jawa, yang juga berpenampilan menarik adalah Anaphallis longifolia, atau edelweis panjang. Spesies ini tumbuh pada elevasi yang lebih rendah dibanding edelwis Jawa. Pada ketinggian kurang dari 2000 meter, bahkan pada 1000 meter; edelweis panjang masih bisa tumbuh dengan baik. Dengan catatan, lahan tersebut baru saja terpapar erupsi, atau terbakar. Di lahan yang terbuka itulah akan tumbuh edelweis panjang. Melihat elevasi lokasi Padang Kasna, Besakih, yang tumbuh di sini edelweis panjang, bukan edelweis Jawa.
# # #
Dari empat spesies edelweis, Anaphalis maxima (edelweis besar), dan Anaphalis latifolia (edelweis kecil); paling sulit ditemui di kawasan pegunungan. Saya baru pernah ketemu edelweis besar di Gunung Sumbing, Jawa Tengah. Itu pun pas tidak berbunga. Edelweis kecil malahan belum pernah ketemu. Dua jenis edelweis ini memang paling tidak kelihatan sebagai edelweis, juga berpenampilan tidak semenarik edelweis panjang dan edelweis Jawa. Kebetulan pula dua spesies ini paling sulit untuk dijumpai di kawasan pegunungan. Hingga sampai sekarang, yang dikenal sebagai edelweis hanyalah edelweis Jawa dan edelweis panjang.
Disebut edelweis panjang, karena tangkai bunganya relatif panjang dibanding edelweis Jawa. Daun edelweis panjang juga tak serapat daun edelweis Jawa, dengan ukuran tanaman yang lebih kecil. Ada yang mengatakan bahwa daun edelweis panjang lebih hijau dibanding edelweis Jawa. Ini tidak benar, sebab warna daun tidak terkait dengan spesies, melainkan dengan lokasi tumbuh. Di lokasi yang banyak kabut, daun edelweis Jawa dan edelweis panjang akan sama-sama berwarna perak. Di lokasi yang banyak terpapar sinar matahari, daun kedua jenis edelweis ini akan sama-sama berwarna lebih hijau.
Fenomena keberadaan Padang Kasna di Bali, bisa menjadi contoh bagi daerah lain untuk menjual padang edelweis sebagai obyek wisata. Di luar Bali, wisata gunung yang sudah terkelola dengan baik barulah Papandayan, yang sudah dikerjasamakan dengan swasta. Di hampir semua gunung di Jawa, sekarang memang sudah ada EO yang mengelola perjalanan wisata gunung. Papandayan menjadi fenomenal karena jalurnya pendek, di atas sudah banyak warung, dengan fasilitas toilet dan kamar mandi cukup. Air juga melimpah. Wisatawan tinggal jalan melenggang, semua sudah diurus EO, termasuk selfie di depan edelweis. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Teks Foto
Edelweis Jawa di Alun-alun Suryakencana Gunung Gede (foto F. Rahardi)

