• HARGA CABAI “MENGGILA”

    by  • 28/10/2019 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Bulan Ramadan 2019, harga cabai di Jakarta naik dari Rp 25.000 menjadi Rp 40.000 per kilogram. Habis lebaran harga cabai bukannya turun tapi terus meninggi. Awal Agustus 2019, harga cabai makin menggila dan tembus Rp 100.000 per kilogram.

    Biasanya, harga cabai justru akan jatuh pada musim kemarau, antara Juni sampai September. Baru pada bulan November, harga cabai merayap naik. Desember sampai April harga cabai akan terus tinggi. Pada musim penghujan para petani Brebes, sentra cabai terbesar di Indonesia, akan menanam padi. Januari 2017, harga cabai juga melambung. Waktu itu harga cabai di Pulau Jawa masih di bawah Rp 100.000 per kilogram. Tetapi di Kalimantan dan Papua, harga cabai tembus Rp 200.000 per kilogram. Itu wajar, sebab kenaikan harga cabai terjadi pada bulan Januari, pas puncak musim penghujan.

    Kali ini agak aneh, karena kenaikan harga cabai justru terjadi pada musim kemarau. Biasanya kenaikan harga cabai pada musim kemarau, hanya khusus cabai rawit hijau dan rawit merah. Dua jenis cabai ini dibudidayakan di lahan kering. Pada musim kemarau produktivitasnya akan turun. Sekarang, yang mencapai Rp 100.000 per kilogram bukan hanya rawit hijau dan merah, melainkan juga cabai merah keriting. Tingginya harga cabai sekarang ini, ternyata juga tak bisa dinikmati oleh sebagian besar petani cabai. Sebab mereka justru tidak panen. Tetapi ketika harga jatuh, hampir semua petani terdampak.

    Pada Maret 2019, harga cabai jatuh antara Rp 15.000 sampai dengan Rp 20.000 per kilogram. Ini juga aneh, sebab biasanya bulan Maret harga cabai masih tinggi, dan akan berangsur turun pada bulan Mei dan Juni. Tampaknya, tahun 2019 ini banyak petani yang menanam cabai pada bulan Januari 2019, agar bisa panen besar bulan Mei 2019, pas bulan Ramadan dan menjelang Idul Fitri. Itulah sebabnya tak terjadi lonjakan harga cabai selama Ramadan dan Idul Fitri. Lonjakan harga justru terjadi setelah Idul Fitri, karena sudah tak ada lagi petani yang panen raya cabai.

    Cabai di China Stabil

    Semua jenis cabai yang kita kenal sekarang: cabai besar, keriting, rawit, habanero dan paprika; berasal dari Amerika Tropis. Tetapi yang paling doyan masakan pedas, justru masyarakat Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Food and Agriculture Organization (FAO), mencatat produksi cabai RRT 2017 sebesar 17.795.349 ton, tertinggi di dunia. Nomor dua Meksiko 3.296.875 ton. Ketiga Turki 2.608.172 ton. Keempat Indonesia 2.359.441 ton dan peringkat lima Spanyol 1.277.908 ton. India meskipun berpenduduk di atas 1 miliar jiwa, dan doyan pedas, hanya memproduksi cabai 67.892 ton. Tampaknya India lebih mengandalkan lada, cengkih dan pala sebagai sumber rasa pedas masakan mereka.

    Meski pelahap cabai terbesar dunia, harga komoditas ini di RRT relatif stabil. Tak pernah ada gejolak harga. Padahal selama musim dingin, petani RRT tak mungkin menanam apa pun, termasuk cabai. Masih lebih baik di negeri kita, pada musim penghujan yang rawan penyakit pun, masih tetap bisa tanam cabai dengan mulsa atau sungkup plastik. Meski hanya bisa tanam cabai satu kali dalam setahun, selama musim dingin tak pernah ada berita harga cabai naik. Masyarakat China memang sudah terbiasa mengonsumsi cabai kering. Untuk memasak, mereka bisa menggilingnya jadi serbuk. Untuk bikin sambal, cabai kering itu mereka kukus terlebih dahulu sebelum diuleg.

    Cabai merah yang dikeringkan dengan cara dijemur, akan berubah warna menjadi kecoklatan. Ini tentu menurunkan daya tarik pembeli, meski rasa pedasanya tetap. Petani dan masyarakat China punya kiat agar cabai kering mereka tetap berwarna merah. Caranya, dengan mengikat (meronce) cabai segar, kemudian menggantungnya di tempat teduh. Hasilnya, cabai kering itu tetap berwarna merah cerah. Hal ini dimungkinkan, karena kelembapan udara (humiditas) di RRT sangat rendah. Di beberapa lokasi di Indonesia dengan curah hujan rendah, pengeringan cabai tanpa dijemur juga dimungkinkan.

    Pengaturan Produksi

    Beda dengan masyarakat China Daratan yang suka mengonsumsi cabai kering, masyarakat China Taiwan lebih senang cabai segar. Produksi cabai Taiwan hanya 25.889 ton. Para petani mengatur agar panen cabai berlangsung sepanjang tahun, dengan cara tanam bergiliran. Pola tanam ini mereka terapkan bukan hanya untuk cabai, melainkan juga semua komoditas. Pengaturan tanam ini bisa diterapkan di Taiwan, karena kelembagaan petani di negeri ini sangat kuat. Para petani membentuk kelompok tani, khusus untuk menangani masalah teknis budidaya. Untuk bisnis, mereka membentuk koperasi tani.

    Guna menangani hal-hal strategis, misalnya pengaturan jadwal tanam; kelompok tani, koperasi tani; dan perusahaan pertanian; membentuk asosiasi. Melalui asosiasi, mereka mengatur jadwal tanam di seluruh Taiwan. Hingga volume suplai cabai segar ke pasar bisa tetap stabil, sesuai dengan volume permintaan. Hal seperti ini sulit terjadi di Indonesia, karena petani kita masih belum punya kelembagaan yang kuat. Yang ada baru kelompok tani, dan gabungan kelompok tani (Gapoktan). Koperasi dan asosiasi petani cabai, belum ada; atau kalau pun ada, koperasi dan asosiasi itu belum mampu mengatur jadwal produksi.

    Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pertanian, Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten, juga tak berinisiatif memprakarsai terbentuknya koperasi dan asosiasi petani cabai, yang bisa berperan mengatur jadwal tanam. Dekade 1990, para petani di Taiwan sudah punya personal komputer (PC) dan sambungan internet di rumah masing-masing, yang bisa menjadi sarana komunikasi antar petani, kelompok, koperasi dan asosiasi. Sekarang hampir semua petani Indonesia punya perangkat seluler, dan mampu menggunakan aplikasi WhatsApp. Tapi tanpa kelembagaan yang kuat, perangkat seluler ini tak ada manfaatnya untuk mengatur jadwal tanam, agar harga cabai bisa stabil. # # #

    Artrikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *