SUN HEMP PENGHASIL SERAT DAN MINYAK
by indrihr • 27/08/2018 • Perkebunan, PERTANIAN • 0 Comments
Sekitar 95% kebutuhan kapas Indonesia dipenuhi dari ekspor. Indonesia memang bisa menanam kapas, tetapi hasilnya tidak akan sebagus di kawasan sub tropis, dengan panjang hari pada musim panas mencapai 17 jam.
Volume impor kapas Indonesia rata-rata mencapai 900.000 ton per tahun, dengan nilai Rp 13 triliun. Sekitar 50% bahan baku industri tekstil nasional berupa polyster, 42% kapas dan 8% rayon serta bahan lain termasuk sutera. Sejak Indonesia merdeka 78 tahun yang lalu sampai sekarang, tak pernah ada upaya swasembada serat sandang nabati. Paling mudah dan murah memang pakai polyster dari minyak bumi. Padahal ada beberapa tanaman penghasil serat nabati yang berpotensi dibudidayakan di Indonesia. Flax dan hemp dari Cannabis tidak mungkin ditanam di negeri kita, sebab itu tumbuhan subtropis.
Sadar akan hal itu, Filipina serius membudidayakan pisang abaka, dengan produk akhir baju barong. RRT merupakan penghasil kapas terbesar di dunia dengan produksi 6,5 juta ton per tahun. Tetapi yang harus diberi baju dan celana sebanyak 1,4 milyar manusia. Pada zaman Mao, negeri ini juga menanam rami. Setelah zaman Mao, rami dilupakan hingga RRT harus impor kapas. Meskipun RRT hanya impor 1-2% dari kebutuhan nasional mereka, dampaknya sangat berpengaruh terhadap harga kapas di pasaran dunia. Kemudian mereka kembali menanam rami untuk substitusi kapas.
Lain dengan flex dan canabis yang hanya bisa dibudidayakan di kawasan subtropis, rami bisa dibudidayakan di kawasan tropis. Idealnya di pegunungan. Beberapa kali Indonesia mencoba membudidayakan rami, tapi tak berhasil. Selain pisang abaka dan rami, serat nabati untuk tekstil juga bisa diproduksi dari sisal, yang cocoknya dibudidayakan di NTT, atau kalau di Jawa sebatas di kawasan pegunungan kapur yang kering. Timor Leste, pernah mencoba membudidayakan komoditas ini, tetapi juga tak ada kelanjutannya. Kemudian ada yute dan kenaf yang cocoknya dibudidayakan di kawasan pasang surut.
# # #
Di kawasan pasang surut, yute dan kenaf bisa diambil seratnya dengan biaya murah melalui perendaman. Tapi ya itulah Indonesia. Baik pemerintahnya, maupun swastanya, tak berminat untuk masuk ke bisnis serat nabati. Selama ini “cengkeraman” importir kapas agar di Indonesia tidak berkembang serat nabati lain, memang cukup kuat. Di luar tanaman yang telah saya sebutkan di atas, sebenarnya masih banyak tanaman penghasil serat nabati. Salah satunya yang berpotensi dikembangkan secara massal adalah orok-orok, sunn hemp, sunnhemp, Indian hemp, Benares hemp, Madras hemp, Crotalaria juncea.
Orok-orok berasal dari daratan Asia, tetapi sudah menyebar ke seluruh kawasan Tropis dunia, termasuk Indonesia. Di negeri kita orok-orok telah menjadi gulma, dan mampu beradaptasi mulai 0 meter dpl, smpai di atas 1000 meter dpl. Balai Penelitian Orok-orok Uttar Prades (The Sunnhemp Research Station of Uttar Pradesh), telah mengembangkan empat genotip orok-orok yang mampu menghasilkan serat dengan volume tinggi. Empat genotip itu diberi nama SUIN-029, SUIN-080, SUIN-037, and SUIN-043. Dari empat genotip itu, SUIN-029 mampu menghasilkan volume serat paling tinggi.
Serat dari kulit batang orok-orok lazimnya hanya dibuat kain non tenun (nonwoven fabric). Kain non tenun lazim digunakan untuk isian pakaian yang terdiri dari dua lapis kain. Baik untuk tujuan menebalkan, maupun membuat kaku. Selain untuk kain non tenun, serat orok-orok juga dibuat jaring ikan dan tali. Kelebihan orok-orok dibanding tanaman penghasil serat nabati lain, tanaman ini juga menghasilkan biji yang bisa diproduksi menjadi minyak makan (edible oil). Minyak biji orok-orok juga digunakan untuk pengobatan penyakit kulit impetigo dan psoriasis.
Pucuk daun dan bunyanya juga edible. Sama dengan flax, serat nabati orok-orok bisa dipanen bersamaan dengan panen biji. Di India, tempat asal-usul tanaman ini, orok-orok sudah dibudidayakan secara massal untuk produksi serat nabati maupun minyak. Di Amerika Serikat, orok-orok justru dibudidayan untuk meningkatkan produksi berbagai tanaman terutama jagung. Orok-orok sebagai tanaman anggota suku polong-polongan (Fabaceae), orok-orok mampu menangkap nitrogen dari udara, kemudian menyimpannya dalam bintil akar di dalam tanah. Hingga orok-orok mampu meningkatkan kandungan N di lahan pertanian.
# # #
Selain itu orok-orok juga menghasilkan biomasa berupa pupuk hijau, untuk meningkatkan kesuburan lahan. Itulah sebabnya di AS dan beberapa negara lain orok-orok dibudidayakan massal sebagai penyubur lahan bersama dengan tanaman pokok. Penanaman orok-orok sebagai penyubur tanah, bisa dilakukan secara tunggal, baru kemudian dibudidayakan tanaman pokoknya. Setelah tanaman tumbuh optimal sebelum berbunga, orok-orok segera dibabat, dihamparkan sebagai mulsa, sekaligus pupuk hijau. Pada waktu itulah komoditas pokok ditanam.
Tetapi seperti di AS, orok-orok juga bisa ditanam bersamaan dengan komoditas pokoknya. Cara kedua ini selain bisa memberikan sumbangan nutrisi N secara langsung kepada tanaman pokok, juga berguna untuk menahan laju pertumbuhan gulma lain. Penanaman orok-orok secara terpisah maupun bersamaan dengan tanaman pokok, telah bisa menekan penggunaan pupuk urea, dan meningkatkan kesuburan (kegemburan) lahan pertanian. Di Indonesia, hampir tak ada yang peduli dengan tanaman orok-orok. Tak diketahui kapan tepatnya orok-orok masuk ke kepulauan Nusantara dari daratan Asia dan tumbuh sebagai gulma.
Sekarang gulma orok-orok telah menyebar ke mana-mana, mulai dari dataran rendah sampai ke kawasan pegunungan. Di sekitar DKI Jakarta, di lahan-lahan kosong, masih bisa dengan mudah kita jumpai orok-orok. Gulma ini menghasilkan polong berisi biji dalam jumlah banyak. Biji orok-orok tahan dalam kondisi dorman selama musim kemarau dan akan tumbuh cepat sekali saat hujan turun. Foto orok-orok ini saya ambil di Yogyakarta (dataran rendah), Kledung, Temanggung, Jawa Tengah; dan Lembang, Bandung, Jawa Barat (dataran tinggi, di atas 1000 meter dpl). # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto : F. Rahardi

