• ARAB CHINA DAN ISRAEL RUKUN DI SATU KEBUN

    by  • 30/12/2019 • Perkebunan, PERTANIAN • 0 Comments

    Perkebunan Kopi Arabika Kayumas (PTPN XII), Kecamatan Arjasa, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur; terletak di lereng utara Pegunungan Ijen. Di sini kopi arabika (Coffea arabica) diberi naungan petai cina (Leucaena leucocephala).

    Di bawah tegakan kopi arabika dan petai cina itu tumbuh aneka gulma (tumbuhan pengganggu). Salah satu gulma itu bernama rumput israel (Asystasia gangetica). Tiga tumbuhan penyandang nama Arab, China, dan Israel itu tumbuh rukun di satu kebun, dan saling menguntungkan (simbiosis mutualisme). Kopi arabika sebagai komoditas utama Perkebunan Kayumas (PT Perkebunan Nusantara XII), memerlukan naungan dan bahan organik agar bisa berproduksi optimum. Tanpa naungan dan bahan organik, produktivitas bisa menurun, atau sebaliknya hiperproduktif kemudian mati.

    Untuk itulah petai cina ditanam sebagai naungan kopi arabika. Tajuk petai cina dengan daun majemuknya, bisa menjadi “filter” hingga sinar matahari yang jatuh ke permukaan daun kopi kurang dari 100%. Daun petai china yang rontok ke permukaan lahan, akan menjadi pupuk hijau bagi kopi. Kemudian di permukaan lahan itu tumbuhlah aneka gulma. Dari puluhan jenis gulma itu, rumput israel cukup dominan. Sebab rumput ini hanya akan tumbuh optimum di lahan dengan sinar matahari kurang dari 50%. Rumput israel yang berdaun lebar dan lunak ini, sangat digemari ternak ruminansia (kambing, domba, sapi, kerbau).

    Para peternak domba, kambing dan sapi, menyenangi rumput israel, karena kandungan nutrisi gulma ini cukup tinggi. Hasil penelitian Putra, Rizal Iqhbal, Kumalasari, Nur Rochmah,
    Abdullah dan Luki dari IPB tahun 2017; menunjukkan kandungan nutrisi rumput israel sebagai berikut: bahan kering 19.84%- 26.87%, protein kasar 10.90%-35.17%, lemak kasar 0.78%-4.71%, serat kasar 10.22%-48.97% dan bahan ekstrak tanpa nitrogen 31.99%-54.21%. Hasil penelitian Arsyandanie Saifi Adli dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menunjukkan kadar etanol rumput israel sebesar 36% – 44%.

    Asal-usul Nama Tak Jelas

    Kopi arabika bernama botani Coffea arabica, karena tahun 1753, Linnaeus pertamakali menemukan spesies kopi ini di Jazirah Arab. Padahal kopi arabika asli dari Tanduk Afrika (Somalia dan Ethiopia). Petai cina lebih aneh. Tumbuhan ini juga disebut lamtoro, berasal dari Amerika Selatan. Nama botaninya Leucaena leucocephala juga tak merujuk pada China. Tetapi di Indonesia, tumbuhan ini mendapat nama petai cina. Barangkali karena buahnya berbentuk dan beraroma seperti petai; dan disukai masyarakat Tionghoa. Atau, orang di kepulauan Nusantara waktu itu, beranggapan tumbuhan ini berasal dari daratan China.

    Rumput israel juga disebut ara sungsang. Sebutan Bahasa Inggrisnya chinese violet, coromandel, creeping foxglove dan asystasia. Disebut chinese violet, karena bagian tengah bunganya berwarna violet. Sebutan Chinese juga aneh, karena spesies ini endemik Asia Selatan, dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Di China rumput israel merupakan gulma introduksi. Selain spesies Asystasia gangetica, ada subspesies micrantha (Asystasia gangetica subsp. micrantha); yang berasal dari Sahara, Afrika Utara. Beda dengan spesies Asia yang berbunga putih dan bagian tengah ungu, subspesies Afrika berbunga ungu seluruhnya.

    Dari rujukan nama botani maupun sebutan Bahasa Inggris, belum diketemukan informasi asal-usul nama rumput israel. Sebab spesies dan subspesies gulma ini, tidak berasal dari Israel, dan sama sekali tak ada keterkaitan dengan Negara Israel. Sebutan nama selain nama botani, kadang-kadang memang aneh. Gulma Eryngium foetidum, dalam Bahasa Jawa disebut ketumbar belanda. Sebaliknya orang Belanda menyebutnya javan coriander. Padahal gulma ini berasal dari Meksiko. Sebutan Bahasa Inggrisnya mexican coriander. Chaya, Cnidoscolus aconitifolius yang juga asli Meksiko, di Indonesia dikenal sebagai “pepaya jepang”.

    Hasil Sampingan

    Pendapatan sebuah perkebunan tidak hanya melulu berasal dari tanaman pokok (komoditas utama). Perkebunan dengan alam dan pemandangan yang bagus, bisa mendapatkan tambahan pendapatan dari aktivitas wisata agro, atau wisata alam. Perkebunan Teh Gunung Mas (PTPN VIII) di Kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat; malahan mengandalkan pendapatan utama mereka dari wisata agro. Pendapatan peternakan ayam dan babi milik kelompok Salim di Pulau Bulan, Kepulauan Riau; kalah dari pendapatan dari hasil sampingan beternak buaya dengan pakan limbah peternakan. Penggemukan sapi potong kelompok Gunung Sewu di Lampung dengan pakan limbah sawit, nanas dan pisang; juga bisa mengalahkan bisnis utama mereka.

    Secara harafiah, gulma merupakan tumbuhan pengganggu, yang akan mengurangi pendapatan dari komoditas utama. Untuk membasmi gulma, diperlukan biaya yang cukup besar. Baik biaya tenaga kerja untuk penanggulangan secara manual, maupun untuk herbisida. Dalam bisnis, ada rumus berbunyi: mengubah kelemahan jadi kekuatan, dan ancaman jadi peluang. Gulma, termasuk rumput israel, jelas ancaman bagi pertanian dan perkebunan. Tetapi ancaman culma itu justru bisa menjadi tambahan pendapatan bagi petani dan pekebun. Pemanfaatan gulma perkebunan sawit untuk breeding farm sapi potong, merupakan salah satu peluang yang sebelumnya merupakan ancaman.

    Sejak beberapa tahun terakhir ini PT Astra Agrolestari telah memulai pengembangan breeding farm sapi potong, di lahan sawit mereka di Kalimantan Tengah. Breeding farm sapi potong di lahan sawit, bisa menurunkan biaya pakan sampai tinggal 0%, dari sebelumnya sekitar 70%. Total luas lahan sawit Indonesia sekitar 13 juta hektar. Dengan rasio satu hektar dua ekor induk sapi, dengan masa penggembalaan satu minggu dan jangka waktu pulih rata-rata dua bulan; paling sedikit Indonesia berpotensi mengembangkan breeding farm sapi potong di lahan sawit sebanyak tiga juta ekor. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *