TREND KOMODITAS 2020
by indrihr • 19/05/2020 • Perkebunan, PERTANIAN • 0 Comments
Saya pedagang benih tanaman, khususnya buah-buahan dan tanaman keras lainnya. Komoditas apakah yang akan menjadi trend pada tahun 2020 nanti? Apakah avokad, kopi dan porang masih akan terus, atau digantikan komoditas lain? (Parti, Semarang).
Sdri. Parti, sebenarnya Anda pasti lebih tahu, komoditas yang selama ini sedang naik daun dan menjadi pembicaraan di masyarakat, termasuk di media sosial. Jadi pastinya Anda jauh lebih tahu dari saya, komoditas apa sajakah yang tahun 2020 akan dicari-cari benihnya, karena sedang naik daun. Tetapi kadang-kadang mereka yang berada di sebuah kegiatan, agak sulit untuk melihat secara obyektif (menganalisis) dari dalam, masa depan kegiatan tersebut. Itulah sebabnya perusahaan-perusahaan besar sering mendatangkan konsultan dari luar.
Memang benar seperti yang Anda sebutkan, selama beberapa tahun terakhir ini avokad dan kopi menjadi trend di masyarakat Indonesia. Kemudian tahun lalu, porang/iles-iles juga naik daun. Tiga komoditas ini tahun 2020 masih akan tetap eksis. Meskipun avokad bisa segera kelebihan pasokan dan harga akan jatuh, tetapi itu masih belum akan terjadi tahun 2020. Trend yang terjadi sekarang ini, konsumen avokad jadi korban. Buah masih muda tetapi sudah berukuran standar, dipanen dan dipasarkan, hingga busuk setelah dibeli.
Salah satu kelemahan avokad, karena buah ini hanya untuk dikonsumsi segar, tak bisa diawetkan dan diserap industri. Sirsak masih lebih unggul karena bisa diserap industri minuman. Pisang, nanas dan mangga bisa diawetkan menjadi selai, manisan dan keripik; juga diserap industri. Meskipun demikian, para produsen dan pedagang benih sangat gencar mempromosikan benih avokad dengan segala keunggulannya. Mereka tak pernah menghitung berapa kebutuhan benih nasional, dengan volume berapa akan mencapai titik jenuh.
Kopi agak lain, karena bukan untuk dikonsumsi segar. Di Indonesia dan Dunia, juga sudah ada lembaga yang mengatur produksi serta konsumsi. Brasil sebagai penghasil kopi utama dunia, sudah biasa membuang kelebihan produksi mereka ke laut. Mereka tidak rugi, sebab kopi itu sudah dibeli dari petani, dari uang yang ditabung saat harga kopi melambung naik. Pengendalian harga kopi di tingkat dunia sudah sangat rapi. Indonesia sebagai penghasil kopi nomor empat dunia, mau tidak mau harus mengikuti aturan itu di pasar internasional.
Di dalam negeri, daya serap kopi nasional masih sangat tinggi. Yang akan terpukul pasti industri kopi shaset, karena konsumen beralih ke kopi bubuk; baik di rumah tangga maupun kafe. Tahun 2011, konsumsi kopi kita masih di bawah 0,5 kilogram per kapita per tahun. Tahun 2018 sudah naik menjadi 1,8 kilogram per kapita per tahun, dan diproyeksikan akan terus naik. Dengan tingkat konsumsi 2 kilogram per kapita per tahun, Indonesia belum bisa masuk 20 besar peminum kopi dunia. Sebab Siprus, peringkat 20 peminum kopi terbesar dunia, sudah mencapai 4,8 kilogram per kapita per tahun.
Jawara peminum kopi dunia dipegang Finlandia dengan tingkat konsumsi 12 kilogram per kapita per tahun. Dengan gambaran seperti itu, komoditas kopi masih akan tetap menjadi trend pada tahun 2020. Bagaimana dengan porang? Beda dengan avokad yang asli Amerika Tengah dan Kopi yang dari Afrika Tropis; porang merupakan komoditas asli Indonesia. Dari dulu Jepang sudah memanfaatkan porang untuk substitusi umbi konyak, yang merupakan tanaman subtropis. Belakangan porang naik daun, karena RRT mengonsumsinya.
Ceritanya, dulu konyaku dan shirataki berbahan glukomanan dari serat umbi konjak, dulunya hanya dikonsumsi Bangsa Jepang. Kemudian Korea juga ikut doyan. Karena Jepang berubah dari negeri agraris menjadi jawara industri, lahan untuk budidaya konjak kurang. Mulailah RRT membudidayakannya untuk memasok kebutuhan Jepang. Dengan naiknya peringkat ekonomi RRT, Bangsa China juga mulai makan konyaku yang enak, mengenyangkan, tapi nol kalori. Karena umbi konjak kurang, porang menjadi naik daun.
Penduduk RRT sekarang 2,4 miliar jiwa; mau porang berapa pun masih akan terserap. Porang bukan komoditas bodong seperti cacing, jangkrik, aglaonema dan anthurium daun yang pernah heboh dan memiskinkan ribuan rakyat kita. Tetapi idealnya, petani jangan hanya menjual umbi; melainkan mengolahnya menjadi glukomanan. Sama dengan kopi, porang masih akan terus heboh pada tahun 2020. Tentu, pemalsuan akan marak. Umbi Amorphophallus apa pun akan disebut porang dan dijual ke mereka yang tak terlalu tahu komoditas ini.
Sdri. Parti, benih komoditas-komoditas biasa seperti durian, mangga, belimbing, jambu biji masih akan tetap mendatangkan uang. Yang perlu Anda waspadai gaharu. Komoditas ini pernah agak heboh sekitar tujuh tahun silam. Belakangan ini sepertinya akan kembali diperhatikan oleh para calon investor. Dengan catatan, Anda menyambung batang bawah gaharu, dengan entres dari batang gaharu yang telah ada gubalnya. Lalu nanti, setelah pohon ini umur enam tahun, diinokulasi dengan kapang yang dibiakkan dari gubal yang berasal dari pohon yang diambil entresnya. Selamat mencoba. # # #
Artikel pernah dimuat di Kontan Pagi
Foto F. Rahardi
