BUNGA WIJAYAKUSUMA
by indrihr • 14/07/2020 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Saya seorang pedagang tanaman hias. Setahu saya, wijayakusuma itu sejenis kaktus yang bunganya mekar pada tengah malam hingga dikeramatkan. Tetapi ada pelanggan saya mencari wijayakusuma, yang tanamannya mirip kol banda. Mana yang benar? (Warno, Jakarta).
Sdr. Warno, sebagian besar masyarakat memang menganggap bahwa wijayakusuma itu tanaman hias ratu malam, genus Epiphyllum; yang bunganya mekar pada malam hari. https://id.wikipedia.org/wiki/Wijayakusuma_(bunga). Bahkan seorang penulis di Kompasiana dan Intisari Online, dengan mantap menyebut bunga inilah yang dikeramatkan oleh raja-raja di Pulau Jawa https://www.kompasiana.com/warkasa46919/5b609ae95e13732056592e17/mitos-dan-fakta-tentang-bunga-wijayakusuma?page=all. http://intisari.grid.id/read/03106350/misteriusnya-bunga-wijaya-kusuma-hanya-mekar-semalam-dalam-setahun?page=all.
Penulis di Kompasiana itu, menyebutkan bahwa wijayakusuma Epiphyllum berasal dari Venezuela, Amerika Selatan. Tetapi ia juga menyebutkan bahwa bunga yang berasal dari Benua Amerika ini, dibawa oleh para pedagang China ke Majapahit; kemudian dikeramatkan oleh raja-raja Jawa. Padahal, zaman Majapahit itu berlangsung antara tahun 1293–1527. Columbus baru “menemukan” Benua Amerika tahun 1492. Itu pun yang ia ketemukan baru Kepulauan Bahama di Laut Karibia. Belum Benua Amerika.
Pelaut Portugal Vasco da Gama, baru sampai ke India lewat Tanjung Harapan, Afrika Selatan; tahun 1498. Pelaut Belanda Cornelis de Houtman, merupakan Bangsa Eropa pertama yang sampai ke Banten pada tahun 1596, untuk mencari rempah-rempah. Marcopolo petualang dari Venesia, Italia; memang sudah ke China antara 1276 dan 1291. Tetapi waktu itu Benua Amerika belum diketemukan. Jadi tulisan di Kompasiana yang menyebutkan bahwa bunga wijayakusuma dibawa oleh Bangsa China ke Majapahit, tidak didukung oleh fakta yang benar.
Tanaman hias Epiphyllum, diduga baru masuk ke Indonesia paling cepat abad 19. Beberapa spesies malahan baru didatangkan pada awal abad 20. Genus Epiphyllum terdiri dari 15 spesies, dan semua berasal dari benua Amerika. Yang paling banyak dibudidayakan sebagai tanaman hias Epiphyllum oxypetalum dan Epiphyllum anguliger. Dalam Bahasa Inggris, bunga wijayakusuma Epiphyllum ini disebut queen of the night dan Dutchman’s pipe cactus. Sebutan queen of the night inilah yang diterjemahkan ke Bahasa Indonesia menjadi ratu malam.
Tak jelas sejak kapan bunga ratu malam ini mendapat nama wijayakusuma, dan kemudian dikaitkan dengan wijayakusuma yang dikeramatkan oleh Kerajaan Mataram Islam. Diduga, sebutan wijayakusuma sudah ada sejak zaman Hindia Belanda, ketika bunga ini diintroduksi dari Benua Amerika. Adapun cerita tentang kekeramatan wijayakusuma (cangkok wijayakusuma), berasal dari epos Mahabharata. Dalam Mahabharata, disebutkan bahwa wijayakusuma merupakan pusaka milik Kresna, yang bisa menghidupkan orang mati.
Cerita tentang pusaka wijayakusuma, sudah ada di Pulau Jawa, sejak masuknya budaya Hindu. Yang dikeramatkan oleh Kerajaan Mataram Islam, bukan bunga wijayakusuma Epiphyllum; melainkan tanaman wijayakusuma grand devil’s-claws, Pisonia grandis. Tanaman hias ini masih satu genus dengan kol banda, the birdlime tree, catcher tree, Pisonia umbellifera; yang lebih umum ditanam di halaman rumah dan menjadi elemen taman. Yang membedakan, pucuk wijayakusuma hijau, pucuk kol banda kuning gading.
Wijayakusuma Pisonia grandis banyak tumbuh di pulau-pulau karang, dan di kawasan yang kering. Di Kabupaten Buleleng, Bali; wijayakusuma Pisonia grandis, disebut dag dag see; dan banyak ditanam sebagai pagar halaman. Daun dag dag see merupakan pakan babi. Di Pulau Lady Musgrave, lepas pantai Queensland, Australia; hutannya didominasi oleh wijayakusuma Pisonia grandis. Bunga wijayakusuma Pisonia grandis berukuran sangat kecil, berwarna hijau, tumbuh dalam malai; hingga tak semenarik wijayakusuma Epiphyllum.
Awalnya, wijayakusuma Pisonia grandis hanya dikeramatkan oleh masyarakat Banyumas. Wijayakusuma yang dikeramatkan ini tumbuh di Pulau Karang Bandung, di pantai timur Nusakambangan; dan dikaitkan dengan mitologi Kanjeng Ratu Kidul. Ketika Panembahan Senopati, pendiri Dinasti Mataram Islam akan melawan Pajang dan berharap bantuan dari Banyumas, tradisi memuja wijayakusuma Karang Bandung dan Kanjeng Ratu Kidul ini diadopsi. Tradisi penggunaan wijayakusuma ini hanya dilanjutkan oleh Kasunanan Surakarta. # # #
Artikel pernah dimuat di Kontan Pagi
Foto F. Rahardi
