• MAWAR TABUR BANDUNGAN

    by  • 02/10/2019 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Menjelang lebaran tahun lalu (2018), harga mawar tabur untuk ziarah ke makam, melonjak dari biasanya Rp 65.000, menjadi Rp 350.000 per keranjang besar. Tahun 2019 ini, lonjakan harga mawar tabur tak setinggi 2018.

    Menjelang awal Ramadan 5 Mei 2019, harga mawar tabur juga telah naik dari biasanya Rp 65.000 per keranjang besar, menjadi Rp 200.000. Puncaknya pada libur Pemilu 17 April 2019 yang lalu. Saat itu banyak warga masyarakat berlibur, sekalian berziarah ke makam keluarga mereka. Kenaikan mawar tabur menjelang lebaran 2019 tak setinggi 2018, karena banyak petani yang membungakan tanaman mereka. Dengan asumsi akan ada kenaikan harga seperti tahun 2018, tahun 2019 ini produksi mawar tabur melimpah. Dampaknya pasokan mawar tabur 2019 ini melimpah, hingga tak terjadi lonjakan harga seperti 2018.

    Sebenarnya tak ada petani yang membudidayakan bunga mawar tabur secara monokultur. Di Kecamatan Bergas, Bandungan dan Sumowono di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah; mawar tabur ditanam di pembatas petakan lahan sayuran, di lahan terasering. Mawar tabur biasanya ditanam berdampingan dengan singkong, keladi, dan bunga lily putih. Tanaman mawar itu dibiarkan “liar” oleh para petani, dan baru akan dipangkas sekitar sebulan menjelang awal bulan Ramadan. Setelah dipangkas, tanaman itu akan bertunas dan berbunga serentak. Tahun 2017, harga mawar tabur menjelang lebaran hanya Rp 200.000 per keranjang besar.

    Di Jawa Tengah dan DIY, mawar tabur dipasarkan dalam bentuk bungkusan daun pisang @ Rp 5.000 per bungkus; dan dalam bentuk keranjang kecil (1 kg) sedang (2 kg) dan besar (3 kg). Pada hari-hari biasa, harga per keranjang kecil Rp 25.000, keranjang sedang Rp 45.000 dan keranjang besar Rp 65.000. Harga berfluktuasi antara hari biasa, menjelang Selasa dan Jumat Kliwon; atau pada saat ada tokoh meninggal. Di tingkat petani, mawar tabur dijual per kilogram seharga Rp 10.000 – Rp 15.000 pada hari-hari biasa. Kenaikan harga di tingkat konsumen, akan meningkatkan harga di tingkat petani.

    Bunga Baru

    Mawar, juga melati; merupakan bunga pendatang dari daratan Asia dan Eropa. Hingga bunga mawar dan melati, baru dikenal masyarakat Jawa setelah ada kontak dagang dengan bangsa India dan Tionghoa. Sebelumnya yang digunakan sebagai sesaji bunga kantil, cempaka, dan kenanga; yang merupakan tumbuhan asli Pulau Jawa. Sekarang pun bunga kantil, cempaka dan kenanga masih merupakan bagian dari sesaji; dan kadang juga dijadikan bunga untuk ziarah makam. Karena faktor ketersediaan, maka pelan-pelan untuk ziarah makam lebih dominan bunga mawar merah dan mawar putih.

    Sebagai tumbuhan subtropis, mawar, termasuk mawar tabur, hanya bisa berproduksi optimum apabila dibudidayakan di kawasan dataran tinggi, dengan elevasi 1.000 meter dpl. Sentra bunga mawar tabur di pulau Jawa, misalnya di kecamatan Bergas, Bandungan dan Sumowono, Kabupaten Semarang; berada pada elevasi di atas 1.000 meter dpl, di lereng timur dan selatan Gunung Ungaran. Demikian pula di kecamatan Grabag, Ngablak dan Pakis di kabupaten Magelang. Hampir semua kawasan pegunungan di Jawa Tengah membudidayakan mawar tabur secara tumpangsari. Hanya sebagian kecil petani yang membudidayakannya secara monokultur.

    Karena faktor pasar, mawar tabur juga dicoba dibudidayakan di dataran rendah sekitar Jakarta, terutama di Kabupaten Tangerang. Hasilnya tentu tak sebaik mawar tabur di dataran tinggi. Hingga harga mawar tabur di DKI Jakarta, bukan dihitung per keranjang seperti di Jawa Tengah; melainkan per bobot 50 dan 100 gram. Di Tokopedia harga mawar tabur yang disebut kelopak bunga mawar asli (rose petal); ditawarkan seharga Rp 29.000 per kemasan 50 gram; dan Rp 45.000 per kemasan 100 gram. Hingga harga per kilogram mawar tabur di Tokopedia, Rp 450.000 per kilogram.

    Substitusi Pacar Air

    Karena tingginya harga mawar tabur asli; di DKI Jakarta dan sekitarnya, mawar tabur disubstitusi dengan bunga pacar air (Impatiens balsamina). Beda dengan mawar yang merupakan tumbuhan semak berkayu tanaman tahunan; pacar air merupakan terna tegak, tumbuhan semusim berbatang lunak. Pacar air merupakan tumbuhan dataran rendah. Di DKI Jakarta dan sekitarnya, bunga pacar air bisa diproduksi dalam volume sangat besar, dalam waktu singkat, dengan biaya lebih murah. Pacar air kemudian menjadi bunga tabur utama untuk ziarah makam bagi masyarakat DKI Jakarta dan sekitarnya.

    Di Sumowono, Bandungan dan Bergas, mawar tabur hanya diharapkan hasil panen bunganya, terutama menjelang puasa dan Idulfitri. Lain halnya di Desa Karangpring, Kecamatan Sukorambi, Kabupaten Jember; Jawa Timur. Di desa ini kebun mawar tabur telah dijadikan wahana wisata petik bunga. Padahal desa Karangpring, bukan merupakan kawasan wisata seperti halnya Bandungan. Hingga Bergas, Bandungan dan Sumowono sebagai sentra bunga mawar tabur; seyogyanya bisa belajar bagaimana menarik wisatawan agar masuk kebun untuk memetik bunga. Ini merupakan potensi bisnis yang sangat menarik.

    Aktivitas wisata memetik bunga mawar tabur, memerlukan pengelolaan secara profesional. Pertama, harus diatur agar tiap akhir pekan dan liburan selalu ada kebun mawar siap petik. Kedua, para wisatawan perlu dibekali sepatu bot, sarung tangan, dan gunting. Sebelumnya, para wisatawan juga perlu diberitahu bahwa mawar merupakan tanaman berduri tajam, hingga dalam memetik bunga perlu kehati-hatian. Dengan membuka kebun mawar tabur sebagai wahana wisata petik bunga, pendapatan petani niscaya akan bisa ditingkatkan sepanjang tahun. Bukan hanya tiap menjelang puasa dan lebaran. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *