BUDIDAYA GOLDEN BERRY
by indrihr • 18/03/2020 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Saya seorang distributor buah-buahan. Belakangan ini ada permintaan buah golden berry. Katanya buah ini juga sudah dibudidayakan di Indonesia. Benarkah golden berry itu sama dengan ceplukan atau cecendet yang selama ini tumbuh liar? (Susan, Bandung).
Sdri. Susan, Anda benar. Yang disebut golden berry, sebenarnya ceplukan atau cecendet, genus Physalis. Ceplukan berasal dari Amerika Tropis, tetapi sekarang sudah menyebar ke seluruh kawasan tropis di dunia, termasuk Indonesia. Yang disebut golden berry, atau Cape gooseberry sebenarnya hanya ceplukan Physalis peruviana, yang juga sudah tumbuh liar di Indonesia. Tetapi, di Indonesia, keberadaan ceplukan golden berry, Physalis peruviana; tak sebanyak ceplukan biasa Physalis angulata.
Ceplukan biasa, hanya akan tumbuh setinggi 1 meter meskipun diberi ajir (rambatan). Bentuk daun lanset dengan tepi bergerigi. Batang, daun dan kulit buah (seludang) ceplukan biasa licin tak berbulu. Bentuk buah bundar, berukuran buah lebih kecil dengan diameter 1 sentimeter. Warna buah setelah masak kuning. Rasa daging buah ceplukan biasa sebenarnya sama dengan ceplukan golden berry. Ceplukan biasa banyak tumbuh di sawah, ladang dan lahan terbuka lainnya. Dikenal sebagai salah satu gulma (tumbuhan pengganggu) darat berdaun lebar. Ceplukan biasa bukan golden berry yang banyak diminta konsumen.
Ceplukan golden berry, Physalis peruviana; bisa tumbuh sampai setinggi 2 meter apabila dibudidayakan dengan ajir. Daun ceplukan golden berry berbentuk jantung, dengan tepi bergerigi. Batang, daun dan kulit buah (seludang) ceplukan golden berry ditumbuhi bulu halus hingga tampak seperti beludru. Bentuk buah ceplukan golden berry juga bundar, berukuran lebih besar dengan diameter 1,5 sentimeter. Warna kulit buah orange. Dibanding ceplukan biasa, ceplukan golden berry lebih jarang dijumpai tumbuh liar sebagai gulma di lahan pertanian dan lahan nganggur yang terbuka.
Benih ceplukan goldenberry berasal dari ceplukan Physalis peruviana yang tumbuh liar sebagai gulma. Bisa juga benih itu diambil dari biji buah golden berry impor. Para petani ceplukan golden berry, umumnya menggunakan benih dari Physalis peruviana yang tumbuh liar sebagai gulma. Sebab daya kecambahnya lebih baik, dan sudah biasa beradaptasi dengan agroklimat setempat. Selain itu, secara ekonomis harganya juga lebih murah dibanding menggunakan benih dari buah golden berry impor.
Sampai sekarang, sudah ada beberapa petani yang membudidayakan ceplukan golden berry. Antara lain di Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Sumedang, Jawa Barat; Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah; Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Para petani itu merupakan rekanan (binaan) dari pedagang golden berry, yang memasarkan produk mereka lewat Bukalapak, Tokopedia dan Lazada. Kualitas produk mereka sama dengan golden berry impor. Konsumen juga tak pernah bisa membedakan, apakah yang mereka konsumsi golden berry impor atau produk petani kita sendiri.
Di situs pemasaran online Bukalapak golden berry produk Permata Garden, Boyolali, Jawa Tengah ditawarkan seharga Rp 200.000 (kemasan isi 500 butir), dengan bobot sekitar 1 kilogram. Masih di situs Bukalapak, golden berry produk BaandmA Store, Bogor ditawarkan seharga Rp 40.000 per kemasan 200 gram atau Rp 200.000 per kilogram. Di situs Tokopedia golden berry produk dezzy’s resseler Sumedang ditawarkan seharga Rp 30.000 kemasan 200 gram atau Rp 150.000 per kilogram. Masih di situs Tokopedia, golden berry produk KEDAI UMMI 77 Sidoarjo ditawarkan seharga Rp 20.000 kemasan 200 gram atau Rp 100.000 per kilogram.
Sdri. Susan, genus Physalis terdiri dari 124 spesies dan semua berasal dari Benua Amerika. Ceplukan golden berry, Physalis peruviana; berasal dari lereng barat pegunungan Andes, di perbatasan Peru dengan Chili. Tempat tumbuhnya berelevasi dari 500 meter dpl sampai 3000 meter dpl. Masyarakat Indian Inka, biasa mengonsumsi buah ceplukan golden berry yang tumbuh liar. Kadang buah ini juga dijual di pasar setempat. Ceplukan golden berry diintroduksi ke Inggris tahun 1774 , kemudian ke Tanjung Harapan (Cape of Good Hope), Afrika Selatan tahun 1807.
Di Tanjung Harapan, untuk pertamakalinya Ceplukan golden berry dibudidayakan dalam skala komersial. Hingga kadang golden berry juga disebut Cape gooseberry. Dari Afrika Selatan, golden berry dibawa ke Indonesia (Hindia Belanda), Australia, Selandia Baru, Kepulauan Pasifik dan A.S. Jadi, perjalanan golden berry ini aneh. Dari Andes ke AS bukannya langsung, tetapi dengan cara memutar. Meskipun Afrika Selatan negara pertama yang membudidayakan golden berry, tetapi produk ini naik daun di AS. # # #
Artikel pernah dimuat di Kontan Pagi
Foto F. Rahardi
