PROSPEK AGRO 2019 KEMBALI KE PERKEBUNAN
by indrihr • 06/03/2019 • Perkebunan, PERTANIAN • 0 Comments
Bangsa Eropa datang ke Nusantara yang mereka sebut Kepulauan Hindia, untuk mencari rempah-rempah. Kemudian Bangsa Belanda menguasai negeri ini sampai datangnya Jepang dan Indonesia Merdeka.
Pendapatan utama Pemerintah Hindia Belanda berasal dari komoditas perkebunan: kopi, teh, kakao, karet, cengkih, pala, kelapa, kina, tebu, tembakau, kenaf. Beberapa komoditas itu sampai sekarang masih menjadi andalan pendapatan pemerintah RI, melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bernama PT Perkebunan Nusantara (PTPN). Sawit merupakan salah satu komoditas “warisan” pemerintah Hindia Belanda yang sekarang kita nikmati. Penyilangan dan penelitian sawit telah dilakukan oleh Pemerintah Hindia Belanda, dan baru berkembang pada dekade 1970, saat Indonesia telah merdeka. Sekarang Indonesia merupakan penghasil minyak sawit mentah (crude palm oil, CPO) utama dunia.
Lima besar produsen sawit dunia adalah: Indonesia 160,1 (juta ton); Malaysia 86,3; Thailand 12; Nigeria 7,8; Papua Nugini 2.3. (data FAO 2016). Produksi sawit negara-negara lain, kecuali Brasil, di bawah satu juta ton. Produktivitas sawit sebagai penghasil minyak nabati memang luarbiasa. Tanaman semusim seperti bunga matahari, kacang tanah, kedelai; hanya menghasilkan minyak nabati rata-rata 1,5 ton per hektare per tahun. Kelapa rata-rata menghasilkan minyak nabati 2,5 ton per hektare per tahun. Sawit, yang mulai berproduksi pada umur 2,5 tahun setelah tanam, rata-rata menghasilkan 5,5 ton per hektare per tahun.
Negara-negara maju, penghasil minyak nabati dari tanaman semusim; kerepotan menghadapi sawit. Negara-negara ini punya dana cukup besar, punya jaringan lembaga-lembaga donor dan aktivis lingkungan. Mereka menggalang kekuatan melalui isu perusakan hutan; untuk menahan laju pertumbuhan agroindustri sawit Indonesia. Bahkan pada dekade 1980, negara-negara ini menciptakan isyu, bahwa minyak nabati dari sawit dapat memicu timbulnya penyakit kanker. Sampai sekarang tak pernah ada penelitian yang membenarkan isu tersebut. Karena isu kanker tak berhasil, mereka fokus ke isu perusakan lingkungan akibat budidaya sawit.
Kemudahan Investasi
Pemerintahan sekarang sedang berupaya membenahi proses administrasi investasi di sektor agro. Selama ini, calon investor sektor agro seperti masuk ke rimba raya yang penuh dengan hewan buas. Mulai dari memperoleh izin prinsip, mendapatkan lahan, amdal dan lain-lain yang prosesnya bisa makan waktu bertahun-tahun, menguras energi, juga uang. Inilah salah satu penyebab, mengapa sektor agro Indonesia seperti jalan di tempat. Kejayaan Onderneming zaman Belanda itu seakan sudah menjadi masa lalu. Bahkan kopi, yang sudah dibudidayakan di oleh Belanda sejak abad 17, baru “naik daun” lima tahun belakangan ini.
Kemudahan investasi ini menjadi kunci bangkitnya kejayaan agro masa silam. Dulu pulau Jawa merupakan eksportir gula tebu utama dunia. Sekarang Indonesia menjadi importir gula tebu utama dunia. Tahun 2017 impor gula tebu (raw sugar) Indonesia mencapai 4,3 juta ton, dengan nilai 28,2 triliun. Angka ini belum termasuk jenis gula lain yang volume dan nilainya tak terlalu besar. Impor gula tebu sebesar ini diharapkan menurun apabila PT Muria Sumba Manis (MSM) dengan kapasitas 12.000 ton cane per day (TCD) sudah mulai berproduksi. Bulan April 2018, PT MSM mulai membangun pabrik di Sumba Timur, NTT.
Gula tebu memang sebuah ironi besar. Tebu berasal dari kepulauan Nusantara. Kita pernah menjadi penghasil gula tebu utama dunia pada zaman Belanda. Tetapi sekarang kita hanya berada pada peringkat delapan penghasil gula tebu dunia. Inilah 10 besar penghasil gula tebu dunia: Brasil 768, 6 (juta ton); India 348,4; RRT 123; Pakistan 65,4; Meksiko 56,4; Australia 34,4; Guatemala 33,5; Indonesia 27,1; Filipina 22,3; Argentina 21,9. (sumber FAO 2016). Indonesia, dengan luas 1.904.569 km2 dan populasi 261 juta jiwa; kalah dari Guatemala yang hanya seluas 108.889 km2 dengan populasi penduduk 17,2 juta jiwa.
Disain Pengembangan
Untunglah menurut data FAO 2016, Indonesia masih tercatat sebagai penghasil cengkih utama dunia dengan produksi 1,3 juta ton; disusul oleh Madagaskar dengan produksi 20,8 ribu ton. Produksi cengkih di luar dua negara ini, di bawah 10.000 ton. Produksi ini masih harus terus digenjot, mengingat permintaan cengkih dunia masih terus tinggi. Kita juga masih tercatat sebagai penghasil kayumanis utama dunia dengan produksi 91,3 ribu ton; disusul RRT 77 ribu ton; Vietnam 35,5 ribu ton dan Srilanka 16,9 ribu ton. Produksi pala dan kapulaga kita 31 ribu ton, kalah dari India 38 ribu ton dan Guatemala 35,4 ribu ton.
Sebenarya Indonesia masih menjadi penghasil utama minyak nilam, minyak kayu putih, dan gubal gaharu. Volume produksi tiga komoditas ini tak tercatat oleh FAO, hingga datanya tidak seakurat komoditas-komoditas yang dicatat oleh FAO. Sampai sekarang, Indonesia memang belum punya disain pengembangan pertanian; yang menyejahterakan masyarakat, sekaligus mendatangkan pendapatan bagi negara. Pada zaman Hindia Belanda, sektor perkebunan mendatangkan pendapatan yang sangat besar bagi pemerintah; tetapi dampaknya menyengsarakan masyarakat.
Kesengsaraan masyarakat Jawa, mencapai puncaknya saat diterapkannya Peraturan Tanam Paksa (Cultuurstelsel), antara 1830 – 1870. Sektor perkebunan yang dibangun Belanda ini rusak berat pada zaman Jepang dan Perang Kemerdekaan, antara 1941 – 1949. Paska Perang Kemerdekaan, Indonesia disibukkan dengan pemberontakan: PKI Moeso, DI/TII, dan PRRI/Permesta. Pemerintahan Orde Baru, lebih fokus ke pertanian padi untuk mencukupi kebutuhan beras nasional. Sekarang, Indonesia perlu kembali fokus ke sektor perkebunan, yang pernah menjadi andalan pemasukan bagi pemerintah kolonial Hindia Belanda. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
