• CHESNUT INDONESIA YANG TERLUPAKAN

    by  • 11/05/2020 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Di situs Tokopedia, harga eceran chesnut Rp 190.000 per kemasan 1 kg. Di situs Bukalapak, barang yang sama ditawarkan dengan harga bervariasi mulai Rp 30.000 sampai Rp 155.000. Sepintas harga di situs Bukalapak lebih murah dibanding di situs Tokopedia.

    Setelah diamati lebih teliti, ternyata harga chesnut Rp 30.000 di situs Bukalapak, bukan per kilogram, tetapi kemasan 115 gram. Produk tersebut juga masih dengan kulit (cangkang) dan mentah (belum disangrai/roasting). Berarti harga chesnut mentah per kilogram di situs tersebut Rp 260.000. Harga ini lebih tinggi dari harga per kilogram di situs Tokopedia yang hanya Rp 190.000. Harga Rp 155.000 di situs Bukalapak tersebut, sebenarnya juga lebih tinggi dibanding harga Rp 30.000 di situs yang sama; karena yang Rp 30.000 kemasan 115 gram, dan yang Rp 155.000 kemasan satu kilogram.

    Di situs Alibaba, harga grosir chesnut paling murah 1.000 dollar AS (Rp 14 juta) per ton, atau Rp 140.000 per kilogram. Ternyata ini harga grosir, dengan minimal order 1 ton. Yang disebut chesnut adalah biji Castanea sativa (chesnut Eropa) atau Castanea crenata (chesnut Jepang). Yang ditawarkan di Tokopedia, Bukalapak dan Alibaba; semua chesnut Jepang, produksi Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Chesnut memang tumbuhan sub tropis, yang hampir tidak mungkin dibudidayakan di kawasan tropis seperti Indonesia. Itulah sebabnya produk yang dipasarkan di Indonesia, 100% merupakan chesnut impor, terutama dari RRT.

    Food and Agriculture Organization (FAO), mencatat RRT sebagai penghasil chesnut utama dunia. Inilah 10 besar penghasil chesnut dunia tahun 2017: RRT 1.939.719 (ton); Bolivia 85.047; Turki 62.904; Korea Selatan 52.764; Italia 52.356; Yunani 36.000; Portugal 29.875; Jepang 18.700; Spanyol 15.623; Korea Utara 12.540. RRT, Jepang, Korea Selatan dan Utara, membudidayakan chesnut Jepang. Sedangkan Bolivia, Turki, Portugal, Italia, Yunani dan Spanyol; membudidayakan chesnut Eropa. Semua tanaman genus Castanea berbentuk pohon dengan kayu relatif keras, dan percabangan yang rindang.

    Saingan Mete

    Harga chesnut di Indonesia, lebih tinggi dibanding kacang mete (mede, jambu monyet, cashew tree, Anacardium occidentale). Di situs Bukalapak, harga kacang mete kupas sangrai kemasan 250 gram Rp 35.000 atau Rp 140.000 per kilogram. Di situs Tokopedia, harga kacang mete kupas sangrai kemasan 150 gram Rp 22.000 atau Rp 146.000 per kilogram. Rendahnya harga mete dibanding chesnut, karena mete lebih mudah dibudidayakan, dengan tingkat produktivitas lebih tinggi. Beda chesnut yang merupakan tumbuhan subtropis, mete yang berasal dari Brasil, merupakan tumbuhan tropis.

    Indonesia merupakan salah satu penghasil mete dunia. Komoditas ini banyak dibudidayakan di kawasan beragroklimat kering seperti Kabupaten Gunung Kidul (DIY), Wonogiri (Jateng); Sulawesi Selatan/Tenggara, dan NTT. Meski tercatat sebagai 10 negara penghasil mete utma dunia, posisi Indonesia di peringkat terbawah. Inilah 10 negara penghasil mete utama dunia tahun 2017 menurut FAO: Vietnam 863.060 (ton); India 745.000; Pantai Gading 711.000; Filipina 222.541; Tanzania 164.245; Guinea Bissau 155.953; Benin 151.836; Mozambiq 139.000; Brasil 133.465; Indonesia 131.685.

    Indonesia, sebenarnya juga punya chesnut asli bernama sarangan, berangan, dan saninten. Nama botaninya Castanopsis argentea. Sarangan (Castanopsis), memang beda genus dengan chesnut Eropa maupun Jepang (Castanea). Tetapi Castanopsis dan Castanea masih sama-sama famili Fagaceae. Hingga penampilan fisik maupun rasa sarangan dengan chesnut persis sama. Sarangan tumbuh di hutan dataran tinggi, mulai dari 800 meter dpl, sampai 1.500 meter dpl. Sama dengan Castanea, Castanopsis juga berupa pohon dengan kayu keras dan tajuk rindang. Di Kebun Raya Cibodas, juga tumbuh sarangan, yang buahnya sering tampak berjatuhan di jalan.

    Potensi Pengembangan

    Sarangan sebagai chesnut asli Indonesia, layak untuk dikembangkan secara komersial. Syaratnya, komoditas ini hanya bisa dibudidayakan di lahan dengan elevasi di atas 800 meter dpl. Kendala pengembangan tanaman keras di dataran tinggi, disebabkan oleh kebiasaan masyarakat yang lebih senang membudidayakan tanaman semusim, terutama sayuran. Kendala ini bisa diatasi dengan menanam sarangan sebagai peneduh jalan. Budidaya tanaman keras sebagai peneduh jalan, sudah dilakukan oleh PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII. Sayangnya, yang dibudidayakan bukan sarangan tetapi makadamia yang merupakan tumbuhan pendatang.

    Produktivitas dan kualitas makadamia di Indonesia, tentu tidak sebaik sarangan; yang merupakan tumbuhan asli. PTPN dan Perum Perhutani paling berpotensi untuk mengembangkan sarangan sebagai chesnut Indonesia, karena dua BUMN ini paling banyak memiliki lahan di dataran tinggi. PTPN XII yang selama ini sudah mengembangkan makadamia, bisa mencoba deversifikasi dengan sarangan. Perhutani yang sudah banyak mengelola lahannya sebagai obyek wisata, juga berpotensi untuk membudidayakan sarangan. Terlebih obyek wisata alam Telaga Sarangan di Kabupaten Magetan, Jawa Timur.

    Telaga (danau) di lereng timur Gunung Lawu ini, dinamakan Telaga Sarangan, karena di hutan sekitarnya banyak tumbuh pohon sarangan. Pemkab. Magetan dan Perum Perhutani sudah selayaknya melestarikan sarangan di lokasi yang sekarang menggunakan namanya. Selama ini sarangan sebagai chesnut Indonesia memang terlupakan bahkan terancam kelestariannya. Hingga pada tanggal 8 Agustus 2018, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya mengeluarkan Peraturan Menteri No P.92 tentang jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi. Sarangan termasuk salah satu dari tumbuhan yang dilindungi. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *