• ANGGUR BALI ALPHONSE LAVALEE

    by  • 02/01/2019 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Sebelum dekade 1980, sebutan “anggur Bali” belum ada. Yang ada Alphonse Lavallee yang kadang keliru ditulis dengan Alphonso Lavallee. Waktu itu sentra budidaya Alphonso Lavallee masih di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

    Sebenarnya sejak dekade 1960, Alphonso Lavallee sudah ada di Desa Banyupoh, Kecamatan Garokgak, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali. Tepatnya, anggur ini ada di pantai utara pulau Bali, di kiri kanan jalan antara Gilimanuk ke arah Singaraja. Tetapi populasi jenis anggur ini masih sangat terbatas. Sejalan dengan membaiknya perekonomian Indonesia, dekade 1970, budidaya anggur Alphonso Lavallee di Kabupaten Buleleng berkembang. Tetapi baru pada dekade 1980, di desa Banyupoh, budidaya anggur menjadi berkah. Tetapi nama anggur ini masih tetap Alphonso Lavallee, bahkan kadang disebut sebagai anggur Probolinggo.

    Dekade 1980 ada pembatasan impor buah-buahan, termasuk anggur. Waktu itulah terjadi booming budidaya anggur di Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali. Dan sejak itu pelan-pelan nama Alphonso Lavallee tenggelam dan tergantikan oleh anggur Bali. Menteri Pertanian RI, Achmad Affandi, melalui SK Nomor 857/Kpts/TP.240/12/1985, tertanggal 28 Desember 1985; telah melepas anggur Alphonso Lavallee 2 koleksi Kebun Percobaan Banjarsari, Probolinggo, Jawa Timur; dengan nama anggur varietas Bali. Klon Alphonso Lavallee 2 yang dilepas Menteri Pertanian menjadi Varietas Bali, hasil pemuliaan Winarno, Widodo, dan Surachmat Kusumo.

    Alphonso Lavallee merupakan anggur merah jenis untuk wine (bukan anggur meja). Berasal dari Perancis, hasil pemuliaan polinasi terbuka dari varietas Buffalo eye tahun 1860. Ada juga yang menyebut bahwa Alphonso Lavallee merupakan hasil silangan antara Muscat Hamburg dengan Kharistvala Kolkhuri varietas yang tak terlalu dikenal dari Georgia. Ada lagi yang menyebut bahwa Alphonso Lavallee silangan antara Muscat Hamburg dengan Dodrelyabi; dan antara varietas Bellino dengan Lady Downess Seedling. Informasi pertama yang menyebut Alphonso Lavallee berindukkan Buffalo eye, lebih akurat.

    # # #

    Meskipun jenis anggur untuk minuman beralkohol (wine), dari sejak dekade 1970 sampai dengan dekade 1990, anggur Bali dipasarkan sebagai buah meja. Ketika pembatasan impor buah dicabut pemerintah, anggur Bali kalah bersaing dengan anggur impor. Padahal pada dekade 1980, budidaya anggur Bali telah berkembang di dua kecamatan, Garokgak dan Seririt di Kabupaten Buleleng. Untunglah pada awal dekade 1990, di Bali berdiri Hatten Wine, yang menyerap buah anggur Bali untuk produksi minuman beralkohol. Tetapi daya serap Hatten Wine terhadap buah anggur Bali terbatas, hingga pelan-pelan populasi tanaman menyusut.

    Terlebih pada dekade 1990 mulai populer anggur baru varietas Kediri Kuning, yang dilepas Menteri Pertanian melalui SK Nomor 361/Kpts/LB.240/6/2004. Tanggal 2 Juni 2004. Anggur Kediri Kuning disebut dengan kode Bs88 dan diintroduksi dari Belgia, tanpa menyebut varietasnya. Kediri Kuning memang agak kontroversial, sebab ada yang menduga varietas ini sama dengan Probolinggo Putih, hasil pengembangan dari Moscato d’Alessandria (Muscat of Alexandria); yang telah lebih dulu ada di Kebun Percobaan Banjarsari, tetapi belum pernah dilepas oleh Menteri Pertanian.

    Ketika dekade 2010 berdiri Sababay Winery di Bali, perusahaan ini bingung dengan deskripsi anggur Kediri Kuning yang tak menyebut asal-usul varietas induknya. Setelah diteliti DNAnya, ternyata Kediri Kuning dan Probolinggo Putih berindukkan varietas yang sama, yakni Moscato d’Alessandria. Sababay kemudian juga mendatangkan Moscato d’Alessandria dan 37 klon anggur lain dari Perancis dan Italia. Di kebun percobaan Sababay di Garokgak, anggur introduksi ini ditanam sebagai pohon induk sampai berbuah. Moscato bisa tumbuh baik dan berbuah di Garokgak, dengan produktivitas lebih baik dari Kediri Kuning.

    # # #

    Kehadiran Kediri Kuning, membuat anggur Bali semakin tersisih. Terlebih Hatten Wine juga mengembangkan Kediri Kuning untuk memroduksi anggur putih. Tetapi Hatten menanam langsung stek Kediri Kuning tanpa batang bawah. Sababay, yang tak punya kebun sendiri tetapi bermitra dengan petani, menyambung entres Moscato d’Alessandria dari Perancis pada batang anggur Bali Alphonso Lavallee yang sudah berproduksi. Pada umur delapan bulan setelah penyambungan, batang atas Moscato itu dipangkas agar berbuah perdana. Empat bulan setelah pangkas, atau satu tahun setelah penyambungan, buah Moscato itu dipanen.

    Kualitas buah Moscato dengan batang bawah Alphonso Lavallee, tetap sama dengan Kediri Kuning dan Moscato introduksi dari Perancis. Produktivitasnya yang lebih tinggi dari Kediri Kuning, maupun Moscato yang ditanam langsung tanpa batang bawah Alphonso Lavallee. Sababay kemudian juga menyambung varietas Syrah (Shiraz), yang diintroduksi dari Perancis. Hasilnya sudah dipanen perdana pada bulan Juli yang lalu. Produktivitas Syrah dengan batang bawah Alphonso Lavallee produktif, ternyata juga lebih baik dibanding yang ditanam langsung tanpa batang bawah; sedangkan kualitas buah tetap sama.

    Pantai utara Kabupaten Buleleng, Bali; memang berkah tersembunyi bagi komoditas anggur. Produktivitas Alphonso Lavallee yang dibudidayakan di sini, bisa duakalilipat dibanding yang dibudidayakan di pantai utara Probolinggo. Bagian selatan kawasan ini berupa pegunungan bagian dari Taman Nasional Bali Barat. Air tanah dangkal, dan ada angin rutin dari arah laut. Meski produktivitas Alphonso Lavallee di Buleleng tinggi, tetapi kualitasnya rendah. Aroma wine dengan bahan baku 100% Alphonso Lavallee tidak terlalu kuat. Ternyata varietas kuno ini tetap bermanfaat sebagai batang bawah, paling tidak bagi Moscato dan Syrah. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Teks Foto:
    Dompolan buah anggur Bali Alphonso Lavallee. (Foto F. Rahardi)

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *