PEPAYA DIENG
by indrihr • 09/03/2020 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Saya ingin membudidayakan pepaya dieng di sela-sela tanaman sayuran, dan mengolahnya menjadi manisan dalam sirup. Sebab saya lihat prospek bisnisnya cukup bagus. Di manakah saya bisa memperoleh bibitnya? (Eko, Bandung).
Sdr. Eko, yang disebut pepaya dieng, sebenarnya bukan pepaya biasa (Carica papaya), melainkan pepaya gunung (mountain papaya, Vasconcellea pubescens). Jadi sebutan “pepaya dieng” sebenarnya salah kaprah. Salah, tetapi sudah terlanjur diterima oleh masyarakat pengguna bahasa. Karena pepaya biasa masuk genus Carica, sedangkan pepaya dieng masuk genus Vasconcellea. Yang salah kaprah seperti ini bukan hanya orang Indonesia, tetapi juga masyarakat dunia. Hingga di dunia internasional, buah ini juga disebut “mountain papaya” atau “mountain pawpaw”.
Mountainnya benar, yang salah papaya dan pawpawnya. Kalau disebut pepaya dieng atau pepaya gunung masih oke. Karena buah ini mirip pepaya dan tumbuh di Dieng, yang merupakan kawasan pegunungan. Meski beda genus, pepaya dan pepaya gunung masih sama-sama suku Caricaceae. Kalau mountain pawpaw, ini yang agak aneh. Sebab pawpaw, Asimina triloba; bukan hanya beda suku dengan pepaya gunung, tetapi juga beda ordo. Pawpaw masih satu suku dengan sirsak dan buah nona. Di Pegunungan Andes, tempat asal-usul pepaya gunung, buah ini bernama chamburo.
Dari tempat asal-usulnya yang berelevasi antara 2000 – 3000 meter dpl, cukup jelas mengapa buah ini disebut pepaya gunung. Hingga Dieng, sebenarnya berelevasi minimal bagi syarat tumbuh pepaya gunung. Itulah sebabnya, pepaya gunung hanya bisa dijumpai mulai dari desa Parikesit (elevasi 1700 meter dpl), setelah Gardu Pandang dari arah Wonosobo. Di bawah Parikesit, misalnya di Sitiyeng, sudah tidak ada lagi pepaya gunung. Selain di Dieng, pepaya gunung juga tumbuh di Bedugul dan Kintamani, Bali; yang juga berelevasi antara 1700 sampai 2000 meter dpl. Di sini, pepaya gunung disebut gedang memedi.
Dari uraian saya di atas, pepaya gunung bisa dibudidayakan di Kabupaten Bandung, maupun Bandung Barat, dengan catatan; lokasi budidaya harus berelevasi antara 1700 sampai 2000 meter dpl. Lembang tidak mungkin karena baru 1400 meter dpl. Setahu saya tidak banyak kawasan di Kabupaten Bandung dan Bandung Barat yang berelevasi di atas 1700 meter dpl. Lokasi itu biasanya hanya bisa dijangkau oleh sepeda motor. Di kawasan Dieng pun, lokasi budidaya pepaya gunung juga berada di desa-desa yang hanya bisa dijangkau oleh sepeda motor. Biasanya petadi dieng menanam pepaya gunung di pematang lahan kentang.
Sampai sekarang, pepaya gunung di Kaldera Dieng, belum dibudidayakan secara monokultur (tunggal). Komoditas andalan petani Dieng hanyalah kentang. Itu pun yang menanam bukan para petani, melainkan para pemilik modal (juragan). Petani hanya menyewakan lahan dan menjadi buruh di lahan mereka sendiri. Sebab budidaya kentang memerlukan efisiensi. Lahan kurang dari 0,1 hektare, tidak akan efisien kalau dikelola sendiri, untuk ditanami kentang. Karenanya, para petani tidak punya alternatif lain selain menyewakan lahan mereka untuk budidaya kentang.
Belakangan agroindustri carica dalam sirup yang dikemas dalam mangkuk plastik maju pesat di Kaldera Dieng. Dampaknya, harga carica segar melambung, karena permintaan lebih tinggi dari pasokan. Upaya penambahan populasi pohon carica tak sebanding dengan laju peningkatan permintaan. Meskipun para petani biasa membudidayakan carica dari benih stek, yang bisa berbuah lebih cepat dibanding benih dari biji; tetap saja populasi tanaman carica di Dieng belum bisa mengejar volume permintaan. Kalau dulu buah carica dieng tak pernah dipanen dan dibiarkan membusuk di lahan, sekarang jadi rebutan.
Sdr. Eko, untuk mendapatkan benih pepaya dieng, Anda memang harus datang ke sana, dan pesan benih stek ke petani penangkar. Membenihkan carica dari biji hampir tidak mungkin. Selain terlalu lama, ketersediaan benihnya juga terbatas. Sebab biji berikut serabut di antara biji-biji itu, akan direbus dengan gula untuk menghasilkan sirup, yang kemudian dicampurkan ke daging buah dan dikemas dalam mangkuk plastik. Selama ini, benih pepaya dieng tak pernah dijual keluar dari dataran tinggi Dieng. Sebab di Pulau Jawa, hanya di Dieng ada penduduk di elevasi 2000 meter dpl.
Mengolah pepaya dieng menjadi carica dalam sirup yang dikemas mangkuk plastik, sebenarnya sangat sederhana. Buah carica masak, tak bisa lunak seperti pepaya, melainkan tetap liat (alot) dan tawar. Ini kekurangan sekaligus kelebihan carica. Kelemahannya, carica tak bisa dikonsumsi segar seperti pepaya. Kekuatannya, potongan daging buah carica bisa direbus dan tetap utuh dalam sirup; yang terbuat dari serabut biji buah carica. Kelebihan lain pepaya dieng, aromanya sangat harum. Warna kuning sirup maupun daging buah carica juga asli, bukan karena diberi zat pewarna. # # #
Artikel pernah dimuat di Kontan Pagi
Foto F. Rahardi
